Connect with us

Politik

Merilis Skenario Prabowo Jika Menang Pilpres, Arief Poyuono Minta Polisi Tangkap Allan Nairn

Published

on

Wawancara Waketum Gerindra Arief Poyuono dengan jurnalis investigasi independen asal Amerika Serikat, Allan Nairn disebuah tempat tertutup, 20 Maret 2019. (FOTO: Dok. NUSANTARANEWS.CO/AP/Istimewa)

Wawancara Waketum Gerindra Arief Poyuono dengan jurnalis investigasi independen asal Amerika Serikat, Allan Nairn disebuah tempat tertutup, 20 Maret 2019. (FOTO: Dok. NUSANTARANEWS.CO/AP/Istimewa)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Merilis Skenario Prabowo Jika Menang Pilpres, Arief Poyuono Minta Polisi Tangkap Allan Nairn.

Waketum Gerindra Arief Poyuono meminta dan mendesak aparat kepolisian untuk menangkap jurnalis investigasi independen asal Amerika Serikat, Allan Nairn yang saat ini sedang ada di Indonesia. Pasalnnya, Allan Nairn telah membuat hoaks di Indonesia.

“Kami meminta polisi untuk menangkap Allan Nairn yang saat ini ada di Indonesia. Karena sudah bikin hoax di Indonesia,” ungkap Arief melalui pesan elektroniknya kepada redaksi nusantaranews.co, Senin (15/4/2019).

Arief juga menunjukkan bukti transfer ke Rekening Allan Nairn di DBS, Bank Singapore. Uang transferan tersebut untuk kebutuhan membuat kampanye hitam dan fitnah terhadap Prabowo Subianto yang saat ini sebagai calon Presiden Indonesia nomor urut 02. Tidak hanya untuk tujuan membuat fitnah atas Prabowo, kata Arief, melainkan juga bertujuan untuk memfitnah TNI.

bukti transfer ke Rekening Allan Nairn di DBS bank Singapore. . (FOTO: NUSANTARANEWS.CO)

Bukti transfer ke rekening Allan Nairn di DBS Bank Singapore. . (FOTO: NUSANTARANEWS.CO)

“Ini dia bukti transfer ke rekening Allan Nairn di DBS Bank Singapore, untuk membuat kampanye hitam dan fitnah terhadap Prabowo dan TNI,” tutur Arief dengan dengan lampiran bukti transfer tersebut.

Arief menyampaikan, ketika dirinya wawancara sama Allan Nairn, Allan mengaku bahwa dirinya tidak suka dengan Prabowo Subianto, terlebih TNI.

“Waktu saya wawancara sama Allan Nairn, dia mengakui bahwa sangat tidak suka dengan Prabowo dan TNI,” ungkap Arief.

“Dan selalu berkata tentang laporan intelejen yang dia dapat. Padahal, laporan itu didapat dari agen BIO (Badan Intelejen Outsourching),” imbuh Arief.

Wawancara Waketum Gerindra Arief Poyuono dengan jurnalis investigasi independen asal Amerika Serikat, Allan Nairn disebuah tempat tertutup, 20 Maret 2019. (FOTO: Dok. NUSANTARANEWS.CO//Istimewa)

Wawancara Waketum Gerindra Arief Poyuono dengan jurnalis investigasi independen asal Amerika Serikat, Allan Nairn disebuah tempat tertutup, 20 Maret 2019. (FOTO: Dok. NUSANTARANEWS.CO//Istimewa)

Seperti diketahui, Allan Nairn, telah merilis laporan terbaru di laman blogspot miliknya, Senin (15/4/2019), pukul 12 siang waktu Indonesia Barat. Dalam laporan itu, Allan menyebut sejumlah skenario yang dirancang Prabowo jika menang dalam Pemilu 2019.

Laporan Allan berdasarkan notulensi rapat yang digelar di kediaman Prabowo di Jalan Kartanegara Nomor 4, Jakarta Selatan. Pertemuan ini digelar usai Prabowo bertemu Susilo Bambang Yudhoyono di Mega Kuningan, Jakarta Selatan.

Pertemuan dihadiri 11 orang dan berasal dari 8 jenderal purnawirawan dan tiga orang sipil, yang disebut Allan dengan mengutip laporan itu sebagai “lingkaran satu” Prabowo. Dalam pertemuan itu, muncul sejumlah kesepakatan.

Prabowo Subianto telah menyusun rencana untuk melakukan penangkapan massal, baik terhadap lawan-lawan politik maupun koalisinya, tulis Allan. Untuk itu, tulis laporan Allan seperti tertulis dalam dokumen yang ia kutip, rapat itu membuat tim untuk melakukan tugas-tugas khusus “mengadili sebanyak-banyaknya lawan politik,” dan “melumpuhkan” kelompok-kelompok Islamis yang menyokong kampanye Prabowo-Sandiaga setelah terpilih sebagai presiden.

Prabowo telah menyiapkan apa yang diistilahkan Allan sebagai “Malam Pisau Panjang” (istilah yang dipakai sejarawan untuk membersihkan sekutu Hitler di Nazi) untuk mengonsolidasikan kekuasaan sekaligus menyakinkan Washington.

Demi memperoleh kepercayaan itu, Prabowo memerintahkan Arief Poyuono, wakil ketua umum Gerindra, untuk menggagalkan gugatan hukum para pekerja Freeport terhadap perusahaan tersebut, tulis Allan.

Wawancara Waketum Gerindra Arief Poyuono dengan jurnalis investigasi independen asal Amerika Serikat, Allan Nairn disebuah tempat tertutup, 20 Maret 2019. (FOTO: Dok. NUSANTARANEWS.CO//Istimewa)

Wawancara Waketum Gerindra Arief Poyuono dengan jurnalis investigasi independen asal Amerika Serikat, Allan Nairn disebuah tempat tertutup, 20 Maret 2019. (FOTO: Dok. NUSANTARANEWS.CO//Istimewa)

Notulen rapat menyebut Poyuono sebagai salah satu dari tiga orang sipil yang hadir dalam rapat strategis di rumah Prabowo pada 21 Desember, menurut laporan itu.

Untuk mengamankan kebijakan dalam bidang hukum, Prabowo menunjuk sejumlah orang yang akan bertugas memilih Kapolri, Jaksa Agung, dan pimpinan KPK, tulis Allan seperti tertera dalam dokumen.

Tak hanya itu, Prabowo berencana membikin Gerindra semakin kuat, dengan menugaskan Badan Intelijen Negara melumpuhkan kelompok Islam radikal, yakni HTI, FPI, dan JAD, serta partai koalisi oposisi, serta berencana menjatuhkan Partai Demokrat dan PKS, tulis laporan tersebut.

Keinginan menjatuhkan Demokrat, tulis Allan, dilatari dendam politik masa lalu lantaran SBY terlibat memecat Prabowo dari Angkatan Darat setelah Soeharto jatuh. PKS dan Partai Demokrat, menurut Allan seperti dituliskan dokumen, akan digembosi melalui pelbagai kasus korupsi, baik kasus lama maupun baru, supaya Prabowo mengesankan diri sebagai presiden yang kuat dan tegas dalam menegakkan hukum.

Sementara kepentingan untuk menjatuhkan kelompok Islam radikal, tulis Allan, dengan “menangkap ulama-ulama radikal” demi memperlihatkan kepada Amerika Serikat bahwa Prabowo-Sandiaga tegas mengatasi radikalisme dan terorisme di Asia Tenggara.

Allan juga menyebut, Prabowo sudah bertemu dengan Dubes Amerika Serikat Joseph R. Donovan Jr untuk membicarakan perang dagang Cina-AS serta membahas komitmen Indonesia melawan terorisme ke depan.

Kepada Tirto, beberapa nama dalam laporan Allan ke kubu Prabowo tersebut memberikan komfirmasi klarifikasi terkait kebenaran tulisan Allan Nairn tersebut. Tiga nama yang disebut dalam dokumen yang dikutip yang ikut dalam pertemuan itu pun membantah.

“Apa ada artikel Allan Nairn yang terbukti benar? Saya tidak tahu persis tanggal 21 Desember ada rapat atau tidak, karena saya Natalan,” kata Johannes Surjo Prabowo kepada Tirto.

“Setahu saya, setiap pertemuan saya dengan Prabowo CS, entah itu rapat atau tidak, tidak pernah ada “notulen” rapat yang ditulis seperti itu,” imbuhnya, Senin (15/4).

Sementara Arief Poyouno dan Habiburrakhman berkata senada. “Itu semacam dokumen palsu,” tegas Arief.

Percakapan WhatsApp sumber bukti transfer ke Rekening Allan Nairn

Kepada nusantaranews.co, Arief juga memberikan contoh terkait kebohongan Allan Nairn yakni pada Pilkada DKI Jakarta beberapa waktu lalu. Waktu itu, kata Arief, Allan membuat isu kalai TNI ingin menkudeta presiden Joko Widodo, tetapi itu tidak benar sama sekali.

“Waktu pilkada DKI bikin isu kalau TNI mau kudeta Kangmas Joko Widodo.. nah buktinya kan hoax,” kata Arief. (mys/nn)

Editor: Achmad S.

Terpopuler