Connect with us

Hankam

Menhan: Terorisme dan Radikalisme Membuat Kita Saling Curiga

Published

on

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu saat sambutan dalam Seminar Internasional “Indonesia International Defense Science Seminar (IIDSS) 2019. (FOTO: Kemhan)

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu saat sambutan dalam Seminar Internasional “Indonesia International Defense Science Seminar (IIDSS) 2019. (FOTO: Kemhan)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menyampaikan terorisme dan radikalisme di Indonesia telah memuci perasaan saling curiga dan bahkan saling mumusuhi satu sama lain.

“Terorisme dan radikalisme telah membuat kita saling curiga dan saling memusuhi. Terorisme pun berpotensi merusak ikatan persaudaraan dan nilai-nilai toleransi yang sejatinya menjadi kultur ASEAN”, tutur Menhan saat membuka sekaligus menjadi keynote speaker pada Seminar Internasional “Indonesia International Defense Science Seminar (IIDSS) 2019.

Menurut Menhan, terorisme dan radikalisme merupakan ancaman nyata yang harus dihadapi secara bersama-sama di kawasan. Ancaman nyata lainnya, sebut Menhan ialah separatisme dan pemberontakan bersenjata, bencana alam dan lingkungan, pelanggaran wilayah perbatasan, perompakan dan pencurian sumber daya alam, wabah penyakit, perang siber dan intellijen serta peredaran dan penyalahgunaan narkoba.

Sementara ancaman yang belum nyata atau acanman tradisional, lanjut Ruamizard, masih sangat kecil kemungkinannya terjadi dan ini harus segera diselesaikan dengan membesarkan persamaan dan memperkecil perbedaan.

Menhan menyebut sesuai tema forum IIDSS 2019 ini yaitu Indonesia fokus dalam penanganan 3 ancaman keamanan bersama yaitu terorisme; ancaman bencana alam dan ancaman siber, yang tentunya harus diselesaikan melalui kerja sama dan melalui sebuah konsep yang produktif dan efektif dalam mengatasi ancaman ini.

“Indonesia selalu hadir dengan berbagai macam konsep solusi. Di dalam artistektur kawasan pertahanan dan keamanan kawasan. Indonesia telah menawarkan kerjasama pertukaran intelijen ‘Our Eyes’,” kata Ryamizard.

Indonesia, sambungnya, berterima kasih atas dukungan seluruh Anggota ASEAN dan ASEAN Plus, dimana kerjasama pertukaran informasi dan intelijen “Our Eyes” telah diadopsi secara aklamasi oleh ASEAN dan 8 negara Mitra ASEAN diantaranya Amerika Serikat, Rusia, China, Australia, India, Jepang dan Korsel pada pertemuan ADMM Plus di Singapura pada tahun 2018 lalu.

Baca Juga:  Perbaikan Infrastruktur Pertanian, Sandi: Kita Jangan Saling Menyalahkan

Sekadar diketahui, Seminar yang diselenggarakan oleh Universitas Pertahanan (Unhan) pada Senin (8/7/2019) di Jakarta itu mengambil tema “Enhancing Defense Cooperation to Dela with Terrorism, Cyber Threats and Natural Disaster” (Meningkatkan Kerja Sama Pertahanan dalam Menghadapi Ancman Terorisme, Dunia Siber dan Benca Alam).

Pembukaan Seminar IIDSS 2019 ditandai dengan pemukulan gong oleh Menhan didampingi Rektor Unhan Letjen TNI Dr. Tri Legionosuko. Sejumlah pejabat Kemhan, TNI dan pejabat perwakilan dari kementerian/lembaga serta perwakilan dari perguruan tinggi. Seminar juga mengundang Duta Besar dan Atase Pertahanan negara sahabat, pakar pertahanan dunia, pengamat militer, organisasi internasional dan lembaga think tank dari berbagai negara.

“Seminar IIDSS ini adalah forum pertemuan yang sangat penting untuk memperkuat komunikasi dan dialog interaktif yang produktif untuk secara bersama-sama mencari kesamaan pandangan dalam menghadapi persoalan dan tantangan bersama yang pada gilirannya dapat mengganggu stabilitas dan keamanan di kawasan,” hemat Menhan. (red/nn)

Editor: Achmad S.

Loading...

Terpopuler