Berita UtamaKolomMancanegaraOpiniTerbaru

MBS dan Kebangkitan Arab Saudi di Panggung Politik Regional

MBS dan kebangkitan Arab Saudi di panggung politk regional
MBS dan kebangkitan Arab Saudi di panggung politik regional/Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS)/Foto: yahoo.com.

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Putra Mahkota Mohammed bin Salman yang juga dikenal dengan MBS, yang kini secara de facto menguasai kerajaan mulai melakukan reformasi internal dan menata ulang struktur kekuasaan Kerajaan. Selain itu, MBS juga secara halus memutus dasar pemerintahan tradisional Wahabinya – reformasi sosial itu mulai terlihat dengan hak-hak perempuan, interaksi sosial, dan hiburan yang selama ini sangat dibatasi. MBS tampaknya mulai membangun struktur kekuasaan baru, konstituen politik, dan sumber legitimasinya.

Dalam kebijakan luar negerinya, MBS juga mulai menyadari bahwa Amerika Serikat (AS) tidak dapat diandalkan sebagai sekutu utama. Peristiwa Arab Spring 2011 yang melanda dunia Arab telah membuka mata kerajaan bahwa soal keamanan Riyadh tidak boleh bergantung pada AS.

MBS dan pembuat kebijakan kerajaan menyimpulkan bahwa Kerajaan (dan keluarga kerajaan) harus dapat mengamankan halaman belakangnya sendiri.

Baca Juga:  Kemenag Koba FC Berkolaborasi dengan Kemenag Aceh FC Kalahkan BSI Regional Aceh

Ketika Joe Biden terpilih menjadi presiden AS ke 46, dan menyatakan bahwa MBS terlibat dalam pembunuhan Jamal Khashoggi seorang jurnalis pada 2018 di Istambul – kerajaan melihat bahwa Washington bukanlah sekutu lagi. Sebab hal ini adalah kali kedua Gedung Putih secara tiba-tiba mengubah posisi kebijakan luar negerinya yang telah lama dipegangnya

Sehingga semakin meyakinkan para pembuat kebijakan di Riyadh bahwa kerajaan harus memposisikan ulang dirinya secara strategis di Timur Tengah dengan beralih dari jaminan keamanan lama ke negara-negara Teluk dan mendorong pemahaman baru dengan Iran.

Setelah selama setengah dekade belakangan Arab Saudi terlihat absen dalam semua isu strategis utama di Teluk, Timur Tengah, dan Afrika Utara – kini Riyadh mulai begeliat muncul kembali sebagai pemain regional terkemuka.

Lawatan MBS ke Mesir, Yordania, dan Turki pada bulan Juni lalu menunjukkan bahwa Arab Saudi kembali menjadi salah satu aktor paling berpengaruh di kawasan regional terutama dengan petro dolarnya. Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan yang kini sedang mengalami krisis ekonomi parah di dalam negerinya mulai mengakui perlunya meningkatkan hubungan bilateral kedua negara, dan sekaligus menjadi kemenangan diplomatik penting bagi Riyadh.

Baca Juga:  Darud Donya: "Fatwa Ulama, Haram Menghancurkan Makam Para Syuhada dan Ulama"

Point penting yang cukup mengejutkan adalah sikap berseberangan MBS ketika menerima kunjungan Presiden Joe Biden ke Riyadh beberapa waktu lalu terkait lonjakan harga energi baru-baru ini yang dipicu oleh operasi militer khusus Rusia di Ukraina. Sebuah pesan jelas bahwa Arab Saudi tidak boleh dijauhi, apalagi dimusuhi.

Tak dapat dipungkiri bahwa MBS telah membawa kerajaan bangkit kembali sebagai pemain regional utama yang disegani dan menegaskan dirinya adalah kekuatan Arab dan Sunni yang memposisikan diri sebagai lawan bicara sepadan dengan Iran di kawasan.

Selain itu, Riyadh juga berkepentingan mempengaruhi tatanan baru yang akan muncul di Mediterania Timur, khususnya masa depan Lebanon dan Irak, serta dalam menentukan langkah kembalinya Suriah ke panggung politik Arab. (Agus Setiawan)

Ikuti berita terkini dari Nusantaranews di Google News, klik di sini.

Related Posts

1 of 2