Lembaga Keagaamaan dan Kasus Pemerkosaan

Lembaga Keagaamaan dan Kasus Pemerkosaan
Lembaga Keagaamaan dan Kasus Pemerkosaan
Ketika tim investigasi harian lokal “The Boston Globe” membuka kasus pelecehan seksual di Gereja, kontan dunia perfilman mengangkatnya dalam “Spotlight” (2016) yang kemudian berhasil memenangkan academy award sebagai film drama terbaik. Film itu mengungkap skandal dan pelecehan seksual, yang dilakukan para pastor dan biarawan yang diangkat ke permukaan berkat perjuangan gigih para jurnalis dan wartawan lokal di Boston, Amerika Serikat.
Oleh: Chudori Sukra

Sebagaimana kasus pelecehan dan pemerkosaan terhadap 13 santriwati di lembaga pendidikan Madani Boarding School di Bandung, oleh guru dan pengasuhnya, film Spotlight juga mengambarkan ketatnya Gereja sebagai suatu institusi atau lembaga keagamaan. Untuk itu, perlu kehati-hatian para jurnalis untuk mengungkapnya, sebagaimana kedewasaan para jurnalis The Boston Globe dalam membentuk tim investigasi yang dipimpin sang editor, Marty Baron. Oleh tim investigasi itu, dimulailah penyelidikan terhadap kasus Pastor John Geoghan, sebagai tertuduh atas kasus pelecehan seksual terhadap 80 anak laki-laki.

Jalan cerita terus berkembang pada kasus-kasus lainnya, hingga terpaksa harus bergerilya membuka dokumen sensitif yang selama puluhan tahun dianggap tabu dan didiamkan oleh pejabat negara yang mengatasnamakan demokrasi itu. Dalam satu tahun penyelidikan, serta wawancara berdasarkan historical memory, tim Spotlight berhasil menyingkap fakta-fakta yang dengan sengaja ditutup oleh Vatikan sebagai institusi tertua, simbol organisasi keagamaan dengan hirarki yang sangat ketat, sebagaimana dunia pesantren di republik ini.

Keberanian jurnalis

Para jurnalis The Boston Globe patut diacungi jempol. Mereka berani melakukan terobosan, seakan melampaui dalil-dalil hukum yang bersifat dogmatisf belaka. Sikap tenggang rasa juga melampaui doktrin-doktrin agama formal, hingga mengacu langsung pada kualitas keimanan yang mendewasakan. Nilai-nilai humanitas yang menantang para jurnalis agar tidak mudah terjebak kepada sikap reaktif dalam menghadapi masalah. Bagaikan kerja kreatif dari tim Aiman Wicaksono maupun Wahyu Wiwoho di dunia pertelivisian kita.

Baca Juga:  Tembus Kisaran Rp 60 Ribu Per Kilo, DPRD Minta Pemprov Jatim Turunkan Harga Cabai

Profesi mulia dari para jurnalis mampu diangkat dalam Spotlight, seakan melampaui doa-doa kudus para ulama dan pastor, jika mereka – sebagai pemangku agama – tidak konsisten menjaga nilai-nilai ketakwaannya. Saya nyatakan “takwa” di sini, karena ia mengandung terminologi yang lintas religi. Dan Tuhan memandang semua manusia sama, serta memandang nilai-nilai kemanusiaan bukan berdasarkan ras, suku, agama, serta apa pekerjaan dan profesinya, tetapi justru dari kualitas ketakwaannya (Quran, al-Hujurat: 13).

Para wartawan The Boston Globe tak mau terjebak ke dunia politik praktis, tetapi mampu berpikir melampaui kapasitas kaum politisi. Mereka seakan lebih memahami arti pelayanan publik, rasa keadilan maupun hidup bermaslahat. Mereka juga memiliki validitas data yang disimpan sesuai etika jurnalistik. Di sisi lain, film Spotlight juga menampilkan sosok wartawan neoliberal (Amerika) yang terobsesi untuk membuka kedok kejahatan semua tokoh agama di Boston, bukan menunjuk pada oknum dan pelakunya. Namun kemudian, segera diperingatkan atasannya agar berhati-hati dalam melakukan peliputan. Karena pada hakikatnya, setiap individu menyimpan dokumen rahasia pribadi yang berkaitan dengan hal-hal negatif di masalalunya. “Kalau saya mau buka, saya pun bisa membongkar rahasia hidup Anda!” demikian tegas seorang jurnalis senior.

Hoaks dan kebenaran

Setiap agama yang berasas tradisi Hibrani, sangat menjunjung tinggi perjuangan para pencari kebenaran. Hal ini seakan berseberangan dengan perilaku seorang agamawan (kiai atau ulama) yang rajin membawa-bawa Al-Kitab, berkhotbah dan berceramah kesana kemari, namun tidak konsisten antara apa yang diucapkan dengan apa yang diperbuatnya. Mereka tak ubahnya keledai yang memanggul kitab suci di punggungnya, sibuk dengan eksistensi tapi tak pernah mengenai sasaran untuk mencapai esensi iman yang mendewasakan.

Baca Juga:  Hamas Tingkatkan Kemampuan Militernya untuk Hadapi Israel di Berbagai Front

Para wartawan Spotlight tak lain dari wartawan-wartawan independen yang berjiwa merdeka, serta fokus pada keahlian di bidangnya. Mereka menyadari, bahwa tugas jurnalistik adalah bagian dari amanat Tuhan, yang apabila dijaga dengan penuh rasa tanggung-jawab niscaya akan meningkatkan kualitas kemanusiaan.

“Kita akan fokus pada perintah Tuhan untuk menolong anak terlantar dan kaum miskin, kita tak mau terlibat dalam ghibah dan fitnah!” ujar Kardinal Bernard Law, seorang uskup agung Boston yang sehaluan dengan institusi Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam agama Islam di Indonesia.

Pernyataan tersebut nyaris membuat kalangan jurnalis patah arang. Tetapi, perkara mencari kebenaran dengan mengumbar fitnah (hoaks) adalah dua hal yang berbeda. Mereka meyakini, setelah menyaksikan puluhan korban yang menuntut hak-haknya, termasuk keluarga-keluarga korban yang terguncang secara psikologis. Bila hal ini didiamkan, lalu petuah-petuah agama formal (tekstual) dituruti, justru akan menimbulkan inersia di kalangan wartawan dunia, serta penegakan keadilan menjadi terkalahkan. Boleh-boleh saja seorang Ulama atau Kardinal berdalih dengan mengatasnamakan Tuhan, tetapi di mana letak konsistensi antara apa yang dianjurkan Tuhan dengan praksisnya dalam amal kehidupan.

Pada titik inilah, etika jurnalistik bersatu-padu dengan nilai-nilai humanitas yang membuat seorang jurnalis pejuang, dituntut agar bersikap arif dan bijaksana. Panggilan untuk menegakkan keadilan sudah melampaui formalitas agama yang seringkali bicara di wilayah teks-teks harfiyah melulu. Jurnalis yang dewasa harus berpijak pada fatwa-fatwa jurnalisme, bahwa kebenaran harus tetap ditegakkan, jika ia mau konsisten menolong manusia sebagai hamba-hamba Tuhan. Fatwa inilah yang membuat tim Spotlight patut menjadi contoh dan teladan, bahwa kesewenangan harus dinyatakan demi tegaknya nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan.***

Penulis: Chudori Sukra, Pengasuh Pondok Pesantren Riyadlul Fikar, Serang, Banten, menulis opini dan cerpen di berbagai media luring dan daring di antaranya Kompas, Republika, Analisa, Kabar Madura, nusantaranews.co, kawaca.com. simalaba.net, sastranesia dan lain-lain.

Baca Juga:  Maulid Nabi, Anies Minta Didoakan Bisa Menjalankan Amanat