Konspirasi Melawan Hukum Alam

Konspirasi Melawan Hukum Alam
Konspirasi Melawan Hukum Alam/Foto: ABC News
Apakah benar dugaan teori konspirasi bahwa Bankster (bangker gangster) dapat menentukan hajat hidup orang banyak? Apakah benar bahwa seluruh media massa berskala besar (termasuk di Indonesia), berada di bawah kendali mereka sejak tahun 1965? Benarkah mereka telah ikut-serta mengiring publik kepada ketakutan dan kepanikan global, yang jalan keluarnya hanya bisa diselamatkan oleh cara-cara mereka sendiri?
Oleh: Muhamad Pauji*

 

Kalau memang kepanikan global ini dengan sengaja diciptakan, sejauh mana kemampuan dan kekuatan otak manusia dalam membangun sistem yang layak disebut “juggernaut” ini. Memang juggernaut seakan bagus dan mentereng, bahkan dielu-elukan manusia modern dan pos-modern sebagai simbol kemegahan dan kemajuan peradaban duniawi. Akan tetapi, pada gilirannya ia dapat bergerak di luar kontrol, seakan-akan sulit dikendalikan (unstoppable) oleh sang penciptanya.

Biasanya juggernaut terjadi karena para penciptanya tidak mengoptimalkan fungsi nalar dan akal sehatnya secara manusiawi. Ia hanya menuruti kemauan ego dan hawa nafsu untuk mengejar target-target secara ambisius, tanpa punya kemampuan untuk mengukur risiko dengan sebaik-baiknya.

Dalam terminologi Islam, kita mengenal istilah “istidraj”, yakni hasrat duniawi yang menggebu-gebu sehingga menaikkan derajat seseorang atau sekelompok orang dalam waktu singkat. Namun kemudian, kesuksesan yang diraihnya itu tidak mendatangkan keberkahan dan ketenteraman jiwa. Selalu saja dirundung masalah dan gelisah melulu, padahal segala keinginan duniawi sudah tercapai, baik pangkat, titel, kedudukan, harta maupun kekuasaan. Kadang sang pemikul istidraj mengira bahwa apa-apa yang telah dicapainya adalah “karomah” padahal hanya semu, nisbi, dan fatamorgana belaka.

Di dunia sastra, kita sering mengamati alur cerita yang berakhir dengan suasana chaos, absurd atau “sad ending”, yakni akhir cerita yang menimbulkan malapateka mengenaskan yang dialami para tokohnya. Misalnya Yukio Mishima (Jepang) yang pernah menyuguhkan novel menarik berjudul “Kuil Kencana”, tentang perjalanan dinasti yang dibanggakan selama berabad-abad dalam tradisi bushido samurai. Tapi kemudian, istana kekaisaran yang megah itu, akhirnya luluh-lantak dan hancur-lebur oleh kelengahan manajemen internal yang ternyata korup, picik, kerdil dan keropos.

Kepanikan global saat ini, yang (konon) diagendakan telah berhasil menimbulkan kekacauan, depresi dan keputusasaan. Sesuai rumusannya, orang yang takut dan panik akan mudah dimanipulasi oleh pihak yang dari awal telah merencanakan agenda terselubung. Hal ini mengingatkan kita pada kisah menegangkan dalam film “Frankenstein” yang disutradarai Paul McGuigan (2015), seakan kita membayangkan awal penciptaan manusia sebagai khalifah yang ditentang oleh Iblis karena keangkuhan dan kesombongannya. Film itu diangkat dari novel Mary Shelley dengan judul yang sama, “Victor Frankenstein”, berkisah tentang Victor yang terobsesi keabadian hidup, lalu berambisi menghidupkan orang mati dalam percobaan laboratoriumnya. Namun kemudian, tanpa disadari oleh Victor sendiri, sang mayat berkembang sedemikian rupa menjadi monster raksasa yang akhirnya meneror penciptanya sendiri.

Baca Juga:  Tausiah Ramadhan: Perlunya Pelestarian Kearifan Lokal di Aceh

Terkait dengan itu, kita masih ingat kasak-kusuk yang diagendakan World Health Organization (WHO) ketika seorang sekjennya, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyeus, menekan negara-negara yang terpapar virus Corona (Covid-19) agar segera menetapkan status tanggap darurat atas pandemi global. Padahal, status tanggap darurat atas pandemi, hanya mungkin diterapkan jika tingkat kematian akibat infeksi telah mencapai angka duabelas persen.

Lalu, siapakah itu Dr. Tadros? Apakah dia sejenis manusia dari proyek rekayasa genetika, bersama para insinyur social engineers yang berseragam putih-putih di pusat laboratorium itu? Siapakah mereka yang menanam elektroda ke dalam otak-otak manusia, lalu mendeteksi segala pikirannya yang serba rahasia? Siapakah mereka yang mengobservasi sepasang pria-wanita yang bersetubuh, untuk dibuatkan statistiknya mengenai gerak dan getaran dua sejoli, sebagaimana kita mengobservasi dua ekor jangkrik yang sedang diadu?

Siapa lagi kalau bukan mereka, yang merancang gen-gen yang dimanipulasi sedemikian rupa, seperti halnya ikan-ikan duyung militer yang menjadi pilot-pilot Kamikaze dulu?

Kita juga masih ingat pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi yang disponsori World Economic Forum (19-25 September 2019) yang bertempat di jantung kota New York, Amerika Serikat. Mereka membahas tentang dampak pembangunan berkelanjutan, yang kemudian hasil pertemuan itu dimatangkan kembali di Danvos, Swiss pada Januari 2020 lalu. Pertemuan yang bertema “Rising to the Good ID Challenge” itu, membahas pernyataan yang dirilis PBB sebelumnya, bahwa sejak zaman penemuan mesin uap hingga revolusi mesin cetak, konon tidak ada yang menyamai dahsyatnya perubahan global dibanding era revolusi digital saat ini.

Penulis buku “Perasaan Orang Banten” telah menegaskan dalam artikelnya “Program Pemangkasan Populasi Manusia”, serta melansir pernyataan Sekjen PBB, bahwa hingga awal tahun 2030 nanti diperkirakan tidak kurang dari dua miliar manusia akan kehilangan pekerjaan di seluruh dunia. Setelah itu, tingkat kriminalitas, terorisme dan radikalisme akan menyusul jadi batu ancaman tak terhindarkan, yang membuat pihak aparat di seluruh dunia harus mengantisipasinya sejak dini.

Baca Juga:  Beri Ucapan Selamat; Recep Tayyip Erdoğan Ajak Trump Perkuat Hubungan Dengan Turki

Di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat sibuk membahas soal pelatihan ulang SDM pada pekerjaan-pekerjaan alternatif. Mereka mensupport gagasan segelintir orang kaya di muka bumi yang berperilaku aneh dan menggelikan, dengan mengusulkan program penjelajahan luar angkasa. Bahkan, merasa dirinya serba galau dan gelisah, tidak sedikit dari mereka yang bermimpi tinggal di planet luar, lantaran permukaan bumi dianggap sudah tidak layak huni.

Ancaman kepanikan akan nasib masadepan umat manusia yang tak keruan, membuat si dokter WHO, Tedros Adhanom kalang kabut dan kelimpungan setengah mati. Miring ke kiri salah ke kanan juga salah. Dan sudah sejak pertemuan September 2019 itu, dia mengumandangkan pentingnya penggunaan uang digital sebagai pengganti uang konvensional. Mata uang baru itu tentu dimaksudkan sebagai pengganti dollar yang sudah semakin ketar-ketir.

Walhasil, pertemuan yang didukung World Economic Forum itu sepakat untuk mengeluarkan pelantar identitas digital ke seluruh penjuru dunia. Untuk mempercepat program itu, maka harus dipercepatlah status tanggap darurat atas pandemi global, hingga pada gilirannya mampu memonopoli uang digital serta mengendalikan data pribadi orang perorang di seluruh penjuru dunia.

Presiden Jokowi sendiri, dengan segala kelebihannya mewakili rakyat jelata, seakan kalang-kabut dengan sikap menduanya sebagai penguasa Indonesia. Di satu sisi, ia bersikukuh membangun optimisme masyarakat, namun di sini lain – semoga bukan karena desakan mereka – ia sudah merasa nyaman duduk di sofa status quo, dengan menghembuskan stigma bahwa varian Delta yang ganas itu, menciptakan ketidakpastian global, hingga sulit diprediksi kapan penyakit Covid-19 akan berakhir.

Sekarang, lalu bagaimana? Bukankah artikel ini bermaksud menyelamatkan pembaca dari kegalauan dan kepanikan masal, tapi kok malah membikin-bikin kepanikan baru lagi?

Para pembaca yang budiman. Bangsa kita yang mayoritas muslim ini, tentu harus berpegang pada firman Allah yang paling utama, bahwa di setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Kita harus yakin pada pertolongan Allah, bahwa tak ada kekuatan apapun yang bisa menghancurkan diri kita, jika Allah tidak menghendaki kehancuran itu. Tidak ada yang bisa melancarkan agenda siapapun – baik jin dan manusia – jika Allah tidak menghendaki agenda itu terlaksana.

Baca Juga:  Perlu Otonomi Birokrasi Agar terlepas dari Intervensi Politik

Kita harus konsisten berdoa, berusaha secara optimal, lalu bertawakkal pada ketentuan dan ketetapan Allah. Tidak ada masalah bagi orang beriman. Musibah seburuk apapun, jika Allah mengangkat derajat kita lantaran musibah itu, kita semua akan terangkat derajatnya. Dan kita pun harus senantiasa bersyukur manakala mendapat kenikmatan dan kebahagiaan hidup.

Kita juga memiliki kekayaan khazanah dari warisan leluhur kita. Misalnya, harus hidup bergotong-royong, mangan ora mangan ngumpul, tepo seliro, ringan sama dijinjing berat sama dipikul. Semua itu bisa kita gunakan untuk bahu-membahu menyelamatkan kehidupan berbangsa dan bernegara kita.

Sekarang, lihatlah kondisi dunia saat ini dalam skala regional maupun global. Industri manufaktur sudah mematikan mesinnya, hingga kemudian laju ekonomi terancam terjun bebas ke titik nadir. Diskoneksi fisik akibat penjarakan sosial, pemutusan hubungan sosial antarmanusia, terutama karena moda transportasi yang terbatas. Saat ini, kita dipaksa masuk kembali ke desa yang tak lagi mengglobal. Meskipun masih bisa bermedsos tapi secara fisik, cara kita hidup terpental ke zaman merkantil.

Nilai mata uang yang anjlok, boleh jadi akan menjadikan barang hanya bisa ditukar dengan barang. Pasar liar perdagangan kian sulit ditanggulangi aparat-aparat negara. Kondisi ini, memaksa pemerintah agar tidak terlampau bergantung pada cadangan devisa yang pasti akan merosot tajam. Beberapa waktu lalu, ujug-ujug datang tawaran utang dari World Bank, yang katanya agar bangsa Indonesia mampu mengatasi pandemi yang kian memburuk.

Tetapi yakinlah, negeri arsipel yang notabene berpenduduk muslim terbesar ini, berpeluang maju ke garda depan sebagai tolok-ukur ketahanan sebuah bangsa, dalam menghadapi zaman baru yang ufuknya sudah terbit bersama pandemi ini. Sahabatku, yakinlah pada pertolongan dan kasih sayang Allah. Setiap kesulitan akan disertai dengan kemudahan. Ya, setiap kesulitan, pasti akan ada kemudahan.

Mari kita buktikan dengan segenap jiwa-raga, bahwa negeri gemah ripah loh jinawi ini dihidupi manusia-manusia pejuang dan pemberani. Kita senantiasa berpegang pada prinsip-prinsip orang beriman, dengan tidak mengeluh dan frustasi manakala dilanda kesulitan dan kesempitan. Dan kita pun tidak akan bersikap pongah dan sombong, manakala memperoleh kemudahan dan kenikmatan hidup. Amin. (*)

*Penulis: Muhamad Pauji, Pengamat sastra dan pegiat organisasi kepemudaan OI (Orang Indonesia), menulis cerpen dan esai sastra di berbagai harian lokal dan nasional.