Connect with us

Politik

Kiai Ma’ruf Amin: Kerajaan dan Republik Juga Islami

Published

on

Kiai Ma'ruf Amin: Kerajaan dan Republik Juga Islami

Kiai Ma’ruf Amin saat menghadiri Harlah PPP ke-46 di kantor DPP PPP, Jakarta, Minggu malam (6/1/2019). (FOTO: Istimewa/CG)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Calon wakil presiden (Cawapres) nomor urut 01 Kiai Ma’ruf Amin menyebut sistem pemerintahan yang islami tidak hanya khilafah, tetapi juga republik seperti di Indonesia.

“Republik juga islami. Ada Mesir, Republik Islam Pakistan, Turki, Indonesia,” ujar Ma’ruf saat memberikan tausiah kebangsaan dalam Harlah PPP ke-46 di kantor DPP PPP, Jakarta, Minggu malam (6/1/2019).

Kiai Ma’ruf menjelaskan, mengapa sistem pemerintahan republik yang diterapkan Indonesia tergolong islami karena telah disepakati oleh para ulama sejak dulu.

Menurut mantan Rais ‘Aam PBNU, pendiri bangsa yang di dalamnya juga termasuk para ulama, sepakat menerapkan sistem pemerintah republik. “Termasuk juga kerajaan. Ada Kerajaan Saudi Arabia. Itu juga disetujui ulama di Arab Saudi,” kata Ma’ruf.

Kiai Ma’ruf mengamini sistem khilafah memang Islami. Dia merujuk dari riwayat peradaban Dinasti Abassiyah dan Ustmaniyah yang menerapkan sistem khilafah di Timur Tengah dan sekitarnya.

Loading...

Akan tetapi, lanjutnya, sistem tersebut tidak bisa diterapkan di Indonesia. Ma’ruf menjelaskan bahwa para pendiri bangsa termasuk ulama di masa silam sepakat dengan sistem republik.

Kesepakatan yang telah terbangun itu tidak bisa diganggu gugat. Bukan hanya khilafah, sistem pemerintahan ala kerajaan pun tidak dapat diterapkan di Indonesia karena tidak sesuai dengan kesepakatan para ulama dan pendiri bangsa Indonesia.

“Kenapa khilafah ditolak di Indonesia. Saya bilang bukan ditolak, tapi tertolak karena menyalahi kesepakatan,” ujar Ma’ruf.

Kiai Ma’ruf meminta kepada masyarakat agar terus menjaga Indonesia dengan sistem republik dan bentuk negara kesatuan. Tentu karena itu merupakan hasil persetujuan para ulama dan pendiri bangsa. Dia juga berharap Indonesia tidak seperti Afganistan sebagai negara yang sangat kaya emas dan minyak tetapi konflik tidak berhenti hingga kini.

Baca Juga:  Dinilai tak etis, BPN Kritik Menhan Labuhkan Dukungan ke Capres 01

“Tapi sekarang menjadi negara miskin karena konfliknya tidak berhenti. Bom meledak setiap jam. Mereka muslim semua. Mazhabnya Hanafi semua. Tetapi karena egonya, fanatik kelompoknya, mereka tidak bisa bersatu,” kata Ma’ruf.

Pewarta: Roby Nirarta
Editor: M. Yahya Suprabana

Loading...

Terpopuler