Connect with us

Kolom

Kampanye Gagal Perdamaian Internasional ala Islam Moderat (?)

Published

on

Islam Moderat. (Ilustrasi)

Islam Moderat. (Ilustrasi)

Oleh: Ainul Mizan*

NUSANTARANEWS.CO – Pengkotakan Islam ke dalam Islam Moderat dan Islam Radikal senantiasa berlanjut. Politik belah bambu diterapkan. Yang satu diangkat tinggi, sedangkan yang lain diinjak. Islam Moderat diberikan label sebagai platform keber-Islaman yang ideal sesuai tuntutan jaman.

Sebuah opini dalam harian pan – Arab Arab Saudi, As Sharqul Awsat menyebutkan, “Wilayah Arab untuk waktu yang sangat lama memungkinkan suara – suara kaku merampas wacana keagamaan, dan kini waktunya untuk memperbaiki kesalahan tersebut”.

Opini tersebut diturunkan guna menyikapi kunjungan Paus Fransiscus ke Uni Emirat Arab dalam rangka perayaan Misa. Penyelenggara menyatakan umat Katholik dari sekitar 100 kewarganegaraan diharapkan bisa menghadiri Misa, bersama dengan sekitar 4000 Muslim, termasuk para pejabat pemerintah, seperti yang dilangsir oleh matamatapolitik.com, 06 Februari 2019.

Baca Juga:

Loading...

Bisa dilihat dengan gamblang upaya memframing dengan stereotip sebagai sebuah kesalahan adalah wacana keagamaan yang melarang seorang muslim menghadiri perayaan Misa tersebut. Sikap eksklusif dalam praktek keislaman dipandang sebagai suara kaku yang merampas wacana keagamaan. Kalau disebutkan sebagai sesuatu yang merampas wacana keagamaan dalam rentang waktu yang lama, tidak salah kalau saya asumsikan bahwa yang dimaksud adalah praktek keislaman di jaman keKhilafahan Islam dan kesultanannya.

Sedangkan Paus Francis dengan serius menggarap term Islam Moderat ini untuk melawan fundamentalisme Islam. Paus menyerukan adanya dialog antar agama untuk melawan fundamentalisme dan terorisme.

Pertanyaannya adalah apakah hasil dari kampanye massif Islam Moderat ini? Apakah dengan propaganda tersebut mampu menghentikan diskriminasi dan ketidakadilan atas kaum Muslimin di dunia? Bukankah pembantaian atas kaum muslimin di negeri–negeri mereka, seperti di Palestina, Suriah, Myanmar dan Xinjiang, masih terjadi hingga saat ini?

Mari sekarang kita melihat data – data keberlangsungan pembantaian kepada kaum Muslimin, yang menunjukkan mandulnya PBB dengan segala resolusinya.

Baca Juga:  Kabupaten Madiun Bertekad Jadi Wilayah Bebas Korupsi dan Birokrasi Bersih

Pertama, Kondisi Palestina di bawah cengkeraman Zionis Israel. Israel terus memborbardir kaum muslimin di Palestina. Bahkan arogansi Israel hingga pada puncak niat sesungguhnya, yakni pendirian Negara Israel Raya di atas puing – puing kehancuran Palestina. Kota Yerusalem diakuisisi menjadi ibukota Israel. Parahnya Trump mengaminkannya. Tentunya sikap politik Trump ini menyalahi solusi 2 negara PBB. Sejumlah resolusi PBB dilanggar oleh Israel atas restu Negara Paman Sam, di antaranya adalah resolusi 242 Nopember 1967, 252 Mei 1968, 478 Agustus 1980, dan resolusi 2334 Desember 2016.

Kedua, Kondisi Muslim Uighur yang menderita atas penindasan pemerintah China. Bahkan dengan tegas pemerintah China memberikan syarat kepada utusan PBB, yang mengunjungi kamp Uighur agar tidak mencampuri urusan dalam negeri China (cnnindonesia.com). Frase urusan dalam negeri China dalam hal ini adalah upaya China untuk memerangi terorisme. Hal demikian terungkap dari pernyataan Kedubes Tiongkok bahwa mereka sedang melakukan program de-radikalisasi dan anti terorisme (idntimes, 20 desember 2018). Artinya sentimen terhadap Islam begitu kuat tertanam pada pemerintah China. Mereka sangat kuatir dengan perkembangan Islam. Mereka tidak mau dibuat gentar untuk kedua kalinya oleh Islam. Sejarah sudah mencatat dengan baik tentang gentarnya pemerintah China berhadapan ekspedisi Jihad dari Panglima Qutaibah bin Muslim.

Ketiga, Kondisi kaum muslimin di Suriah yang dibantai oleh Rezim Basyar Assad dengan dukungan Rusia. Hak veto yang dimiliki Rusia digunakannya untuk menolak resolusi Dewan Keamanan PBB yang menetapkan kasus pembantaian di Suriah sebagai bencana kemanusiaan. Rusia menegaskan bahwa petugas kemanusiaan internasional hanya akan boleh masuk bila situasi keamanan memungkinkan (dw.com).

Ini adalah sebagian dari bukti – bukti omong kosong perdamaian internasional. Omong kosong propaganda Amerika Serikat sebagai Globe Cop. Di samping juga menunjukkan tidak berdayanya PBB di bawah tekanan hak veto. Mana itu seruan Islam Moderat yang menyerukan perdamaian manusia dengan beragam agama dan kepercayaan?

Jangan mengajari kaum muslimin hidup damai berdampingan dengan manusia lain yang berbeda agama, kepercayaan dan suku bangsanya. Tidak perlu mengajari kaum muslimin cara menjalankan agamanya. Yang seharusnya kalian ajari agar moderat, tidak melakukan diskriminasi, penjajahan dan eksploitasi besar – besaran kesejahteraan adalah bangsa – bangsa dan negara – negara imperilis rakus tersebut. Salah sasaran bila seruan kemoderatan itu ditujukan kepada Islam dan Kaum Muslimin.

Baca Juga:  Apel Siaga Pemilu 2019, Deklarasi Damai Pemilu 2019 Ditandatangani

Kesalahan Mendasar Islam Moderat

Kesalahan mendasar seruan–seruan Islam Moderat itu terletak pada dua hal berikut ini.

Pertama, Sikap Defensif Apologetik yang menggerogoti kaum muslimin, termasuk para intelektual dan ulamanya. Ketika tudingan – tudingan kekerasan yang dialamatkan kepada Islam, mereka tidak bisa mengelak. Apalagi diperkuat dengan bukti – bukti sepak terjang sebagian kelompok Islam seperti ISIS terhadap kemanusiaan. Padahal ISIS itu merupakan bentukan Amerika Serikat dan Israel, sebagaimana yang dijelaskan oleh Snowden (Portal-Islam.id, 27 Mei 2017). Akhirnya entry poin didapatkannya, yaitu merekonstruksi cara memahami teks – teks keagamaan. Maka dibuatlah term term seperti Islam Washithiyah sebagai Islam yang pertengahan. Islam yang mengedepankan kasih sayang dan toleransi, tidak kaku terhadap nilai – nilai dari luar. Islam yang bisa berdamai dengan kemajuan dunia barat. Yang selanjutnya Islam Wasithiyyah ini lebih disebut sebagai Islam Moderat.

Padahal Islam tidak pernah mempunyai masalah dalam hal toleransi dengan penganut agama dan kepercayaan yang lainnya. Memang betul bahwa Islam itu mempunyai pertentangan dengan kedua ideology yang lain yakni Kapitalisme – Sekulerisme dan Sosialisme – Komunisme. Antara Islam, Kapitalisme dan Komunisme, jelas mempunyai konsep nyata dalam mengatur kehidupan manusia di dunia. Oleh karena itu, Kapitalisme dan Komunisme telah menjadikan Islam sebagai common enemy atau musuh bersama. Ambisi eksploitasi besar – besaran dan penjajahan dari Kapitalisme dan Komunisme, tentunya akan dihadang oleh Islam. Jadi di sinilah letak persoalannya. Perang peradaban yang akan dibentuk oleh ketiga ideology tersebut. Mestinya manusia melek akan sifat kerakusan dari Kapitalisme dan Komunisme dan akibat mengerikan dari keduanya. Dunia saat ini mengalami kesengsaraan dan penjajahan di bawah kendali Kapitalisme. Di era tahun 1917 hingga 1991, Komunisme membelenggu kemanusiaan. Walhasil, harapan kesejahteraan hanyalah pada Ideology Islam yang sudah terbukti sekitar 13 abad memimpin manusia dalam ketinggian martabatnya dan kemajuan yang tidak pernah dapat dicapai oleh ideology dan sistem selainnya.

Baca Juga:  Rakyat Dinilai Sudah Tidak Percaya Dengan Omongan Agum Gumelar

Kedua, Diskursus eksklusif dan inklusifnya Islam. Kalangan yang menyerukan Islam Moderat secara massif mempropagandakan sifat inklusif Islam. Bahwa ajaran Islam itu menekankan sifat inklusif bagi umatnya. Sifat inklusif adalah sifat terbuka dan mengakui akan kebaikan nilai – nilai diluar ajaran Islam. Akhirnya tidak ada keberatan dengan konsep kenegaraan seperti Republik, Parlementer, Demokrasi, Feminisme dan lain sebagainya.

Sedangkan sifat eksklusif adalah sifat tertutup. Tidak bisa melihat kemajuan bangsa lain. Sifat eksklusif ini dinilai sebagai sebuah kejumudan dan kemunduran. Kalangan yang mempertahankan busana muslimah di luar rumah dengan jilbab dan kerudung dipandang sebagai orang kuno yang kembali ke jaman unta. Kalangan yang berusaha menjadikan kembalinya lagi sistem pemerintahan Islam yakni Khilafah, dikecam sebagai sebuah kemunduran berpikir, utopis dan khayalan. Akan tetapi belakangan ini, sesuatu yang utopis justru mereka takutkan akan kemunculannya. Ini kan aneh dan kerancuan berpikir yang akut.

Sebenarnya diskursus eksklusif dan inklusif ini tidak perlu terjadi. Dengan penalaran yang jernih, akankah didapatkan konstruksi cara berpikir yang benar yakni kapan Islam itu mengajarkan sikap eksklusif dan kapan Islam mengajarkan sikap eksklusif.

Seorang muslim harus bersikap eksklusif dalam hal nilai kehidupan, pedoman hidup dan peradaban. Seorang muslim hanya akan mengambil dari Islam cara dan panduan dalam mengatur politik, pemerintahan, ekonomi, sosial budaya, peradilan dan pertahanan keamanan. Adapun dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi, kaum muslimin dapat bersikap inklusif.

Dengan demikian Islam dengan proporsional mampu memberikan panduan yang lengkap dan menyeluruh dan mampu memberikan solusi bagi semua persoalan kemanusiaan. Kalau sudah demikian, tidak diperlukan lagi term – term asing seperti Islam Moderat, Islam Radikal Fundamental dan yang sejenisnya. Islam itu satu sebagai ajaran paripurna yang ketika dilaksanakan dalam kehidupan manusia baik dalam dimensi individual maupun komunal akan mengantarkan manusia ke dalam keadilan dan pembebasan dari segala bentuk penjajahan.

*Ainul Mizan, S.Pd., seorang Guru. Tinggal di Merjosari Kota Malang, Jawa Timur

Loading...

Terpopuler