Connect with us

Ekonomi

Jokowi Diminta Tak Pakai Lagi Menteri Keuangan Corong Kapitalis Pembuat Propaganda Resesi Ekonomi Global

Published

on

paket kebijakan ekonomi, kebijakan ekonomi, ekonomi global, ekonomi indonesia, ketidakpastian global, pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan ekonomi global, nusantaranews, nusantara, nusantara news, nusantaranewsco, perang dagang, kepercayaan investor asing, investasi langsung, defisit transaksi berjalan

Ilustrasi situasi global. (Foto: Istimewa)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Dunia disebut-sebut terancam mengalami resesi lantaran pertumbuhan ekonomi yang semakin melambat. IMF sendiri memproyeksi pertumbuhan ekonomi dunia pada 2019 sebesar 3,2 persen.

Sejumlah penyebab ekonomi dunia di ambang resesi ialah perang dagang, perang mata uang, krisis geopolitik Hongkong dan Brexit. Permasalahan-permasalahan tersebut dinilai memperkuat indikasi terjadinya resesi ekonomi global.

Namun, politisi Gerindra, Arief Poyuono justru berkata sebaliknya. Ia mengimbau masyarakat tidak panik menyikapi analisa akan terjadinya resesi ekonomi global. Poyuono menyebut isu tersebut hanya propaganda belaka.

“Tidak ada resesi ekonomi di dunia, jangan percaya dan tidak akan ekonomi Indonesia mengalami resesi ekonomi. Itu semua cuma propaganda saja,” kata Poyuono, Jakarta, Kamis (5/9/2019).

“Pendapat-pendapat ekonom dan ahli keuangan di pasar keuangan dunia dan di Indonesia, termasuk Menteri Keuangan itu cuma semacam agitasi propaganda saja,” tambah dia.

Loading...

Waketum DPP Gerindra ini menuturkan, data-data ekonomi dibuat hanya dengan mengunakan ilmu statistik semata. “Yang digunakan hanya asumsi-asumsi peristiwa saja dan mengunakan pendekatan probabilitas, yaitu bisa iya dan bisa tidak,” cetusnya.

Menurutnya, resesi ekonomi dunia yang akan berdampak krisis ekonomi Indonesia jika pelaku ekonomi dan pengambil kebijakan ekonomi di Indonesia model Sri Mulyani terpancing serta mempercayai dengan agitasi propaganda prediksi-prediksi ekonomi yang mengunakan data-data dengan sebuah asumsi asumsi yang dimatematikan dengan ilmu stastitik.

Begitu juga, lanjut Poyuono, dengan data-data laporan keuangan korporasi multinational yang dipublis penulisannya tidak ada bedanya dengan penulisan berita atau artikel di sebuah media surat kabar di mana ditulis dengan arah tujuan untuk kepentingan tertentu.

Sebab, katanya, laporan keuangan dan data-data ekonomi yang dibuat itu diharapkan memberikan pengaruh secara pisikologis terhadap para pelaku ekonomi dan pembuat kebijakan ekonomi di sebuah negara.

Baca Juga:  Presiden Donald Trump Tarik Pasukan AS dan Tempatkan Intelijen di Afghanistan

“Jika pelaku ekonomi dan pembuat kebijakan ekonomi negara justru berpegang pada alat propaganda tersebut justru membuat kepanikan di pasar keuangan dan pasar modal, dan ini sudah terjadi di Indonesia sehingga akibat pernyataan Sri Mulyani terjadi capital flight dan banyak investor mengagalkan investasinya untuk ditanamkan di Indonesia,” imbuh Poyuono.

“Jadi, Joko Widodo jangan lagi pakai Menteri Keuangan yang merupakan corong propaganda kepentingan kapitalis dunia,” tandasnya. (ach/sle)

Editor: Eriec Dieda

Loading...

Terpopuler