Connect with us

Cerpen

Intuisi, Sebuah Cerpen

Published

on

intuisi, sebuah cerpen, dimas ridho wahyu santoso, cerpen indonesia, cerpenis indonesia, nusantaranews

Intuisi, Sebuah Cerpen. (Painting by Leonid Afremov)

Intuisi, Sebuah Cerpen

Karya Dimas Ridho Wahyu Santoso

Pagi itu aku terbangun dalam pandangan setengah sadar, kejadian kemarin masih membayangi pikiranku, aku berharap hal itu tidak pernah terjadi. Kunang-kunang emas itu membuatku dapat melihat hal yang belum aku lakukan, sehingga aku harus melakukan hal bodoh dengan menyelamatkan anak itu dari sebuah mobil yang melaju kencang. Mungkin nyawaku akan menjadi sebuah taruhan ketika aku melakukan hal itu, sebagian kewarasanku mulai kabur dan aku dapat melihat jelas anak itu tergeletak di jalanan, setelah melihat pemandangan gila nan khayal ini aku pun memutuskan untuk menyelamatkan anak itu. Entah ini yang dinamakan intuisi atau indera keenam, jelas sekali aku melihat pemandangan kejadian yang akan terjadi sesaat sebelumnya, aku berharap ini tidak terjadi lagi.

Jam 8 nanti adalah waktu untuk aku kembali ke rutinitas kegiatan kampusku, sudah seminggu sejak kejadian itu dan aku tidak masuk kuliah. Teman-teman berdatangan menjenguk sambil menceritakan keberanianku saat itu kepada orang tuaku. Sebenarnya aku tidak merasa menjadi pahlawan, entah kenapa kunang-kunang emas itu membuat aku bisa melihat hal itu.

Pagi ini aku bertemu dengan sahabatku sekaligus saksi mata kejadian itu, Hardiyan namanya, pemuda bertubuh tinggi ini selalu terlihat gembira dalam setiap waktu kebersamaan kami, bahkan dia melebih-lebihkan aksiku menyelematkan anak itu. Hari ini kami berencana makan bersama dengan beberapa teman sekelasku, mereka ingin merayakan hari dimana aku kembali masuk kuliah, entah kenapa perjalanan menuju kantin terlihat berbeda, aku merasakan sebuah cahaya lewat di antara pepohonan, pikirku mungkin hanya sebuah imajinasi belaka.

Loading...

Detik demi detik berlalu aku dengan jelas melihat bayangan emas itu, Hardiyan yang dari tadi melihatku dengan wajah penuh tanda tanya itu akhirnya memutuskan untuk bertanya padaku, “San apa kamu melihat hal itu lagi?”, Aku mencoba untuk tidak menjawab pertanyaan Hardiyan dengan menggelengkan kepala tetapi dalam hitungan detik kunang-kunang emas itu melintas di depan mataku dan aku merasakan tubuh ini melayang menembus pandangan manusia, dalam pandangan sekejap ini aku melihat dengan samar, bahwa gas Elpiji yang di pasang oleh ibu kantin itu akan meledak dan semua yang ada di kantin itu akan terbakar, dalam kesamaran itu aku pun mencoba kembali ke keadaan semula, tangan Hardiyan menepuk pundakku dan aku tersadar, tanpa pikir panjang kembali aku berlari ke arah dapur dan melihat ibu Mikem sedang mencoba memasang tabung gas elpiji tersebut, dalam kepanikan aku langsung berlari menghampirinya dan menghentikan tindakan bu Mikem.

Dengan terheran-heran bu Mikem bertanya padaku, “Ada apa cah bagus kok di jupuk tabunge?, kaget aku”, aku pun melihat sekitar dan menemukan sumber dari ledakan yang kulihat tadi, benar ternyata pipa dari tabung gas itu bocor dan bu Mikem tidak menyadari hal tersebut. Melihat hal tersebut akupun langsung mencabut pipa itu dan menaruh tabung gas tersebut ke lantai, sontak bu Mikem menjerit melihat kebocoran pipa gas miliknya itu.
Seluruh pengunjung kantin berkumpul dan melihat aksiku tersebut, sebagian dari mereka berbisik bisik dan bertanya tanya, tapi sebagian yang lain bertepuk tangan dan memanggil namaku, suara Hardiyan menyeruak di antara teman-temanku, “San kau melakukannya lagi, pantaskah aku menyebutmu pahlawan?”, kekaguman di wajahnya terlihat sekali.

Ibu Mikem dengan masih shock mengumpulkan tenaga untuk berbicara, beliau dengan suara sedikit gemetar berkata kepada kami semua yang melihat kejadian itu, “Mas San ibu matur suwun banget, ibu nggak ngerti ada kebocoran, pokoke sampeyan pahlawan kantin iki…”, dengan tidak melanjutkan kata-katanya beliau langsung memelukku, aku hanya bisa tersenyum sambil bersyukur.

Hari ini kami mendapatkan traktiran makan gratis dari kantin bu Mikem, sebuah acara syukuran karena kejadian buruk tidak menimpa kantin legenda yang terkenal akan sotonya ini. Setelah kejadian luar biasa ini namaku sudah menyebar ke seluruh kampus sebagai pahlawan atas kejadian di kantin itu, setiap orang yang bertemu aku selalu memuji keberanianku saat menolong ibu Mikem, bahkan aksiku saat menolong anak kecil yang hampir tertabrak mobil itu sudah menyebar juga, mereka menyebutku memiliki indera keenam dan bisa melihat kejadian di masa depan.

Tiga hari dari kejadian itu telah berlalu, warna-warna kelabu seperti biasa menghiasi langit di kampusku ini. Mata kuliah hari ini adalah Kepaniteraan Bedah Mulut yang diampu oleh Prof Jan, beliau adalah guru besar dari spesialis dokter gigi, mata kuliahnya selalu di penuhi praktik-praktik menegangkan dan menarik perhatian kami mahasiswa tingkat lanjut ini, hari ini kami akan membedah gigi miring dan Prof Jan meminta dari kami untuk menjadi sukarelawan dalam praktik ini, seperti biasa aku duduk di belakang dan membuka catatanku untuk kembali menulis puisi sebagai hobi yang sebenarnya adalah passionku.

Hari ini Hardiyan maju sebagai sukarelawan, aku cukup tertarik karena sahabatku ini yang dipilih oleh Prof Jan, tangan dingin Prof Jan memang memukau kami dengan keterampilannya menyiapkan alat-alat bedah, sebuah pandangan berwarna emas muncul di belakang Prof Jan, aku mengira itu adalah lampu dari ruangan praktik kami yang meredup, tetapi pandangan mataku mulai meredup dan menembus pandangan manusia kembali, kunang-kunang emas kembali muncul di hadapan mataku dan kegelapan menyeruak membawaku melihat dimensi lain, keadaan ketika alat praktik Dental Unit Sinol yang biasa untuk praktik kami di pegang oleh Prof Jan itu mulai dimasukkan ke dalam mulut Hardiyan ini mengalami error dan membuat gusi sahabatku ini berdarah, rupanya alat itu tidak bisa dikendalikan, suaranya membuatku terpekik dan bangun dari alam bawah sadarku.

Baca Juga:  MenPUPR Sebut Rusun Berbasis TOD Ideal Bagi Para Pekerja MBR

Melihat pandangan gila ini, akupun maju ke depan dan menghentikan tangan Prof Jan yang memegang alat itu di depan mulut Hardiyan. Dengan terbata-bata karena ketakutan akupun mencoba mengatakan apa yang kulihat itu, ” maaf Prof, bukan maksud saya tidak sopan tapi apakah alat ini sudah di cek untuk layak digunakan praktik?”, Prof Jan masih melihatku dengan kecanggungan di wajahnya, dia menatapku dan berkata pelan, “sepertinya sudah, tadi Mas Avi yang mengecek alat ini, kamu tahu kan dia asisten dosen saya?”, akupun masih mencoba berargumen, “bolehkan kita cek bersama-sama Prof?”, “Boleh San kalau kamu memaksa”, dengan santai dia menjawab tantangan ku tersebut.

Kami mencoba mengecek Dental Unit Sinol dari tiap sudut dan belum menemukan kejanggalan, dalam hati aku merasa malu melihat hal ini, tetapi keraguanku tidak berlangsung lama ketika Hardiyan memanggil kami dan menemukan sebuah kabel yang mengalami korsleting di bagian ujung. Prof Jan terlihat kaget sekaligus kagum karena hal buruk bisa dicegah di kelas kami, beliau melihatku dengan pandangan penuh tanda tanya, mungkin beliau masih bertanya-tanya bagaimana aku tahu akan ada kejadian ini.

Jam sudah menunjukkan pukul 12.00 dan kelaspun di bubarkan, Prof Jan memanggilku ke kantor dosen untuk berbincang sehabis makan siang, waktu makan siang pun berlalu dan aku menuju kantor Prof Jan, terlihat perdebatan dari dalam kantornya, rupanya beliau sedang memarahi Mas Avi yang melakukan kesalahan ketika mengecek Dental Unit Sinol, perdebatan selama hampir 15 menit ini pun di akhiri dengan pemecatan Mas Avi sebagai asisten dosen, karena menurut Prof Jan ini merupakan kesalahan fatal yang bisa membuat celaka orang lain.

Mas Avi terlihat murka ketika meninggalkan ruangan kantor dosen, aku hanya bisa berdiri di samping pintu itu, “silahkan masuk San”, panggil Prof Jan dari dalam, waktu-waktu kami di penuhi dengan obrolan menarik tentang pendapat Prof Jan terhadap kemampuanku ini, di akhir perbincangan Prof Jan mengambil kesimpulan bahwa ini adalah intuisi yang merupakan bakat alamku.

Intuisi yang membawaku mampu menganalisa keadaan kedepan tanpa berfikir secara rasional dan membawaku ke alam bawah sadarku untuk melihat masa depan. Sepanjang perjalanan pulangku aku masih merasa penasaran dengan kemampuan intuisiku ini, di gerbang depan Hardiyan sudah menungguku, dia terlihat sangat kagum, mungkin karena aku sudah menyelamatkan nyawanya. Sore ini kami menghabiskan hari dengan ngobrol santai sambil menikmati secangkir kopi.

Keesokan harinya aku harus kembali dengan rutinitas seorang mahasiswa yaitu membaca buku di perpustakaan pusat kampus, waktu berlalu dengan begitu cepat, tanpa kusadari jam sudah menunjukkan pukul 16.00, aku pun segera memutuskan untuk meninggalkan perpustakaan, dalam perjalanan turun ke lantai dasar perpustakaan aku sedikit melihat kunang-kunang emas melintas di depan mataku, tapi aku tidak menyadari hal ini, tetapi pandangan mataku mulai kabur dan aku merasa aku kembali menembus pandangan manusia, aku melihat teman sekelas ku Mei sedang berada di dalam lift dalam keadaan tidak sadar, namun yang membuatku terkejut adalah laki-laki di sampingnya yang membawa pisau, aku mencoba melihat lebih jelas wajah laki-laki itu tetapi pandangan ku menjadi tidak jelas dan aku kembali ke keadaan semula.

Tanpa pikir panjang aku berlari menuju tangga darurat untuk mengejar lift yang naik ke lantai paling atas, sepanjang perjalanan aku bertemu dengan teman-temanku yang lain dan mengajak mereka menolong Mei, merekapun bergabung denganku untuk bersama-sama menuju lantai paling atas. Sesampainya di sana aku langsung mencari Mei, tetapi apa yang kulihat adalah Mei sedang di tolong oleh Mas Avi, aku langsung berlari mendekati mereka dan memegang leher Mas Avi, “apa yang kau lakukan terhadap sahabatku?”, teriakku sambil menahan emosi, semua mata memandangku dengan kebingungan, Mas Avi melepas tanganku dan menjawab teriakanku, “Bukankah matamu masih bisa melihat bahwa aku sedang menolong Mei?, kau pikir aku akan berdiam diri melihat Mei tidak sadarkan diri di dalam lift?”, Aku hanya bisa berdiam menatap mata mas Avi yang terlihat berang terhadapku.

Suasana berubah ketika satpam perpustakaan datang dan menanyai kami keadaan yang sebenarnya, mas Avi menjawab semua pertanyaan dan menjelaskan keadaan yang ia alami, sedang ketika aku di tanyai oleh satpam jawaban yang kuberikan hanyalah sebuah alibi yang tidak mengarah pada bukti apapun, orang-orang disekitarku mulai berbisik-bisik membicarakanku, mereka menyebutku pahlawan intuisi yang mulai tidak bisa di andalkan, seorang wanita yang tidak kukenal dengan suara kerasnya menyeruak dari antara gerombolan orang-orang itu, “bagaimana ini, intuisimu malah menuduh seorang asisten dosen, kau akan kena batunya”, suara-suara mulai berubah dari yang memuji menjadi mencela, dari yang menyebutku pahlawan sekarang mereka memanggilku pecundang, ya benar seorang pecundang yang terlalu mengandalkan intuisi yang tidak berfikir secara rasional dan hanya percaya pada kemampuan bodohku yang beberapa kali berhasil menyelamatkan orang-orang.

Baca Juga:  Pesan Khofifah Untuk Jamaah Haji: Katakan Indonesia Negara Damai

Sore itu menjadi kelabu ketika perasaan pilu bercampur dengan ucapan syukur ketika Mei sudah sadarkan diri, dia mengatakan bahwa dia tiba-tiba tak sadarkan diri di dalam lift, tapi dari matanya aku merasakan ada yang janggal, aku memutuskan meminta maaf pada mas Avi, pandangan kemenangan muncul dari dalam senyumnya yang membuatku merinding. Hardiyan menungguku di basement perpustakaan, dia mencoba menghiburku dan mengatakan bahwa aku tidak salah, aku pikir mungkin Hardiyan hanya masih merasa berterima kasih dengan pertolonganku kemarin.

Dia mencoba meyakinkanku dengan mengajakku ke ruang security untuk melihat hasil cctv, tetapi entah Malang nasibku CCTV di semua lift dan lantai empat ke atas sudah mati, padahal waktu belum menunjukkan untuk tutup, sebenarnya aku merasa janggal dengan hal ini tetapi rasa putus asa yang melanda jiwa dan pikiranku membuatku mau membuang memory mengerikan ini. Akhir pekan ini aku memutuskan untuk berada di rumah saja, di Minggu pagi ini Hardiyan sudah mengunjungiku untuk mengajakku berkunjung ke kost Meiria, beribu alasan sudah kubuat agar aku bisa menghindari ajakan sahabatku ini, tapi apa daya rasa malasku ini berubah ketika Hardiyan menceritakan bahwa Mas Avi dan Mei adalah sepasang kekasih, tetapi hubungan mereka tidak pernah terbongkar, entah darimana informasi ini dapat diketahui oleh Hardiyan tetapi ini membuatku mau untuk mengikuti ajakannya.

Tak beberapa saat sampailah kami di depan kost Mei, rupanya Mei sedang berada di kampus untuk mengikuti kegiatan dari UKM Teater yang sangat ia tekuni selama kuliah ini. Kami pun memutuskan untuk menyusul Mei ke Sekre tempat ia berlatih teater, cukup lama kami menunggu Mei latihan, waktu berputar cukup cepat sampai-sampai matahari sudah mau meninggalkan tempatnya, Mei pun sudah selesai dari latihannya, dia pun cukup terkejut ketika mengetahui bahwa aku dan Hardiyan sedang menunggunya, dia pun segera menemui kami, “hai San, hai Har, sudah lama ya menungguku? Maaf ya latihan hari ini cukup panjang, maklum hari libur sih”, sapa Mei, Hardiyan langsung tanpa basa-basi bertanya kepada Mei, “eh Mei gimana keadaanmu kemarin? apakah benar isu bahwa kamu adalah pacar dari mas Avi?”, Pertanyaan tanpa henti yang langsung ke inti permasalahan.

Mei hanya terdiam, dia mencoba menghilangkan raut wajah khawatir tersebut, tanpa menjawab satupun pertanyaan dari Hardiyan, ternyata Mei memilih untuk langsung berpamitan kepada kami, “maaf ya teman-teman aku langsung pulang, sudah sore nih”. Hardiyan masih mencoba memanggil Mei dari kejauhan, sebenarnya aku berfikir untuk tidak mengejar Mei, tapi Hardiyan memaksaku untuk naik ke sepeda motor, sebelum aku sempat mengangkat kakiku untuk membonceng Hardiyan sebuah bayangan emas kembali muncul dan kunang-kunang emas mengikuti di depan mataku, saat itu juga aku kembali merasakan pandangan yang menembus kesadaran manusia biasa, pandangan yang sama seperti sebelumnya, aku mencoba menutup mataku untuk menghindari apa yang kulihat, tapi aku tak bisa menahannya dan secara perlahan aku melihat bahwa bayangan hitam menyerang Mei dalam perjalanan pulangnya, aku mencoba memperjelas pandanganku dan melihat samar wajah dari mas Avi, aku mencoba untuk melihat kejadian selanjutnya, tetapi entah kenapa pandangan ini tiba-tiba berakhir dan aku kembali ke kondisi normal, Hardiyan menatapku dan mengharapkan aku melihat sesuatu.

Sebenarnya aku tidak mau mengatakan apa yang kulihat karena aku takut kejadian yang lalu berulang kembali, tetapi kata-kata Prof Jan di akhir perbincanganku lalu masih terekam jelas di kepalaku bahwa intuisi hanya muncul pada orang-orang yang percaya bahwa dirinya bisa mempercayai dirinya sendiri lebih dari siapapun.

Aku pun menceritakan hal ini kepada Hardiyan dan dia pun langsung bisa membaca keadaan, segera kami memacu motor untuk menyusul Mei, rute pulang Mei memang banyak tetapi feeling kami memilih sebuah jalan yang sedikit gelap karena jalanan itu hanya di terangi lampu lampu berbentuk lentera, aku teringat kata-kata Mei saat ia mengenalkan diri di kelas bahasa bahwa ia sangat menyukai berjalan di antara lampu lentera bersama orang yang ia sukai.

Entah kenapa aku berfikir inilah jalan pulang yang di tempuh oleh Mei, kami pun memutuskan untuk menaruh motor kami di seberang jalan dan mengikuti Mei dengan berjalan kaki, kebun bunga milik fakultas pertanian dan gedung percetakan kampus membuat suasana cukup sepi, sebuah bayangan muncul dari arah gedung percetakan, seorang laki-laki memegang pisau mengarah menuju Mei, Hardiyan mau berteriak tetapi dengan sigap aku menghentikan perbuatannya, aku memutuskan untuk menunggu apa yang akan terjadi, kupikir lebih baik jika aku merekam kejadian ini sebagai sebuah bukti, terjadi perbincangan sengit di antara mereka, sampai pada akhirnya Mei menangis dan Mas Avi mengeluarkan pisaunya dan mengarahkan ke leher Mei, tanpa pikir panjang aku menyerahkan hp yang kugunakan untuk merekam kepada Hardiyan dan berlari menuju arah Mei.

Sebenarnya aku merasa bodoh ketika memutuskan untuk menunjukan diri tapi aku mengurungkan semua pikiran pecundangku dan langsung menjauhkan Mei dari mas Avi, “Dasar sialan, kenapa anak ini muncul lagi, pahlawan kesiangan ya”, ejek mas Avi sambil memainkan pisau di tangannya, aku tetap mencoba menahan emosiku sambil berkata dengan yakin, “semua yang kau lakukan hari ini sudah kurekam”, raut wajah Mas Avi berubah berang, dengan cepat ia mencoba menyerangku, mungkin latihan karateku dahulu bisa membantuku untuk melindungi diri tetapi musuhku ini menggunakan pisau, sebuah bayangan emas muncul samar kembali aku dapat melihat semua gerakan yang akan di lakukan oleh Mas Avi, serangan babi buta itupun bisa kuhindari, entah mengapa keberanian yang jarang muncul pada diriku ini terkumpul dan aku mulai membalas serangan mas Avi, sebuah tendangan sabit membuat pisau yang di pegang oleh Mas Avi dapat terlempar dari genggamannya, ia mencoba mengambil kembali pisaunya yang terjatuh, saat itupun Hardiyan muncul dan menendang wajah Mas Avi yang sedang mencoba mengambil pisaunya, dalam kondisi menahan sakit akupun dapat mengunci pergerakan dari mas Avi dan ia pun tidak bisa bergerak lagi.

Baca Juga:  Cara Memotret Layaknya Seorang Pro dengan 5 Tips Mobile Photography

Akhirnya suara mobil polisi dan keamanan kampus yang dihubungi oleh Hardiyan datang, cukup susah menahan mas Avi yang mencoba untuk melepaskan kuncianku dari lehernya. Waktu berlalu dengan penangkapan mas Avi, kami pun bergegas ke kantor polisi, saat interogasipun di mulai, ternyata jawaban mulai terkuak, alasan kenapa mas Avi menyerang Mei hari ini berhubungan dengan kesalahannya dalam mengecek alat praktik kami di kelas Prof Jan, tepat malam sebelum hari itu mas Avi dan Mei bertengkar, Mei memutuskan untuk menyudahi hubungannya dengan mas Avi karena orang tua Mei sudah menyiapkan calon yang cocok yang lebih mapan, sebenarnya Mei meminta waktu untuk berunding dengan orang tuanya, tetapi mas Avi terlanjur marah dan lepas kontrol sehingga paginya ia tidak konsentrasi ketika mengecek alat praktik tersebut, hal itu membuat ia kehilangan pekerjaannya sebagai asisten dosen, dan tanpa sadar ia dipenuhi dendam.

Ia mencoba menyerang Mei sewaktu tahu bahwa Mei sedang sendirian di dalam lift, tapi karena tahu aku datang ia berpura-pura menolong Mei yang tidak sadar. Usaha mas Avi tidak berhenti di situ malam ini ia berusaha untuk mengajak Mei bunuh diri bersama, satu kata yang cukup menyedihkan kudengar bahwa jika ia tidak bisa memiliki Mei di dunia setidaknya ijinkan kami mati bersama-sama.

Malam itu aku merasakan bahwa inilah cinta yang melanggar batas-batas perasaan, ketika cinta bukan lagi semurni rasa cinta Adam terhadap Hawa, cinta yang hanya mementingkan diri sendiri bukanlah sebuah perasaan yang baik, karena yang aku tahu cinta adalah pesan dari pencipta agar manusia mengenal kebahagiaan bukannya kebencian, mungkin manusia kerap salah menilai arti cinta itu.

Mei menangis saat ini, ia tidak ingin melihat mas Avi dipenjara, tetapi inilah keputusan yang mas Avi harus terima dari perbuatannya, aku berharap suatu saat mereka dapat berjalan dengan bergandengan tangan di antara lampu lentera yang menyinari langkah kaki mereka. Malam ini aku melihat kunang-kunang emas kembali di depan kantor polisi, kupikir aku akan melihat masa depan lagi, tetapi entah kenapa kunang-kunang ini membuatku menangis, dahulu aku adalah manusia yang tidak pernah percaya akan diriku sendiri, merasa lemah dan jauh akan kepercayaan diri, mungkin karena mereka aku dapat menemukan kepercayaan diri ini, Tuhan membuat berbagai cara agar aku mau melangkah dari zona nyaman ku, supaya aku melihat dunia yang Ia ciptakan dengan bijaksana, melihat bahwa tubuh ini adalah sebuah titipan yang Ia buat untukku dan aku patut bersyukur bukannya merasa rendah.

Sudah sebulan dari terakhir kalinya aku melihat kunang-kunang emas itu, sedikit rasa rindu ketika bisa melihat hal yang akan terjadi. Hari ini aku menyelesaikan puisi yang dari dulu aku buat, sebenarnya tidak layak untuk dilihat orang lain, tetapi hari ini Hardiyan ingin membaca akhir dari perjuanganku menulis yang menurutnya aku lebih bakat di hal ini dari pada dunia kedokteran.

Saat ketika Hardiyan mengajakku ke taman komplek sebenarnya adalah pertanda ia akan membuatku malu, memang benar dengan suara lantang ia membacakan puisiku.

Intuisi

Inilah cerita yang aku alami
Narasi kehidupan yang aku jalani
Tuhan titipkan kepada hambanya ini
Untuk sebuah kebenaran yang sejati
Indahnya berpacu dengan waktuNya
Saat Ia mengajakku melihat pesanNya
Itulah saat aku bersamaNya
Intuisi
Aku kira ini sebuah kepedihan
Aku kira ini sebuah kesulitan
Tetapi ini sebuah titipan
Yang membawaku kepada masa depan
Tantangan, Pengorbanan, Perjalanan
Semuanya menawan

Hardiyan mengakhiri pembacaan puisi ini dengan tertawa, ia merasa aku begitu melankolis sepertinya. Hari ini aku merasa bahwa inilah jalan yang Tuhan titipkan kepadaku, entah sesaat aku melihat di balik pepohonan kunang-kunang emas itu melintas kembali, sebuah tantangan lagi?, Mungkin. (END)

 

 

Dimas Ridho Wahyu Santoso, akrab dipanggil dengan Dimas, lahir pada tahun dimana krisis moneter menjadi-jadi, 8 Januari 1997. Sedang menempuh pendidikan di S1 Pendidikan Keguruan dalam bidang ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Sebelas Maret Surakarta. Menjadi bagian dari HMP HIMPROBSI. No HP yang bisa dihubungi 085642965340. Alamat rumah yaitu Perum Paloma, Munggur Kidul RT 01/RW 13, Bejen, Karanganyar. No Rekening BNI 0341643295 a/n Dimas Ridho Wahyu. Merupa di instagram dengan akun @dimasridhows.

Loading...

Terpopuler