Ekonomi

Habiskan 7,2 Triliun Tol Becakayu Diresmikan, AEPI: Ini Skandal Sekte Pemburu Harta

NusantaraNews.CO, Jakarta – Presiden RI Joko Widodo telah meresmikan Tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu), Jumat (3/11/2017) kemarin. Ikut hadir dalam peresmian tol Becakayu tersebut sejumlah pejabat negara.

Para pejabat yang hadir antara lain Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini Soemarno, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar, serta sejumlah pimpinan PT Waskita Karya.

Pada acara tersebut, Jokowi menandatangani prasasti peresmian dan menekan tombol sirene tanda proyek diresmikan.

Seksi I Tol Becakayu yang dirancang sepanjang 21,04 kilometer menghubungkan Casablanca-Jakasampurna memiliki panjang 11 kilometer. Sementara seksi II yang menghubungkan wilayah Jakasampurna-Duren Jaya didesain 10,04 kilometer.

Tol Becakayu yang siap dioperasikan adalah seksi 1B yang menghubungkan Cipinang Melayu-Pangkalan Jati dan seksi 1C yang menghubungkan Pangkalan Jati-Jakasampurna. Sementara untuk seksi 1A dan seksi 2 diperkirakan rampung konstruksinya pada pertengahan tahun 2018.

Baca Juga:  Madura Digerojok Dana Rp 8,3 Triliun, Zaenal Abidin: Semoga Kemiskinan Bisa Diatasi

Pengamat Ekonomi dari AEPI Salamuddin Daeng mengungkapkan, biaya pembamgunan tol becakkayu ini sebesar 7,2 triliun, panjang 21 km, harga per meter Rp. 350 juta. “Harga tol termahal di seluruh dunia,” cetus Daeng melalui pesan singkatnya, Sabtu, 4 November 2017.

Menurut Daeng, BUMN pembuat tol adalah pemakan pajak rakyat yang paling rakus. Caranya dengan penyertaan modal negara (PMN).

Dana dari APBN, lanjutnya, disebut sebagai penerimaan (revenue) perusahaan. Lalu dilanjutkan dengan kontrak pembangunan jalan tol dengan pemerintah. Lalu dibuatlah tol dengan harga super mahal. Paling mahal sedunia, tanpa amdal, tanpa studi kelayakan, yang penting buat. “Toh uang rakyat yang dipakai,” ujarnya.

“Setelah itu itung aset sendiri, buat buat sendiri, suka suka sendiri. Aset digemukkan supaya bisa tumpuk utang. Setelah itu dirancang divestasi aset asetnya atau menjual saham sahamnya pada anak perusahaan,” imbuh Daeng.

Supaya bisa jadi bancakan, kata dia, maka diskenariokan harga sahamnya jatuh. “Lalu jalan tol dijual murah kepada para taipan. Permainan murahan,” tegasnya.

Baca Juga:  Dari PKL ke Food Colony, Bupati Pamekasan: Tempat Ini Sebagai Tempat Kesejahteraan

Itulah mengapa, kata dia, utang BUMN pembuat jalan tol yang mendapat PMN melambung setinggi langit. Tapi Jalan tol satu persatu dikuasai taipan dan asing. “Ini skandal murahan sekte pemburu harta,” tandasnya.

Pewarta/Editor: Ach. Sulaiman

Related Posts

1 of 71