Connect with us

Puisi

Genesis Waktu, Pesan Kepada Maria – Puisi Wahyu Gandi G

Published

on

Pesan kepada Maria

Apakah yang kau jahit itu barusan?
Kepada siapa benang-benang ingatan itu
kau peroleh dan jahit di bilik jantung anakmu
yang terluka atas keselamatan di pangkuan salib

Aku baru saja menyaksikan banyak teriakan
Tuhan dan doa-doa keselamatan spontan
Seorang anak bermimpi kembali ke surga
tanpa sehelai benang yang Maria jahitkan

Ingatan-ingatan hari itu kau rajut,
Ingkar kepada salib dan sukar kepada doa
Ia menusuk puing jiwa yang menangis
Ingin cepat-cepat bercinta di surga

(2016)

Genesis Waktu

Pernah kau bayangkan satu kekosongan besar?
Tak ada langit yang menderu,
Juga tanah yang terus diinjak-injak.
Ketiadaan bermula saat kita tak pernah bertemu
Pernah kubayangkan dengan sekejap
Tuhan tak pernah memutuskan membuat
dunia beserta segala macam kekosongannya,
tapi hanya diisi oleh manusia dan kepala-kepala batu
Juga udara yang tak pernah kau tatap
Adalah perasaan cinta yang sulit kau sadari.
Jika kau bernafas, maka aku lahir dihembusan
setelah kau menikmati hidupmu.
Pernahkah kau bermimpi tentang pasang
Jika ia surut, maka di seberang sana akan bedai.
Kapal-kapal nelayan ditelan dan mejadi karang.
Semuanya berakhir tanpa kematian dan penyesalan.
Tuhan bermula tak pernah sengaja,
Ia baru sadar ketika manusia berdoa menghadap langit,
Seolah Tuhan jauh, padahal katamu pernah
Ia bersemayam di setiap nafas yang kau buang
Seperti permen yang kehabisan rasa.

(2016)

Awan Luka

Langit dan matahari pengganti kota dan jalan
Sekejap mata, angin membangunkan letih rambut.
Harapan terjal dilalui tanpa sedikit pun bermimpi,
memetik awan, dan membawanya ke tanah
agar kau tak pernah bodoh bertanya, hujan dari mana,
agar hujan tak selamanya berasal dari atas
meyakinkan hatimu yang gersang
bahwa di atas sana, ada kehilangan yang terus terulang.
Gunung dan langit, bertemu karena ia tak pernah ingkar
Kepada awan yang sebentar lagi menjadi menantu
Bagi tanah dan pohon-pohon, serta matamu yang kering
saat kita berjalan, mendaki tidur dan puncak mimpi.
Langit dan matahari menyuruh kami bersatu, tapi sekali lagi
Angin puncak membangunkan keragu-raguan yang terkulai,
Di antara bayang-bayang bertemu dan bersemu.

Baca Juga:  PKS Tak Setuju Jokowi Lawan Kotak Kosong

(2016)

Wahyu Gandi G/Istimewa

Wahyu Gandi G/Istimewa

 

Wahyu Gandi G, mahasiswa kelahiran April 1996. Sementara belajar di jurusan Sastra UNM Makassar. Menulis Puisi dan Prosa, serta pembaca buku non fiksi yang sedikit malas. Karya-karyanya (Telapak Tangan & Jatuh Cinta 2015) dapat dibaca di beberapa tempat—dan media Indonesia. Dapat disapa lewat surel wahyugandi8@gmail.com atau @sajaklalu

Loading...

Terpopuler