Connect with us

Politik

Gara-gara Dekat Dengan Paslon 02, Sejumlah Pemerhati Filsafat Protes Rocky Gerung

Published

on

Rocky Gerung Saat Berjabat Tangan Dengan Prabowo Subianto (Foto Dok. IG Prabowo)

Rocky Gerung Saat Berjabat Tangan Dengan Prabowo Subianto (Foto Dok. IG Prabowo)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Lingkar Studi Filsafat Nahdliyin (LSFN) dan Solidaritas Pemerhati Filsafat menyebut retorika Rocky Gerung tak terlepas dari kepentingan politik lantaran kerap berbicara di hadapan massa pasangan capres-cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dalam berbagai kesempatan. Menurut mereka sikap kritis dan kedalaman, pencerahan serta kebijaksanaan Rocky Gerung tampil seolah-olah mewakili kebenaran akal sehat di tengah politik praktis yang dikuasai oleh fanatisme, kultus tokoh, hoaks, dan politisasi kebencian.

“Rilis ini dibuat tanpa pretensi mendukung kubu siapapun dalam pertarungan Pilpres 2019 bertujuan membuka kembali percakapan kritis mengenai situasi intelektualisme kita hari ini dan kepentingan yang mengitarinya,” kata mereka dalam sebuah pernyataan seperti dikutip redaksi, Jakarta, Minggu (3/2/2019).

Para pemerhati filsafat tersebut tertera sejumlah nama antara lain Muhammad Al-Fayyadl (LSFN, Alumnus Filsafat Université de Paris-VIII), Ajeng Syilva (Mahasiswa Pasca-Sarjana UIN Bandung, LSFN), Dedi Sahara (LSFN), Abdul Hannan (LSFN), Mohammad Hakim MB (LSFN & Redaktur Laboratorium Filsafat Hikmah UIN Sunan Kalijaga), Muhamad Maksugi (LSFN), RH Authonul Muther (LSF Discourse), Faisal Ahmad (LSFN), Firmansyah Sundana (LSF Discourse), Ahmad Thariq (LSFN, mahasiswa S1 UPI Bandung), Reza Fauzi Nazar (LSFN), Raja Cahaya (Komunitas Sophia, Lapar Institute dan LSFN), Dika Sri Pandanari (LSF Discourse), Fahmy Farid Purnama (LSFN), Siti Mariam Ulfah (LSFN), Firdausya Lana (LSF Discourse), Lukman Hakim Rohim (LSFN), Kiki Fijay (Filsafat UIN Bandung, Komunitas Sophia) dan Aditia Monesvova.

“Rocky Gerung mempolitisasi latar belakang dan reputasinya sebagai dosen filsafat di sebuah kampus negeri ternama di Indonesia dengan memberi kesan kepada publik bahwa omongannya adalah akademis, cendekia dan filosofis, netral kepentingan politis. Padahal tidak demikian adanya,” kata kelompok tersebut.

Baca Juga:  Tahun 2018 Bank Jatim Raup Laba Bersih Sebesar Rp 1.26 Triliun

Lebih lanjut, retorika Rocky Gerung dinilai lontaran-lontaran gagasan yang tidak sistematis dan kabur, jauh dari karakter pemikiran seorang filsuf.

Loading...

“Lontaran-lontaran gagasannya di bawah judul akal sehat belum teruji secara filosofis, namun gagasan mentahan ini sudah telanjur menjadi konsumsi publik dan masyarakat luas yang belum terbiasa dengan gaya dan alur berpikir filsafat, sehingga cenderung menghipnotis dan punya efek manipulatif,” katanya.

Selain itu, kata mereka, Rocky Gerung mereduksi secara fatal dan brutal permasalahan kebangsaan yang kompleks dan berimensi luas saat ini. Padahal, Indonesia tak kekurangan orang yang mampu berpikir kritis, hanya saja ruang ekspresi mereka makin sempit karena diberangus dan dijerat oleh ancaman kriminalisasi, intimidasi, serta represi lainnya.

Kemudian ditambahkan, fenomena Rocky Gerung dianggap mereka telah membuktikan keperluan menggalakkan kajian-kajian filsafat yang serius, tidak berlumur retorika dan popularitas, karena dengan cara itu akal sehat dapat dipupuk di negeri ini.

“Kami mengecam segala tindakan represif pemberangusan diskusi-diskusi filsafat yang kerap terjadi di negeri ini, karena hal itu akan menyumbang lahirnya Rocky Gerung-Rocky Gerung yang baru, para badut filsafat yang, atas nama filsafat, bernarsis-ria untuk akumulasi modal simbolik para elite politik (oligarkh),” jelas mereka.

(eda/asq)

Editor: Banyu Asqalani

Loading...

Terpopuler