Connect with us

Opini

Penganut Kitab Suci Apa Pelapor Rocky Gerung?

Published

on

Stop Menyoal 'Nalar Fiksi' Rocky Gerung

Stop Menyoal ‘Nalar Fiksi’ Rocky Gerung

Rocky Gerung akhirnya dipanggil polisi. Kasus yang tuduhkan kepadanya tampaknya soal ujaran ‘kitab suci fiksi‘. Entah penganut kitab suci mana yang melaporkan.

Masih terang dalam ingatan kita bagaimana polisi dalam kasus Ahok tidak segera memproses penistaan agama yang dilakukan oleh pemilik nama lengkap Basuki Tjahaja Purnama itu. Polisi berdalih, bahwa tidak ada kasus penistaan tanpa ada fatwa MUI tentang itu. Sekarang saya jadi ingin tahu apakah MUI sudah mengeluarkan fatwa untuk kasus Rocky? Kalau tidak ada, mungkinkah ada fatwa sejenis dari gereja, atau kuil, atau otoritas agama lain? Atau mungkin di luar agama resmi ada agama tidak resmi yang merasa dinistakan?

Dulu waktu kuliah saya dan teman-teman punya ‘kitab suci’. Kitab itu judulnya Physics, karangan Halliday dan Resnick. Kitab tersebut harus kami kuasai sebelum kami bisa melangkah untuk mempelajari yang lain. Masalahnya, saya yakin bahwa ‘kitab suci’ saya itu tidak merasa dinista oleh Rocky Gerung. Menurut salah seorang tokoh yang sering disebutkan di sana, Einstein, realitas dan fiksi boleh jadi adalah dua keadaan yang menunjuk kepada objek yang sama.

Bintang misalnya, adalah nyata (real) karena kita bisa langsung melihat dan memotretnya sebagai suatu cahaya yang berada di suatu titik di alam raya. Namun, pada saat yang sama kita mengetahui bahwa cahaya tersebut merambat mencapai kita membutuhkan waktu jutaan tahun. Ketika cahaya bintang itu mencapai kita boleh jadi sang bintang sudah mati. Bintang itu hidup, sekaligus mati. Bintang itu nyata, sekaligus fiksi.

Sebuah ‘kitab suci’ lain namanya Economics, penulisnya Paul A Samuelson. Kitab ini dianggap suci karena punya pretensi menjawab semua masalah ekonomi, atau masalah non-ekonomi yang dilihat dari sudut pandang ekonomi.

Baca Juga:  Pembatalan Kenaikan Harga BBM Subsidi: Kegamangan Presiden atau Ketidaksiapan Pertamina?
Loading...

Ekonomi bekerja dengan menggunakan model. Model adalah representasi dunia menurut ilmuwan. Dengan model itu ilmuwan bisa mereka berbagai skenario dari interaksi para pelaku atau variabel yang ia letakkan di dalamnya. Lalu ia bisa membuat prediksi, retrospective untuk menjelaskan keadaan yang sudah lewat atau prospective untuk menjelaskan keadaan yang akan datang. Bagaimana hasilnya? Apakah model tersebut menghasilkan prediksi pertumbuhan ekonomi, kesempatan kerja atau ketimpangan yang sama dengan kenyataannya? Suatu model disebut realistik bila sesuai dengan keadaan sebenarnya, atau fiktif kalau tidak sesuai. Ternyata, kesesuaian suatu model dengan kenyataan lebih bersifat perkecualian ketimbang umum.

Oleh karena itu, banyak ekonom meragukan ekonomi sebagai ilmu yang menyajikan dunia yang sebenarnya. Thomas Carlyle suatu ketika mengeluhkan betapa ekonomi adalah ‘ilmu yang suram’ (dismal science). Bagaimana bisa? Menurut Coase, peraih penghargaan Nobel tahun 1991, kalau ekonom tidak mampu menganalisa apa yang terjadi di dunia nyata, mereka akan menciptakan dunia imajiner yang mereka mampu menanganinya.

Ilmu ekonomi dipenuhi oleh dunia imajiner itu. Apa yang dipelajari para ekonom pada dasarnya adalah sistem yang ada di dalam pikiran mereka, bukan sistem yang ada di bumi. Ekonomi itu fiksi, kata Coase lagi.

Apa yang saya gambarkan di atas adalah berkenaan tentang bagaimana secara umum ilmu pengetahuan itu bekerja. Yaitu melalui penciptaan model-model imajiner. Sejauh model-model itu bisa dikonfirmasikan dengan kenyataan (misal data statistik), kita masih bisa merasakan realitas bumi yang dipijak.

Tetapi bagaimana halnya bila model-model itu merepresentasikan suatu dunia yang sama sekali belum pernah ada. Misalnya surga, neraka atau kiamat? Bagaimana model-model rekaan bisa mengkonfirmasi dunia seperti itu?

Baca Juga:  Telkom Raih Best Overall Corporate University Gold Award di Sao Paulo Brazil

Dari kaca mata sains, suatu model yang dibangun tanpa kemungkinan untuk dikonfirmasi adalah fiksi. Itu sebabnya Startrek, Starwars dan film sejenisnya disebut sains fiksi.

Bagaimana dengan kitab suci? Bila suatu kitab bicara (dengan bahasa kiasan, perlambang) tentang neraka atau surga maka per definisi, kitab tersebut adalah fiksi.

Jadi, tanpa fatwa organisasi keagamaan yang berwenang, tanpa kesaksian dari praktek sains yang umum berlaku, apa salah Rocky Gerung? Kalau semua alasan sudah diperiksa dan terbukti tidak masuk akal, maka satu-satunya alasan tersisa adalah alasan elektabilitas.

Penulis: Radhar Tribaskoro adalah Ketua Forum Aktivis Bandung

Loading...

Terpopuler