Connect with us

Hankam

F-14 Tomcat Raja Udara Tanpa Lawan Selama Perang Iran-Irak

Published

on

F-14 Tomcat Raja Udara Tanpa Lawan

F-14 Tomcat raja udara tanpa lawan selama Perang Iran-Irak (1980-1988)

NUSANTARANEWS.COF-14 Tomcat raja udara tanpa lawan. Pada sore 22 September 1980, Iran dikejutkan dengan serangan tiba-tiba oleh Angkatan Udara Irak terhadap delapan pangkalan udara utama dan empat instalasi militer lainnya dan penerobosan perbatasan oleh Angkatan Darat Irak – yang memicu Perang Iran-Irak selama 8 tahun (1980-1988)

Keesokan harinya, 23 September 1980, Angkatan Udara Iran membalas dengan meluncurkan operasi “Kaman-99” yang melibatkan 206 jet tempur F-4, F-5 dan F-14. Di mana 40 F-4 Phantoms, dipersenjatai dengan bom Mark 82, Mark 83 dan Mark 84 dan rudal AGM-65 Maverick, lepas landas dari Hamadan, mengisi bahan bakar di udara, dan membombardir Baghdad, menyerang: al-Rashid, al-Habbaniyah, dan pangkalan udara al-Kut. Sedangkan 48 F-4 lainnya yang lepas landas dari Tehran menyerang pangkalan udara al-Rashid.

58 jet tempur F-5E Tiger II berangkat dari Tabriz menyerang pangkalan udara Mosul, dan 50 F-5E lainnya menyerang Nasiriyah Airbase. Sementara 60 F-14 Tomcats disebar untuk mempertahankan wilayah udara Iran dari serangan balasan angkatan udara Irak.

Meski Angkatan Udara Irak berhasil menyelamatkan armada jet tempurnya dari serangan balasan Iran dengan mengevakuasinya ke negara-negara Arab, namun semua pangkalan udara Irak di dekat Iran rusak parah yang menghambat efisiensi tempur Irak.

Tercatat selama operasi F-14 Iran berhasil menembak jatuh 2 MiG-21 dan 3 MiG-23 Irak, bahkan F-5E Iran juga berhasil menghajar Su-20 Irak. Sebaliknya MiG-23 Irak berhasil menembak jatuh 2 F-5E Iran.

Kesiapan Angkatan Udara Iran (IRIAF) meningkat secara signifikan pada bulan-bulan berikutnya. Meski begitu setelah berhasil membebaskan sebagian besar wilayahnya dari pendudukan Irak – IRIAF mulai merubah strateginya dari ofensif menjadi defensif aktif. IRIAF mulai fokus pada pemeliharaan untuk menjaga kesiapan operasional armada tempurnya yang sebagian besar merupakan buatan Amerika Serikat (AS) yang menjadi musuh utamanya.

Baca Juga:  Allianz Indonesia Sebut Telah Membayar Klaim Asuransi Lima Korban Lion Air JT 610

Memasuki pertengahan 80-an, Irak mulai mengerahkan jet-jet tempur yang lebih modern buatan Prancis dan Uni Soviet – sehingga Angkatan Udara Iran hanya dapat mengandalkan F-14 untuk mengimbangi jet-jet tempur baru tersebut hingga berakhirnya Perang Iran-Irak pada Agustus 1988.

Salah satu pilot pesawat tempur Iran yang paling terkenal adalah Jalil Zandi yang berhasil menembak jatuh 11 jet tempur Irak dengan F-14 Tomcats. Selama Perang Iran-Irak, F-14 Iran telah menembak jatuh 33 Mirage F-1 Irak dalam duel udara, sebaliknya Mirage F-1 berhasil menembak jatuh 3 F-14 Iran.

Tomcats Iran jelas telah menjadi “Raja Udara” selama Perang Iran-Irak dengan menembak jatuh puluhan jet tempur Mirage dan MiG Irak, bahkan MIg-25 super cepat, yang dapat terbang hingga Mach 3. Sampai-sampai Saddam Hussein menginstruksikan agar menghidari F-14 Tomcat dalam pertempuran.

Sejak memasuki dinas aktif pada tahun 1975, Tomcat sebagai jet tempur generasi keempat berhasil memadukan kecepatan dan kemampuan manuver tinggi sehingga Tomcat menjadi begitu revolusioner di zamannya. Bahkan sistem avioniknya yang  canggih dan persenjataannya masih menjadi standar hingga saat ini.

Karakterisitik revolusioner Tomcat bisa dilihat dari rancang bangun sayap geometri yang secara otomatis berayun dari sudut dua puluh derajat hingga enam puluh delapan derajat saat dalam penerbangan. Tomcat dapat menjaga sayapnya tetap panjang saat mendarat dan terbang dengan kecepatan rendah, dan menyelipkannya saat melaju kencang. Selain itu, sayap Tomcat bisa terselip hingga tujuh puluh lima derajat ketika diparkir di atas kapal induk.

Mesin turbofan kembar TF30 memungkinkan Tomcat melesat dengan kecepatan Mach 2.3. Moncong hidung Tomcat dilengkapi dengan radar doppler pulsa-band X-AWG-9 X dengan salah satu mikroprosesor pertama yang pernah ada, salah satu radar yang dipasang di medan tempur paling kuat saat itu. AWG-9 dapat mendeteksi pembom hingga seratus mil jauhnya, masih efektif terhadap sasaran yang terbang di ketinggian rendah, dan mampu melacak dua puluh empat kontak sekaligus. AWG-9 juga memiliki resolusi yang cukup untuk melacak rudal jelajah dan menembak jatuh mereka. Tomcat juga satu-satunya petarung pada generasinya yang memiliki sensor pencarian dan jalur infra merah internal, ALR-23.

Baca Juga:  Pancasila Sebagai Suatu Sistem Filsafat (Bag. 1)

Iran hari ini masih mengoperasikan F-14 Tomcats sebagai salah satu andalan angkatan udaranya meski menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan kondisi kesiapan operasionalnya karena kekurangan suku cadang. Iran hanya dapat mengandalkan pasar gelap untuk mengatasi embargo senjata AS.

Seiring waktu, Iran akhirnya berhasil mengembangkan teknologi dalam negerinya untuk menjaga operasional F-14, bahkan mulai mampu meningkatkan sistem radar dan persenjataanya dengan mencangkokan platform R-73.

Terlepas dari itu, Tomcat memang telah membuktikan dirinya sebagai salah satu jet tempur yang sangat perkasa di masanya — terutama di tangan Angkatan Udara Iran. (Agus Setiawan)

Loading...

Terpopuler