Connect with us

Budaya / Seni

Essai: Perempuan dan Kepekaan Sosial

Published

on

sebuah essai, perempuan, kepekaan sosial, karya yanwi mudrikah, nusantaranews

Yanwi Mudrikah. (Foto: Dok. Pribadi)

Perempuan dan Kepekaan Sosial

Perempuan! Siapa yang tak asing dengan penyebutan ‘perempuan’. Perempuan, wanita, cewek, girl, bocah wadon dan sebagainya. Perempuan lahir dari rahim ibu yang kodratnya melahirkan, memiliki anak dan menyusui. Perempuan merupakan makhluk yang paling peka (secara batin). Sebab, perempuan memiliki akal 1 dan hatinya 9. Begitulah hukum alam.

Menurut Kamus Bahasa Indonesia, perempuan artinya wanita; orang yang melahirkan kita; orang yang mempunyai vagina, bisa mengandung dan melahirkan anak; istri/bini; orang yang mematut diri agar tampak cantik. Nah, itulah definisi perempuan menurut kamus bahasa Indonesia. Lalu, bagaimana definisi masyarakat umum mengenai ‘perempuan’?

Dalam pandangan masyarakat bahwa perempuan merupakan makhluk yang lebih menonjolkan hatinya daripada akalnya. Dan mereka adalah kaum yang paling lemah. Asumsi tersebut ada yang pro dan juga kontra.

Habis Gelap Terbitlah Terang
Ibu kita kartini, putri sejati
Putri Indonesia harum namanya.
Ibu kita kartini, pendekar bangsa.
Pendekar kaumnya untuk merdeka.
Wahai Ibu kita kartini, putri yang mulia.
Sungguh besar cita-citanya bagi Indonesia.

Masih ingat dengan kartini? “Habis gelap terbitlah terang…” buku yang ditulis oleh kartini sekaligus kita akan mengupas sedikit banyak mengenai beliau. Kartini, seorang perempuan yang pemberani. Dia ingin mendobrak perempuan-perempuan di Indonesia dengan dalil kemerdekaan diri. Maka sejatinya, kartini ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa perempuan bukan makhluk yang lemah; perempuan bisa berfikir dengan akalnya dan mereka bisa bergerak maju dalam hal pendidikan, sosial, budaya dan lain sebagainya.

Kita ambil contoh pahlawan perempuan Indonesia selain Kartini yakni Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, Martha Christina Tiahahu, R. Rasuna Said dan lain sebagainya. Meski mereka perempuan, pergerakannya amat luarbiasa. Sehingga, mereka dapat mengubah dunia lebih cahaya. Itu hanya sebagian saja. Masih banyak perempuan-perempuan perkasa di Indonesia yang tidak terdata.

Baca Juga:  Hadapi Gugatan Prabowo-Sandi, Anwar Usman Jamin Independensi Mahkamah Konstitusi

Perempuan itu…

mengemas kecemasan-kecemasan
di dapur
di sumur
di kasur

ia belajar ikhlas, sabar
ia belajar legowo
ia belajar pasrah

perempuan itu…
adalah tanah
yang harus merendah serendah-rendahnya
sampai tak seorang pun merendahkannya

Darmakradenan, Juli 2019

Setinggi-tinggi pendidikan perempuan ia tetap harus mengenal sumur, dapur dan kasur. Dan pengabdian yang paling sempurna adalah pengabdiannya kepada pasangan hidupnya dunia-akhirat. Wallohu a’lam bisshowab.

 

 

 

 

Penulis: Yanwi Mudrikah, lahir di Banyumas, 12 Agustus. Bergiat di Komunitas Sastra Gubug Kecil Indonesia. Saat ini berprofesi sebagai dosen tamu di perguruan tinggi swasta di Cilacap. Karya-karyanya dipublikasikan di berbagai media lokal dan nasional. Email: yanwimudrikah@gmail.com

Loading...

Terpopuler