Connect with us

Ekonomi

Ekonomi Global Melambat Diklaim Jadi Biang Keladi Defisit Neraca Perdagangan Indonesia

Published

on

defisit neraca perdagangan, neraca perdagangan, impor indonesia, ekspor indonesia, umkm, pemerintahan jokowi, pelarangan impor, kebijakan impor, nusantaranews, pedagangan indonesia, nusantaranewsco, nusantara news

ILUSTRASI – Ekspor-Impor Indonesia. (Foto: NUSANTARANEWS.CO)

NUSANTARANEWS.CO, JakartaBank Indonesia menyebut melambatnya pertumbuhan ekonomi global menjadi penyebab neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit.

Menurut BI, kondisi tersebut mempengaruhi kinerja ekspor Indonesia. Dan harga komoditas ekspor Indonesia diketahui terus merosot, terutama pada kwartal pertama.

“Neraca perdagangan April 2019 banyak dipengaruhi pertumbuhan ekonomi global yang melambat dan harga komoditas ekspor Indonesia yang menurun, yang pada gilirannya menurunkan kinerja ekspor Indonesia,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Onny Widjanarko dikutip dari siaran pers, Kamis (26/5/2019).

BPS merilis neraca perdagangan Indonesia pada Apil 2019 mengalami defisit 2,50 miliar dolar AS. Defisit neraca perdagangan tersebut bersumber dari defisit neraca perdagangan nonmigas dan neraca perdagangan migas. Dengan perkembangan tersebut, neraca perdagangan Indonesia secara kumulatif Januari-April 2019 mengalami defisit sebesar 2,56 miliar dolar AS.

Baca juga: Elite Negara Sibuk Berpolitik, Dolar Melaju Mulus Menuju Rp 15 Ribu

Menurut BPS, defisit neraca perdagangan nonmigas pada April 2019 tercatat sebesar 1,01 miliar dolar AS, setelah pada Maret 2019 mencatat surplus 1,05 miliar dolar AS. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh penurunan ekspor nonmigas dari 12,98 miliar dolar AS pada Maret 2019 menjadi 11,86 miliar dolar AS.

Defisit neraca perdagangan migas pada April 2019 tercatat sebesar 1,49 miliar dolar AS, meningkat dibandingkan dengan defisit pada bulan sebelumnya sebesar 0,38 miliar dolar AS.

Defisit tersebut dipengaruhi oleh peningkatan impor migas dari 1,52 miliar dolar AS pada Maret 2019 menjadi 2,24 miliar dolar AS pada April 2019. Peningkatan terjadi pada seluruh komponen, yakni hasil minyak, minyak mentah dan gas, seiring dengan peningkatan baik harga impor maupun volume impor minyak dan gas.

Sementara itu, ekspor migas tercatat menurun dari 1,14 miliar dolar AS pada Maret 2019 menjadi 0,74 miliar dolar AS pada April 2019.

Penurunan ekspor migas terutama terjadi pada komponen hasil minyak dan gas, sejalan dengan menurunnya volume ekspor kedua komponen tersebut.

Pada kesempatan lain, Waketum Gerindra Arief Poyuono menyebutkan, mesorotnya harga ekspor Indonesia pada kwartal pertama disertai impor pangan besar-besaran saat jelang datangnya bulan ramdhan tahun 2019.

“Disertai juga dengan harga makanan dan minuman yang meningkat dalam bulan ramadhan ini,” kata Arief.

Kondisi seperti ini, kata Arief, akan membuat daya beli masyarakat merosot bila dolar terus meningkat. “Yang pasti angka kemiskinan akan terus meningkat,” ujarnya.

Dengan kondisi tersebut, kata dia, kebutuhan akan mata uang dolar bakal semakin besar di pasar Indonesia. Apalagi di bulan Mei, sudah saatnya membayar utang luar negeri pemerintah, BUMN dan swasta.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (16/5) berada di kisaran Rp 14.458 per dolar AS. Sehari sebelumnya, posisi rupiah di angka Rp 14.463 per dolar AS.

(eda)

Editor: Eriec Dieda

Terpopuler