Puisi

Di Perbatasan Rindu, Puisi BJ Akid

puisi novy noorhayati syahfida, novy noorhayati syahfida, nusantaranews, nusantara news, puisi indonesia, puisi penyair indonesia, puisi nusantara, puisi pekerja, puisi perjalanan, sekuntum teratai, puisi bunga, puisi teratai
Di Perbatasan Rindu. (Foto: Ilustrasi/kilatfintech.com)

Di Perbatasan Rindu, Puisi BJ Akid

Kenapa kau biarkan angan berjalan tak tentu arah. Membasahi air pagi yang dingin dalam mimpi. Sementara angin berjalan menjanjikan pertemuan. Sebagai umpan beranjak mendapatkan ikan.di pemetang aku belajar melupakan mawar.yang tumbuh di halaman, angin dan hujan merayuku menuju liang pengharapanmu. Memaparkan aroma tanah. Pada hujan pertama di beranda rumah.

Sepertinya pada awan itu. Aku benar-benar sudi melupakanmu. Tapi harum rambutmu masih terlalu melekat pada keramayan malam, membawa semua bayangan tak bisa di tawar. Diantara persimbangan untuk menentukan keberangkat dan kepulang “bertahanlah engkau” aku akan bertahan junga di persimbangan bayangmu yang menggoda. Sebab dalam doa-doaku kita pasti tiba, untuk menagih pertemuan janji maski waktu selalu bersilau dengan sunyi.

Rumah Nam-nam, 2018

Suara Rindu

Masihkah engkau merana
Dalam lembaran-lembaran doa
Meninggalkan seluruh nasip
Dari ribuan waktu yang telah kita arsip

Cobalah tersenyum
Untuk menghadapi musim ini
Agar kepastian selalu menjalani
Pada jalan yang tak bersunyi

Madura, 2018

Dalam Sajakku

Dalam sajakku
Akan kau temukan sebuah pagi yang tak berlalu
Bersama embun-embun di ujung daun yang syahdu
Membasahi ranah-ranah pedukuhan
Dengan hujan yang terkutuk di halaman

Dalam sajakku
Pasti kau temukan dunia yang semakin indah
Seperti mawar-mawar yang mekar dan basah
Menaburkan aroma rindu pada kampung halaman
Yang tiba-tiba jatuh dengan sekotak kenangan

Dalam sajakku
Selalu kau temukan sebuah malam
Dengan cahaya fajar dan rembulan
Yang berkilau pada air lautan

Tapi dalam sajakku
Tak pernah kau temukan aku
Sebab aku selalu ada dalam bayangmu
Yang menjadi teman dalam kesunyian rindu

Rumah Nam-nam,2018

Kumu’

Di ketinggian zaman
Aku melihat matahari terdiam
Membekaskan warna merah
Membawa awan fahan dari sejarah

Di ranting-ranting kering
Terkadang burung-burung menghalangi pelukan angin
Mengabarkan aroma hujan pada tanah
Yang selalu bertahan dari tabahnya resah

Lembah-lembah semakin sunyi
Begitu terlihat dalam semidi
Mengekalkan kelembutan rindu
Dalam ingatan yang tak berlalu

Berdianglah segala kemungkinan disana
Dengan kelicikan fatamorgana
Dan pegunungan yang saling bertanya
Tentang harkat-harkat pendang yang sebenarnya

Rumah Nam-nam, 2018

Hujan Pengharapan

Barangkali dilain waktu saya akan segera tau
Bahwa kebenjian itu adalah awal bagi rindu
Di mana awan telah menebal pada senyummu
Mewartakan remang nasip rindu
Dari sekian angin yang berlalu

Seperti meniti kekerontangan
Kenapa harus sesel yang bersinggah di belakang
Melantunkan remah-remah rasa
Kepada waktunya semakin terasa

Saya kira tanah akan segera mengarti
Bahwa kedatangan hujan adalah do’a bagi simati
Membasahi segala kenangan
Kepada alasan akan bertinggal

Reguler, 2018

Di Pertengahan Musim

Marilah kita ngosipkan lagi
Dedaunan yang ranggas di malam sunyi
Karena hujan-hujan masih meronta,
Merangkumkan angan dalam rasa

Padahal ini baru kudengar hikayat hujan
Sementara daun-daun mulai berjatuhan
Panas selalu menerpa kegelisahan
Membingbing rasa kekehawatiran
Untuk segera digoreskan.

Pantaskah bilamana dingin menyapa
Pada sudut malam yang berbeda
Karna aku seringkali bertanya
Tentang musim yang terhimpit suasana

Reguler, 2018

Menjemput Doa

Seketika aku meratapi subuh di keningmu
Dingin-dingin menyala
Apa ini yang kau maksud dengan cinta?
Ketika rindu-rindu pulang tidak bermakna
Makna dari kesejatian yang tiada

Sepertinya, aku tidak pandai menyimpan bahasa
Hujan bagi cintaku tidak kunjung tiba
Mungkin kesuatu penantian kita akan sama-sama menyapa
Menjemput doa-doa yang tenggelam di beranda

Dermaga, 2018

 

 

BJ Akid lahir di Pasongsongan Sumenep, Madura. Dia Menulis Puisi Beserta Cerpen. Saat ini masih tercatat sebagai santri Pondok Pesantren Annuqayah. Dan menjadi Ketua Komunitas Laskar Pena PPA Lubtara, Sekaligus Pengamat Litrasi Di Kumunitas Surau Bambu dan SMK Annuqayah.

Related Posts

1 of 3,050