Connect with us

Puisi

Nelangsa, Cemburu dan Kenangan

Published

on

Duka Matamu - Sepilihan Puisi Fian Jampong. Ilustrasi: through sad windows by phatpuppyart (DevianArt)

Duka Matamu – Sepilihan Puisi Fian Jampong. Ilustrasi: through sad windows by phatpuppyart (DevianArt)

Nelangsa, Cemburu dan Kenangan

 

Nelangsa

pada lembar pertama surat yang mengusik rindu
kegilaanku masih tetap sama
tiada henti mengalunkan kidung nelangsa
kesendirian yang kian benar
seperti pion-pion catur gusar di tempatnya

bukan rindu yang berhasil menakuti
adalah sengau sepi mengatup dalam diri
akarnya semakin kokoh
padahal pijat hujan tak sekali pun bertandang

hanya air mata persembahan satu satunya
dari kejauhan tubuhnya menua, renta
namun ia mengalir seperti biasa, hening
terkadang getarnya mengilukan dada

pada ruangan lain tempat kusakralkan kenangan
ketakutan terus berpijak, sesekali gemetar tubuhnya
menemuiku dengan lagu-lagu aneh
meruntuhkan keperkasaanku
menamatkan kelelakian ini

Gapura, 2019

Cemburu

aku yang salah, menyuguhkan puisi gila
pada perempuan yang kulupa namanya
semenjak kenangan lebih liar
perlahan tumbuh nan menjalar

aduh! semua perempuan masih sama
membawa kemungkinan tak terduga
sedang tubuhku meredam gemetar
tidaklah kuasa

dalam doaku yang berhembus gesit
kuingin kau di mari, setelah
kunjunganmu ke pucuk sepi
agar tangis ini tidaklah abadi

sebab jalan yang kita pahat ini
kian lama kian sempit
begitu kuat menghimpit

Gapura, 2019

Kenangan

aku hanya berpura-pura merdeka dari kenangan
yang terkadang datang dengan langkai lunglai
untuk apa?
sedang rindu masih kokoh, akarnya enggan terbantun

ia menjemputku dan tiada seorang tahu
di kerah bajunya denyar darahku
masih basah saja, sangat basah

aku hanya berpura pura merdeka dari kenangan
cinta membawaku mengembara ke negeri jauh
lalu meninggalakan sendiri
beruntung ada tangis ini penabuh sepi

nyatanya aku terus berlindung
mengurung diri dalam pijar hujan
tempat segala kesakitan benderang

Baca Juga:  Mencermati Babak Baru Perang Non-Konvensional AS-Iran

kau tahu atau kau tak tahu
aku hanya berpura-pura merdeka dari kenangan!

Gapura, 2019

Dalam Doa

bahwa yang kuterbangkan adalah luka dan serapah
harapan merentangkan jari jari paling nelangsa
menekur dasar dada sampai batas entah
sebagai pembolak-balik musim dan cuaca

bahwa yang kuterbangkan adalah desau aneh
tak henti henti merobek sunyi
sedang rindu seperti dalam ucapmu
hanya menjelma sembilu, tak lebih

bahwa yang kuterbangkan adalah keesakitan paling utuh
setiap malam berkunjung ke mari, menyesakin kepalaku
terkadang busuknya juga terdengar ke mana-mana
dan dadaku tak cukup perkasa

bahwa yang kuterbangkan adalah taangis yang kugelar
di mana puing air mata lain ikut mengakar
lantas, keceriaan memilih pudar

hanya satu yang enggan kuterbangkan
kegilaanku pada puisi-puisimu
Kuingin ia tetap di sisi, menghakimi sepi

Gapura, 2019

Masa Lalu

ia pernah ingin mengeecupkeningku pelan
tepat gerhana di atas kepalaku pudar
kala angin selaat saling hardik
sakali lagi, kutahu dan kutahu
sakit yang sederhana akan disuguhkan

ia sering memintaku kembali
sedang tik tok jam enggan terhenti
dari sajak sajak ini kau menegrti
bahwa duka tidaklah abadi

kalau begitu aku akan kembali
ia diam saja
padahal rumahku kini
lebih benderang dari seribu matahari
dan terus meredam sunyi
yang membadai

aku akan kembali, kembali
ke pangkuan
sepi

Gapura 2019

 

Moh. Rofqil Bazikh salah satu siswa MA Nasy’atul Muta’allimin Gapura Timur, Gapura Sumenep. Aktif di komunitas ASAP (Anak Sastra Pesantren) dan Kelas Puisi Bekasi. Antologi puisi bersama terbarunya Surat Berdarah. Puisi dan cerpennya dimuat di beberapa surat kabar dan antologi bersama

Loading...

Terpopuler