Connect with us

Cerpen

Detik-detik Saat Bom Meledak

Published

on

Detik-detik Saat Bom Meledak

Detik-detik Saat Bom Meledak

Pemuda itu tetap membisu ketika orang-orang saling berdebat mengenai detik-detik bom itu meledak. Ia hanya duduk di bangku panjang sambil memegang jam alarm yang sudah gosong, dengan jarum jam yang tidak lagi berdetak.
Oleh: Chudori Sukra

 

Ia masih ingat, jam itu adalah pemberian sahabat karibnya, Haris yang kini melanjutkan kuliah pada jurusan Filsafat di ibukota Jakarta. Ia sendiri tidak melanjutkan kuliah karena faktor ekonomi keluarganya yang tidak menguntungkan.

Lurah setempat, ketika diwawancarai wartawan mengatakan, bahwa bom itu meledak sekitar jam 04.00 dini hari. Seseorang yang mengaku dirinya saksi-mata mengatakan jam 04.30 pagi. Para wartawan akhirnya menggunakan versi yang disebutkan Pak Kapolsek sekitar Pk.03.15 pagi. Tak seorang pun mengetahui kepastiannya, meskipun jam alarm di tangan pemuda itu menunjukkan Pk. 03.25, dan jarumnya sudah tak berdetak lagi.

Pemuda berusia 21 tahun itu masih duduk menunduk di kantor kelurahan setempat. Dia tahu, dua bangunan yang hancur akibat peledakan bom itu adalah kantor polsek dan rumah keluarganya yang bersebelahan dengan kantor polisi tersebut. Tiga orang polisi yang menginap tewas seketika, termasuk kedua orang tuanya sendiri yang tinggal bersamanya. “Kalau saya begadang di gardu ronda bersama pemuda-pemuda Jombang, biasanya jam tiga pagi sudah pulang ke rumah. Tapi entah kenapa, tadi pagi saya baru pulang sekitar jam empat.”

Ia hanya mengucap dua kalimat itu. Ketika wartawan media luring dan daring mengajukan berbagai pertanyaan, banyak orang yang berinisiatif mengemukakan pendapat sesuai versinya masing-masing. Tetapi, pemuda itu tetap saja diam membisu. Ia hanya menunjukkan jam alarm dalam genggamannya, kemudian menambahkan satu kalimat lagi: “Semuanya hancur, hanya ini yang bisa saya selamatkan.”

***

Semua benda yang ada di kamarnya telah hancur berkeping-keping. Ia mengambil jam alarm kesayangannya itu dalam keadaan gelap di pagi buta. “Saya berhasil menemukannya… saya masih bisa menyelamatkannya,” gumamnya pada diri sendiri. Orang-orang di sekelilingnya tidak memahami apa maksudnya, termasuk juga para wartawan yang mencecar pertanyaan kepada pemuda tersebut.

“Apa yang kamu banggakan dengan jam yang sudah gosong itu?” pancing seorang wartawan.

Ia tidak menjawab, hanya mengusap lapisan kaca yang sudah retak dengan ujung kaos yang dikenakannya. Tak lama kemudian, ketika ia didesak untuk menyampaikan pendapatnya, pemuda itu berkata, “Memang nggak ada nilainya. Siapa bilang jam ini barang antik yang mahal harganya. Ini biasa-biasa saja. Bahkan, tak beda jauh dengan sebuah mangkuk plastik yang biasa dibawa anak-anak TK ke sekolah. Tapi lihatlah, kedua jarumnya yang terbuat dari besi, sepertinya sudah kelelahan. Tetapi dia masih begitu kuat dan kokoh…”

Baca Juga:  Pembentukan Komcad untuk Perkuat Komponen Utama Pertahanan Negara

“Meskipun sudah tak berfungsi?” kata seorang petugas kelurahan.

“Ya, walaupun tidak berfungsi… atau kita memang tidak tahu fungsinya….”

Pemuda itu mengusap pinggiran jam alarm itu dengan ujung jarinya. Mereka yang duduk di bangku itu disinari matahari pagi, hingga tak melihat apa yang dilakukan pemuda itu dengan jari-jemarinya. Tak lama kemudian, muncul beberapa saudaranya tergopoh-gopoh berlarian ke arahnya.

“Kamu sendiri bagaimana, nggak apa-apa?”

Ia menggelengkan kepalanya, “Tadi pagi saya pulang terlambat, biasanya jam tiga sudah sampai rumah.”

“Emang dari mana?”

“Dari gardu ronda, seperti biasa saya begadang bersama masyarakat Jombang kalau malam Minggu.”

“Benar apa yang mereka bilang?”

“Ya,” jawabnya mengangguk.

“Ibumu?”

“Meninggal.”

“Bapak juga?”

“Ya. Semuanya lima orang, dengan tiga anggota polisi. Sumber ledakan itu sepertinya di serambi kantor polsek.”

***

Pemuda itu tahu jam alarm-nya telah rusak, meskipun ia masih terlihat sama seperti biasanya. Kemudian, ketika para wartawan ingin mengambil gambarnya, ia pun mengangkatnya dan menunjukkan apa adanya di hadapan mereka. “Lihat jarum jam itu!” teriak seorang wartawan, “ia berhenti tepat pada jam tiga lewat duapuluh lima menit!”

“Ya, pukul 03.25, biasanya jam segitu saya sudah ada di rumah. Tapi entah kenapa, tadi pagi saya pulang terlambat.”

Seorang wartawan maju ke depan, dan menjelaskan kepada para wartawan lainnya, “Kalian semua harus mengerti, ketika ada bom jatuh dan meledak, akan ada tekanan atau reaksi ledakan itu, dan tepat pada saat itu jarum jam akan berhenti.”

“Seperti itukah?” tanya wartawan lainnya.

“Saya kurang paham mengenai itu,” jawab si pemuda. “Saya tidak mengerti bagaimana kalian menghubungkan ledakan bom dengan jarum jam yang tiba-tiba berhenti. Yang saya tahu, jam ini sudah gosong, pasti mesin-mesin di dalamnya sudah rusak. Kebetulan jarum jamnya berhenti pada Pk. 03.25. Dan pada waktu itu, biasanya saya sudah ada di rumah.”

Biasanya, ketika jam dinding di gardu ronda menunjukkan Pk. 03.00 pagi, pemuda itu segera pulang ke rumah dan menyudahi waktu begadangnya. Ia masuk melalui pintu samping tanpa bersuara, kemudian langsung menuju dapur dan membuka rak makan, apakah ada sesuatu yang bisa dimakan pagi itu. Tak lama kemudian, si ibu datang menemuinya di dapur. Ia akan selalu mendengar bila anaknya pulang, betapapun pelannya ia melangkah atau membuka rak makan.

Baca Juga:  Manchester United Berada di Jalur yang Tepat?

Ketika ia mengendap-endap di kegelapan, seperti biasa lampu dapur tiba-tiba menyala. Saat itulah ia melihat sang ibu melangkah dengan mengenakan daster lengan panjang sambil menyelubungkan sarung menutupi tubuhnya. Matanya agak menyipit karena nyala lampu yang begitu terang, kemudian ia berkata kesal, “Kamu mabuk lagi, ya?”

Selama minggu-minggu terakhir, selalu kata-kata itu yang dilontarkan kepadanya. Beda dengan sang ayah yang mengeluarkan satu kalimat yang membuatnya merasa terpukul, “Dasar, anak tak berguna.” Pada saat yang lain, muncul lagi satu kalimat yang menyakitkan bagi sang anak, “Mau jadi ahli neraka, kamu?”

Meskipun begitu, si ibu akan tetap menemaninya setelah memanaskan nasi dan lauk, kemudian duduk berdampingan di meja makan hingga perut si anak merasa kenyang. Ketika ia mendengar suara piring yang ditaruh ibunya di tempat cucian, ia akan masuk ke kamarnya, dan si ibu kembali mematikan lampu dapur. Selalu saja seperti itu setiap malam Minggu. Dan biasanya selalu saja di atas Pk. 03.00 pagi.

Bagi si pemuda, hal itu dianggap biasa saja, sebagai rutinitas malam Minggu yang seakan menjadi candu yang sulit dihentikan. Bahkan, jikapun ada seorang teman yang membawa minuman beralkohol, dan ia mabuk-mabukan bersama mereka, tetap pada Pk. 03.00 ia harus segera pulang ke rumah. Dan pada saat itu, sang ayah akan marah habis-habisan, sambil meneriakinya, “Dasar, anak tak berguna. Mau jadi ahli neraka kamu?”

Ia selalu menghindari perdebatan dengan ayahnya, baik soal politik maupun soal agama. Ayahnya yang rajin menghadiri pengajian agama yang disampaikan Kiai Muhaimin di masjid Darul Muttaqin, kerap mengumar amarah pada si anak, bahwa seorang pemuda itu harus senantiasa memanfaatkan masa mudanya dengan tekun melakukan hal-hal yang berguna bagi keluarga, bangsa dan agama. “Manfaatkan masa mudamu sebelum datang masa tuamu. Jangan sampai kamu ikut-ikutan terlibat dalam pergaulan dengan pemuda-pemuda tak berguna di gardu ronda itu!” Ia tak suka membantah omelan ayahnya, kecuali sedapat mungkin menghindarinya, bahkan jikapun si ayah selalu menjulukinya sebagai “pemuda tak berguna”.

***

Untuk beberapa saat, kesunyian menyelimuti suasana di bangku panjang di kantor kelurahan itu. Memecah kesunyian itu, seorang wartawan angkat bicara, “Jadi, bagaimana perasaan Anda saat ini?”

Baca Juga:  Menanti Janji Menpora Berikan Uang Rp5 Miliar bagi Pemenang Medali Emas

“Bagaimanapun, saya harus ikhlaskan kepergian mereka. Mungkin ini sudah kehendak Yang di Atas. Meskipun saya masih bisa menyelamatkan jam ini, tapi orang tua saya sudah tiada, dan ketiga polisi itu juga sudah tiada. Tetapi, kami toh akan ketemu mereka di surga nanti…”

Ia pun meremas-remas jam alarm itu, lalu berkata di hadapan para wartawan sambil tersenyum, “Kalian paham kan, sekarang saya ini masih bisa bernapas, meskipun semuanya sudah tidak ada, juga orang tua sudah tidak ada… tapi saya masih punya jam alarm ini… dan atas kehentak Tuhan juga ia harus berhenti di angka 03.25. Itu sudah kehendak-Nya.”

“Pada Pk. 03.25 itu biasanya Anda sudah berada di rumah, lalu apa yang Anda lakukan sebelum itu?”

“Saya sendiri kurang paham, entah kenapa? Selama dua hari ini saya terserang flu dan pilek, tetapi saya memaksakan diri untuk begadang pada malam Minggu. Tadi pagi, ketika saya harus pulang, saya bersender di tiang gardu ronda karena rasa lelah dan ngantuk. Tiba-tiba saya tertidur dalam posisi duduk. Kemudian ketika saya terbangun, semua orang di gardu ronda sudah pulang, dan jam sudah menunjukkan Pk. 04.00 pagi.”

“Apakah Anda tidak mendengar suara ledakan, mengingat jarak rumah dan gardu ronda hanya sekitar 200 meter?”

“Saat tertidur di gardu ronda. Memang saya sempat mendengar suara letusan di kejauhan. Saya kira itu suara petasan yang biasa dimainkan anak-anak pada malam Minggu. Kemudian, sekitar jam 04.00 ketika saya pulang, tahu-tahu saya melihat kegaduhan di depan rumah, dan semuanya sudah berantakan.”

“Berarti sekitar setengah jam sebelum Anda pulang, bom itu meledak?” tanya seorang wartawan.

“Kurang lebih seperti itu,” ia terdiam sejenak dengan tatapan menerawang. “Tapi bagaimanapun ini adalah kehendak Tuhan. Kita semua tidak memahami rencana-Nya… kita semua tidak memahami kehendak-Nya…”

Para wartawan memandang raut wajahnya yang tenang dan sabar. Pemuda itu tetap menggenggam jam alarm kesayangannya, satu-satunya benda yang bisa diselamatkan. Kini, ia sudah memaafkan setiap kalimat yang diucapkan ayahnya, biarpun ia seringkali dijuluki anak yang tak berguna. (*)

*Penulis: Chudori Sukra, Cerpenis dan Pengasuh Pondok Pesantren “Riyadlul Fikar”, Serang, Banten. Menulis cerpen dan esai di berbagai media luring dan daring.

Loading...
Advertisement

Terbaru

Advertisement

Terpopuler