Connect with us

Politik

Bung Karno, Soeharto dan Jokowi Disebut Sebagai Pemimpin Paling Berhasil, Pengamat: Riset yang Terburu-buru

Published

on

kepemimpinan soekarno, kepemimpinan soeharto, kepemimpinan jokowi, pemimpin berhasil, kepemimpinan bung karno, soharto pemimpin, era bung karno, era soharto, era jokowi, nusantaranews

Soekarno, Soeharto dan Joko Widodo. (Foto: Istimewa/NusantaraNews)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Pengamat Politik dan Wakil Sekjen ISRI (Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia), Herman Dirgantara menilai terlalu terburu-buru lembaga survei Indo Barometer merilis riset yang menempatkan Joko Widodo sebagai salah satu pemimpin paling berhasil setelah kepemimpinan Soekarno dan Soeharto.

Rilis hasil survei evaluasi 20 tahun reformasi dan mengukur tingkat keberhasilan pemimpin itu menempatkan Joko Widodo sebagai salah satu dari tiga pemimpin terbaik dalam sejarah Indonesia. Hasil survei yang juga menempatkan nama Soeharto itu pun dinilai kontroversial oleh sebagian kalangan.

“Saya menilai riset itu tidaklah cukup, perlu riset lainnya yang bersifat kualitatif. Sehingga saya beranggapan, bahwa data ini tidaklah dapat dijadikan tolok ukur, butuh variabel lainnya.” ujar Herman melalui keterangan tertulis, Jakarta, (Rabu (23/5).

Survei Indo Barometer digelar di 34 provinsi pada 15-22 April 2018. Sampel dalam survei sebanyak 1.200 responden dengan margin of error +/- 2,83% pada tingkat kepercayaan 95%. Sebanyak 32,9% masyarakat menilai Soeharto berhasil memimpin Indonesia. Posisi kedua ditempati Sukarno (21,3%), dan ketiga ditempati Joko Widodo (17,8%).

“Kalau yang ditanya siapa pemimpin paling berhasil jawaban tertinggi publik adalah Soeharto, kedua Soekarno, ketiga Jokowi, dan disusul oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono,” ujar Direktur Eksekutif Indo Barometer, Muhammad Qodari dalam rilis hasil survei di Hotel Harris Suite, Jl Sudirman, Jakarta Pusat akhir pekan lalu.

“Sebanyak 36,3 persen publik menilai kondisi Indonesia pada masa reformasi lebih baik dibanding pada masa orde baru dan orde lama. Namun, tidak jauh berbeda dengan publik yang menilai di masa orde baru lebih baik yakni sebanyak 32,6 persen. Sedangkan yang menilai masa reformasi dan masa orde baru sama-sama baik sebanyak 8,6 persen,” jelas Qodari.

Baca Juga:  Tak Kunjung Dirikan Bank Jatim Syariah, Gubernur Khofifah Terancam Diinterpelasi

Herman Dirgantara menilai hasil survei tersebut tidak dapat dijadikan tolok ukur sepenuhnya mengukur keberhasilan pemimpin di Indonesia.

Dia menambahkan bahwa hasil survei tersebut dalam batas-batas tertentu jika tidak disikapi secara arif, akan berbahaya bagi persepsi publik. “Yang perlu ditekankan dari hasil survei tersebut arahnya apa. Masyarakat bisa saja menilai, apakah reformasi itu sia-sia saja atau bagaimana. Jadi, harus secara komprehensif. Sah saja, namun tidak berimbang dan kondisinya berbeda setiap zaman. Ini riset yang terburu-buru menurut saya,” ucapnya. (red/ed/nn)

Editor: Banyu Asqalani

Loading...

Terpopuler