Connect with us

Budaya / Seni

Bukan Kita yang Mengakhiri

Published

on

Menulis Kematina. (Lukisan - The Death of Marat)

Menulis Kematian. (Lukisan – The Death of Marat)

Oleh: Is’adur Rofiq*

NUSANTARANEWS.CO – Hujan kayaknya sudah reda, aku hendak pulang dan meninggalkan masjid. Seperti biasa, pas di rumah sudah ditunggu laptop yang sejak kemarin belum aku sentuh. Kerinduan akan diksi yang aku tulis segera terbayar dengan suara risih keyboard. Entah apa yang akan aku tulis, tiba-tiba lamunan membawaku pada suatu kisah masa lalu yang kelam. Sampai saat ini aku belum percaya mengapa kisah itu selalu hadir ditengah pikiranku yang sedang merangkai diksi-diksi tulisan.

***

Sebuah kisah masa lalu dimulai!

Sudah beberapa hari ini aku jadi pengangguran setelah resmi menanggalkan status mahasiswa. Tuntutan moral agar bisa bekeja disuatu perusahaan yang sesuai dengan bidang jurusanku tak bisa dielakkan.

Loading...

Pagi ini rasanya cerah sekali, aku bergegas pergi ke suatu kantor perusahaan besar di kota ini. Kata temanku, perusahaan tersebut akan menerima karyawan baru diposisi konsultan proyek. Dengan semangat, setiap langkahku disertai doa agar bisa diterima. Di depan pintu, aku disambut resepsionis cantik dengan rambut terurai panjang, “Ada yang bisa saya bantu bapak?” ujarnya dengan senyum ramah. “Apakah betul perusahaan ini akan menerima karyawan diposisi konsultan proyek?” tanyaku. “Betul pak, silahkan menemui direktur perusahaan di ruang 10 lantai 2,” jawabnya. “terimaksih banyak Bak.” Ujarku sambil bergegas ke ruangan direktur perusahaan.

Saat sampai di depan ruangan direktur, ternyata sudah banyak yang mengantri. Aku harus bersabar duduk di paling belakang. Sudah 1 jam lebih aku menunggu, rasanya mata ini ingin terpejam meskipun sebentar. “Fejri silahkan masuk!” ujar ajudan direktur yang membuyarkan kantukku. Lalu aku masuk ke ruangan dengan disambut senyuman oleh sang direktur. Tanpa bicara satu katapun ia meminta kelengkapan administrasi yang aku bawa. beberapa menit kemudian Ia bertanya “Dengan siapa kamu datang kesini?”, “Sendiri saja Ibu,” jawabku. “Belum punya istri kah?” ujarnya, “Belum Ibu,” jawabku sedikit malu. “Jika orang jualan di pasar, pasti sebelumnya ada modal yang harus dikeluarkan. Kamu sekarang berani melamar pekerjaan di perusahaan ini, lalu apa modalmu Fejri?” tanyanya dengan serius. “Saya punya orang tua yang selalu shalat tahajjud mendoakanku.” Jawabku sedikit gugup. Entah apa yang ada dibenak direktur ini hingga Ia sedikit meneteskan air mata. “Interviewnya sudah ya,” ujarnya sambil mengusap air mata. “Iya Ibu, terimakasih.” Jawabku. Aku bergegas keluar.

Di perjalanan menuju pulang, aku heran mengapa interviewnya sebentar sekali. padahal peserta sebelumnya hampir 30 menit didalam ruangan. Sedangkan aku paling Cuma 5 menit. Apa aku bersalah cuma bilang punya orang tua sebagai modal dalam berkarier? Sehingga sang direktur meneteskan air mata karena aku sebagai pelamar karyawan baru tidak mempunyai orientasi konkret memajukan perusahaannya. Entahlah, intinya aku tetap berpegang teguh terhadap prinsip hidup: bahwa orang tuaku adalah orang yang membawaku pada kebaikan.

Sudah dua malam aku tidak bisa tidur. Mungkin sudah gak sabar menunggu kelulusan besok pagi. Telah aku paksa mata ini untuk merem, tapi sama saja, tetap sulit untuk tidur. Sudah jam 2 pagi, aku mencoba keluar dari kamar kontrakan dan duduk di teras agar pikiranku tenang. Dalam kesunyian, tak terasa air mata menetes. Aku teringat bagaimana perjuangan orang tuaku bekerja membiayai kuliahku, dan sampai saat ini aku belum bisa membalas kebaikannya. “Oh iya, kalau jam segini, ibuku kan shalat tahajjud,” gumamku dalam hati. Aku segera mengambil handphone untuk menelponnya. “Halo ada apa Fej?” sahut ibu mengangkat teleponku. “Gak ada apa-apa bu, cuma kangen aja,” jawabku. “Oalah, tak kira sudah sakit kamu,” ujar Ibu. “Alhamdullah sehat Bu” kataku. “Besok kan ya pengumuman kelulusan karyawan baru?” Tanya ibu. “Iya buk, doakan saya selalu ya” Jawabku. “Gak usah kamu suruh nak, setiap saat aku selalu doakanmu.” Ujar ibu. Sekitar 10 menit aku bicara sama ibu, hingga akhirnya ibu menutup percakapan dengan kata-kata seperti biasanya “Jangan lupa ke masjid dan jaga kesehatan”.

Cukup dengan mie instan untuk sarapan pagi ini, lumayan lah buat ngirit uang. Sudah gak sabar menunggu pengumuman kelulusan karyawan baru 2 jam lagi.  Aku mencoba menenangkan diri dengan shalat dhuha dan baca Alquran. Suara dering handphone mengagetkanku ditengah hanyut dalam kekhusukan membaca Alquran. Dengan segera, aku buka notifkasi email tersebut: “Yth. Fejri Alamsyah, dengan ini kami menyampaikan, bahwa anda kami terima di perusahaan kami. Untuk kelengkapan berkas maksimal dipenuhi hari rabu”. Alhamdulillah ya Allah. Sungguh tak kuasa membendung air mata tangisan bahagiaku ini.

Dengan langkah yang cukup tergesa-gesa, aku mendatangi perusahaan dengan mambawa berkas yang kemarin berum lengkap. Diruangan, aku telah ditunggu sang direktur yang kayaknya agak sibuk pagi ini. “Duduk dulu Fej, saya masih mengarsip berkas-berkas marketing” ujarnya. “Iya bu terimakasih,” jawabku sambil duduk. Aku mencoba melihat isi rungan direkturku ini, kayaknya Ia orang agamis. Aku lihat banyak lukisan ayat-ayat Alquran yang terpampang di dinding ruangan ini. Yang paling aku suka adalah lukisan yang terpampang dipojok bagian barat, yang bertuliskan ayat “Inna ma’al ‘usri Yusroo”. Ayat ini memang menjadi favorit bacaan saya ketika sedang punya masalah. Yakin, setelah kesusahan pasti akan ada kemudahan. Begitulah kira-kira prinsip yang diajarkan pada ayat Alqur’an ini. “Sudah lengkap berkas yang saya minta?” tanya direktur mengagetkanku. “InsyaAllah lengkap” ujarku sembari memberikan berkas yang aku bawa. beberapa menit Ia periksa, lalu Ia berkata “Bagus, sudah lengkap, mulai minggu depan sudah bisa mulai kerja”. Sungguh senang hati ini mendengar ucapan sang direktur. “Baik bu, terimakasih atas kesempatannya, sungguh senang bisa menjadi bagian dari keluarga besar perusahaan ini” ujarku.

Baca Juga:  Menag: Bicara Kemanusiaan, Kita Semua Mengenang Gus Dur

Karena jadwal kerja masih minggu depan, aku pulang kampung setelah sekian lama berkelana ditanah rantau. Sesampainya di kampung, aku disambut senyuman ibu yang telah lama aku gak lihat. Sungguh indah senyumannya meskipun umurnya sudah menua. “Sehat kamu Fej? Banyak bersyukur ya atas pencapaianmu ini” ujar ibu menyambutku di depan pintu. “Iya Buk, terimakasih doanya yang gak pernah henti-henti untukku” ujarku. “Ayo makan, aku sudah masak ikan asin kesukaanmu” ujar ibu. “Ayo buk, memang aku sudah lapar dari tadi” jawabku senang. Memang seperti biasanya, kalau pulang kampung pasti disambut dengan makanan asin kesukaanku mulai dari SD.

Sudah 4 hari aku di rumah, dari ujung timur kampung sampai ujung barat telah aku sambangi melepas rasa rindu kepada sanak saudara. Entah kenapa banyak dari mereka yang bertanya “Kapan nikah”, jangankan nikah, calon aja belum punya. Bahkan ada salahsatu saudaraku yang menasehatiku agar mencari calon istri yang juga berasal dari perusahaan tempatku bekerja.

Hari keenam di rumah akhirnya tiba, berarti aku harus balik ke Bandung, besok pagi sudah mulai kerja. Sama seperti biasanya, ibuku pasti menyuruhku membawa ikan asin kesukaanku, awalnya aku menolak, karena baunya luarbiasa menyengat. Tapi akhirnya aku bawa meskipun dengan berat hati.

***

Mandi pagiku ini tidak seperti biasanya, kalau hari biasanya, aku hanya sikat gigi, pakai shampoo, dan pakai sabun. Tapi spesial untuk pagi ini, aku menambah paket lulur dan sabun muka, semoga aja bisa tampil modis untuk pertama kali ngantor.

Setelah saya berada di depan kantor, kayaknya masih sepi. Maklumlah saya datangnya kepagian. Aku mencoba masuk dan didepan pintu, aku disapa dengan senyuman resepsionis. “Bapak Fejri ya? Ruangan bapak ada di paling utara itu ya,” ucap resepsionis sambil menunjukkan ruanganku. “Wah ruanganku mewah sekali” gumamku. Juga ada tulisan nama saya dimeja, Fejri Alamsyah, S.T (Konsultan Proyek). Beberapa menit aku duduk, ada karyawan yang masuk ke ruanganku dan memberkan job description untuk bulan ini. Selah saya baca keseluruhan, Alhamdulillah tidak ada yang berat dan menyita pikiran.

Hari-hari berjalan lancar, hingga pada suatu hari saya dipanggil ibu direktur yang pada saat itulah aku mengalami kisah yang sakral. “Yth. Fejri, diharap menghadap direktur perusahaan saat ini juga”. Begitulah bunyi email yang masuk ke ponselku. Kemudian aku bergegas menuju lantai 2 ruangan direktur perusahaan ini. Ketika aku keluar dari lift, tak disangka ibu direktur telah menyambutku di depan ruangan. “Pagi Fejri, bagaimana hari-harimu diperusahaan?” ujarnya. “Alhamdulliah baik Bu” Jawabku.

Ketika aku masuk keruangan, percakapan dimulai.

“Tau kenapa kamu dipanggil kesini?”

“Maaf, saya tidak tau Ibu”

“Jangan panggil aku ibu, panggil saja windi”

“Oke siap windi”

“Aku hanya ingin nanya aja, kenapa kamu dulu pas test interview, jawabnya Cuma punya modal orang tua yang mendoakan untuk kesuksesanku?”

Aku termenung sebentar, mencoba merangkai kata-kata agar jawabanku diterima dengan baik oleh ibu direktur. “Saya rasa selain tuhan, aktor yang menentukan kesuksesan seseorang adalah orang tua. Orang tuaku, tak henti-hentinya mendoakan setiap siang dan malam untuk kebahagiaan dan kesuksesanku. Juga sudah jelas, ‘dalam hadis menyatakan bahwa keridhaan Allah berada pada keridhaan orang tua, begitupun sebaliknya, kemurkaan Allah berada pada kemurkaan orang tua’. Jadi dirasa gak salah saya mengatakan bahwa orang tua adalah modal utama saya dalam mengarungi kehidupan.” Ujarku.

Tiba-tiba sang direktur menangis. “Terimakasih atas motivasinya ya Fej” ujarnya.

“Saya tidak memberikan motivasi kok. Cuma bicara apa adanya tentang hidupku”

“Iya paham, tapi ceritamu membuatku termotivasi dan menyesal dengan apa yang saya lakukan kepada kedua orang tuaku dulu”

“Memang ada apa dengan orang tuamu dulu?”

Baca Juga:  KPK Amankan 8 Orang dalam OTT di Mesuji, Lampung

“Aku bisa dikatakan adalah anak yang durhaka dan tidak pernah menghargai jasa kedua orang tuaku. Tapi maaf, saya gak bisa membicarakan kepadamu. Masalahku pelik sekali, aku malu”

“Kok bisa begitu? Cerita aja, siapa tau aku bisa membantu menyelesaikan masalah masa lalumu”

Suasana menjadi hening, lalu windi melanjutkan ceritanya, “Aku terlahir dari orang tua yang sangat miskin, hampir setiap hari kita hanya makan 1 kali. Tapi orang tuaku gak pernah mengeluh dan bahkan hidup kami agamis. Hingga suatu saat aku mendapat beasiswa kuliah di luar negeri. Akupun berangkat ke luar negeri dan satu pesan dari orang tuaku, ‘Jangan lupakan kami bapak dan ibu ya nak’, saat berjalan 1 tahun kuliah, aku ditelpon oleh sepupuku, bahwa bapakku meninggal dunia karena asma, tapi reaksiku pada saat itu biasa-biasa saja. Bahkan aku gak kepikiran pulang karena 2 hari lagi pada saat itu akan berlangsung ujian. Berkali-kali sepupuku nelpon, tapi saya abaikan. Pikiranku pada saat, kematian adalah takdir, sehingga meskipun aku pulang kampung tidak akan merubah nasib bapakku. Hingga 2 tahun berlalu, lagi-lagi sepupuku menlponku, kali ini Ia bilang, ‘Ibumu meninggal nduk’, reaksiku pada saat itu sama, tidak mau pulang, biarkan saudara-saudaraku yang menguburkannya. Sekali lagi pikiranku, kalau sudah takdir, ngapain digugat.?” Suasana hening dan kali ini Windi megusap air matanya.

Dengan tersedu-sedu kemudian Ia melanjutkan ceritanya lagi, “suatu saat, saya sakit keras, biasanya saya dimasakin bubur sama ibuk kalau sakit, dan ibuk selalu memberi semangat agar bisa cepat sembuh. Tapi, pada saat itu kenangan menghiasi pikiranku hingga aku menyesal tak pernah menghubungi ibu ditengah kesibukanku menjadi mahasiswa. Sakitku sampai seminggu dan tidak ada seseorang pun yang merawatku. Hingga pada akhirnya aku sembuh dengan sendirinya, tapi rasa penyesalanku tetap ada, kenapa aku tidak menghargai kedua orang tuaku”. Windi kembali mengusap air matanya.

Entah kenapa aku juga terbawa perasaan sedih dan rasanya ingin ikut menangis. Kemudian, windi melanjutkan ceritanya lagi “Meskipun aku sekarang sudah sukses dengan jabatan direktur, tapi rasa bersalahku kepada kedua orang tua tetap ada”. Aku mencoba menenangkan pikiran Windi yang telah terbawa ke masa lalu yang kelam, “Salahsatu jalan yang masih terbuka untuk kamu adalah berusaha menjadi pribadi yang taat kepada agama dan selalu mendoakan kedua orang tuamu agar ditempatkan yang terbaik di alam sana” Ujarku.

Aku mencoba mengalihkan pembicaraan agar windi tidak laru dalam kesedihan masa lalu. Hampir satu jam kita bicara basa-basi, hingga pada akhirnya adzan dzuhur dikumandangkan. “Mohon izin keluar, saya mau shalat dzuhur Win,” ujarku. “Iya silahkan Fej, terimakasih telah menjadi teman ngobrolku” kata windi. “Ayo kita shalat dzuhur di masjid, ingat, paling utamanya shalat adalah yang di awal waktu” ajakku pada windi. “Iya, ayo Fej” ujarnya.

Sejak saat itulah windi selalu meminta saya menjadi teman curhatnya. Entah apa yang ada dipikirannya, kenapa harus aku yang selalu diajak mendengarkan cerita. Kadang Ia bertanya tentang agama, maklum sebelumya tidak pernah belajar tentang agama, yang ia tau cuma shalat dan puasa. Dalam beberapa kesempatan, Ia juga mengajak aku makan dan memperkenalkan dengan teman-temannya.

Kadang juga risih, suatu saat windi mengajakku makan dan memeperkenalkan dengan temannya. Windi bilang bahwa aku adalah guru privatnya dalam urusan agama. Padahal, saya tidak pintar-pintar amat tentang keislaman. Tapi, biarkan saja apa kata windi. Intinya saya bisa berbuat baik kepada orang lain dan dapat mengamalkan ilmuku yang sedikit dan terbatas ini. Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah orang yang bermanfaat untuk manusia lain? Alhamdulillah, semoga saya diberi kekuatan dan kesempatan menjalankan prinsip ini.

****

Entah apa yang ada dibenak Windi, inilah yang membuat hidupku berubah yang semula aku belum siap menerima kenyataan ini. Suatu saat aku berpapasan dengannya di salah satu toko buah dekat alun-alun kota. Aku lihat, Ia membeli alpukat. Lalu Ia berkata “Hei Fejri, kebetulan nih, kamu mau nggak kalau aku ajak ke rumahku?” ujarnya. “Ada acara apa di rumahmu ya?” tanyaku. “Gak ada apa-apa sih, cuma makan-makan aja. Ayolah, kan besok kantor libur” jawab Windi. “Iya wes, ayo” kataku sedikit sungkan.

Saat tiba di rumahnya, aku lihat ada kakek yang duduk santai ruang tamu. Lalu aku hampiri dan bersalamannya dengannya. Lalu kakek itu berkata “Kamu Fejri calon suaminya Windi ya?”. Aku termenung gak paham apa yang dimasud si kakek ini. “Windi sering menceritakanmu nak” imbuhnya. “Iya terimakasih kek” ujarku singkat. Apa benar Windi menceritakan bahwa aku adalah calon suaminya? Pikiranku bingung. Sudahlah, mungkin kakeknya Windi ini pikun.

Enak juga masakan Windi, sampai aku kekenyangan. Aku tiduran di kamar depan sambil menunggu jam 23.00 WIB. Dari dulu memang aku tidak bisa tidur kalau belum jam 23.00 WIB. Suara notifikasi WhatsApp mengagetkanku. Setelah aku buka, ternyata notifikasi dari Windi. “Mohon maaf sebelumnya Fej. Kakekku tadi bilang kamu adalah calon suamiku. Memang kakekku ingin sekali aku cepat menikah. Jadi aku bilang kamu adalah calon suamiku. Tapi jauh dari itu, aku benar-benar mencintaimu Fej” Isi pesan Windi. Astaga, ini aku mimpi apa sadar ya, kok benar-benar mengagetkan. “Maksudnya apa Win?”

Baca Juga:  Cerpen: Cupang Kesayangan

“Jujur aku mencintaimu Fej”

“Jangan bercanda lah, aku kenal sama kamu baru seminggu yang lalu”

“Saya tidak memandang baru kenal atau tidak. Tapi kepribadianmu sangat aku kagumi”

“Nanti ajalah, bukan waktunya sekarang”

Hari-hariku semakin menegangkan, entah apa yang akan terjadi, aku pasrah terhadap takdir yang Allah rencanakan. Lagi-lagi, Windi memanggilku di waktu istirahat kerja. “Duduk Fej” ujar windi menyambutku.

“Fej. Aku serius ingin mengenalmu lebih jauh”

“Apa dasarmu ingin mengenalku lebih jauh”

“Aku tidak memandang seseorang dari mana ataupun kaya tidaknya, pertimbanganku cuma satu, bisa menuntunku menjadi pribadi yang lebih baik”

“Seberapa yakin kamu percaya terhadapku?”

“Saya melihat pribadimu dari kelakuan setiap hari, taat shalat dan ngaji Alquran, aku belum menemukan karawan seperti kamu yang mempunyai kesibukan lebih, tetapi tidak meninggalkan urusan agama”

“Saya akan menerimamu, jika orang tuaku merestui”

“Baik saya tunggu”

Malamku terasa sangat menegangkan. Mengenai hubungan dengan seseorang adalah hal yang sakral. Maklum aku belum mengalaminya. Tapi aku sadar, umurku sudah hampir kepala tiga, saatnya mengambil keputusan. Dengan itu, aku menelpon orang tuaku utuk meminta restu terhadap hal yang saya alami ini.

“Iya Fej, sehat kamu?”

“Enggeh Buk. Aku mau bilang, ada yang melamar menjadi istriku Buk”

“Apa? Siapa sih yang mau sama kamu, hahaha”

“Aku gak guyon buk. Direktur perusahaan tempat aku bekerja melamarku”

“Kalau ibuk sih terserah kamu aja, intinya serius dalam berhubungan, karena ini menentukan nasibmu kedepan”

“Berarti direstui Buk?”

“Iya saya restui”.

Akhirnya pikiranku lega juga mendengar restu dari ibukku. Aku akan beri tau Windi tentang hal ini.

Pagi ini aku pergi kekantor dengan naik ojek online. Sepedaku tadi malam bocor dan gak sempat aku bawa ke bengkel. Sesampainya dikantor, kok Windi gak kelihatan sama sekali ya? Padahal setiap pagi biasanya dia lewat denpan ruanganku dan selalu menyapaku. Jam istirahat siangpun tiba. Windi biasanya memanggilku, kok sekarang tidak? Aku mencoba melihat keruangannya, tetapi suasananya sepi sekali. Aku mencoba bertanya ke resepsionis kantor, “Bu Windi gak masuk hari ini mas. Katanya lagi ada acara keluarga” ujar resepsionis.

Aku mencoba menghubunginya lewat pesan WhatsApp, aku beritahu dia bahwa orang tuaku telah merestui hubungan kita. “Win, ini ada kabar baik. Ibukku merestui hubungan kita, dia Cuma berpesan agar sama-sama menjadi pendamping hidup yang baik”. Ternyata centang satu. Kenapa pikiranku gak enak ya? Apa mungkin ada apa-apa dengan Windi? Gak mungkin lah. Aku mencoba menelponnya, “Nomer yang anda tuju tidak aktif”. Waduh. Ada apa ini.

Dzuhurku, kumencoba menenangkan diri dengan membaca surat Alquran.  Semoga saya dengan Windi baik-baik saja. Suara riuh didepan kantor membangunkanku dari lamunan. Ada apa ya kok teman-teman nangis semua, ku coba menghampiri mereka. “Ada apa kok kamu nangis?” tanyaku pada salahsatu karyawan. “Bu Windi kecelakaan, dia meninggal dunia” jawabnya lirih. Tak terasa air mataku tumpah.

Ya Allah, kok secepat ini kau menjemputnya. Cinta pertamaku yang baru saja aku rangkai kini telah sirna. Aku tau ini keputusanmu, tapi jangan secepat ini ya Allah. Skrenariomu sungguh tak bisa aku tebak. Ku mencoba meninggalkan keramaian dan duduk di belakang kantin. “Pintaku Cuma satu ya Allah, semoga dia tenang dan tempatkanlah Ia di sisimu yang terbaik. Bagaimanapun Ia adalah teman sekaligus orang yang berperan dalam mengubah hidupku ke jenjang yang lebih serius. Kutitip dia ya Allah. Semoga aku bisa dipertemuka dengannya nanti” Gumamku lirih. Belum percaya akan takdir ini.

***

Begitulah kisah cinta pertama yang aku alami. Aku mencoba menuliskan kisah ini di malam yang sendu ini, agar nanti menjadi bukti bahwa mencintai seorang adalah kehendak tuhan. Kita tidak bisa menentukan kisahnya sendiri. Semua telah ada skrenarionya. Dan kini aku benar-benar menikmati skrenario tuhan ini.

Jember, 7 Maret 2019

*Is’adur Rofiq, Mahasiswa Teknologi Pertanian Universitas Jember

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: [email protected]

Baca: 10 Hal Yang Harus Diketahui Sebelum Kirim Tulisan ke Nusantaranews.co

Loading...

Terpopuler