Connect with us

Budaya / Seni

Binar-Binar Sore di Sawah Belakang Rumah

Published

on

Binar-Binar Sore di Belakang Rumah FOTO:(Indian Art Gallery)

Binar-Binar Sore di Belakang Rumah FOTO:(Indian Art Gallery)

Puisi Galang Pambudi Anggara

Binar-Binar Sore

Bapak mulai berkemas
Saat siluet sore menebas tipis
Pada jendela dan sela sela ruangan
Dan bayangan memeluk perkakas

Sore itu syahdu
Tanpa deru dan ocehan
Lalu bapak menuruni tangga pelan
Membawa beban dan kepingan

Sore itu sendu
Cuma siluet dan beberapa kelas pekerja
Sekelebat mereka menghilang
Menyisakan jejak kesepian

Sore itu bapak pulang
Mengeringkan peluh dan mengurai senyum
Mendekap erat dan menggusap nyaman
Dan binar binar sore nampak bahagia.

 

Organ Bingung

Pada masa kepala dua
Semua terjadi
Begitu saja juga sengaja
Lalu kulihat kaca
Dan bisik bisik itu menyerbu perlahan
Dengan beraninya bertanya
‘yakin sudah masuk waktu cukup?’
Dan pantulan diriku bergeming seketika

Pada masa kepala dua
Aku hanya keheranan dan mematung
Melihat mereka menjadi berbeda rupa
Besar kecil dan beraneka
Batinku terhenyak sesaat
Lalu menimpali singkat
‘mungkin ini realita’
Ucapnya lirih sedikit memaksa
Aku menunduk, ikut membatin
Kemudian berlalu
Tanpa peduli

Pada masa kepala dua
Lagi lagi organ tubuh ini bertanya
Tentang tempat dan bagaimana seharusnya
Sebab kerja mereka mulai membosankan
Kukira hanya masalah waktu dan beberapa hal tentang rehat
Ternyata aku muak juga mendengarnya
‘jadi sampai kapan aku memompa cairan merah ini?’, ucap jantung tegas
‘sampai si ajal selesai dengan yang lain’ jawabku ketus

Lagi lagi pada masa kepala dua
Semua organ tubuh diam
Menolak bekerja
Sebab bingung dan tidak mau membaca
Perihal petunjuk baik
Dan beberapa nasihat
Lalu aku kembali melihat kaca
Kemudian mulut dengan beraninya
Senyum dan berucap
‘semua akan indah pada waktunya’

Baca Juga:  Cak Imin Tulis Twitt Begini Saat Listrik Padam Total

Yogyakarta, 2016

 

Sawah di Belakang Rumah

Sawah dibelakang rumah
Tidak sampai berhektar-hektar
Suara kodok
Burung kuntul
Dan beberapa cengkerama petani
Lalu sore menjelang
Kemudian ashar berkumandang
Setelahnya ada riuh tepak-tepak kecil
Kelas dua sampai tiga SD sepertinya
Adik kecil ghaida muncul dari pintu
Melihat nenek sebelah
Sedang menyapu
Pada jarak yang panjang
Dan semua sekarang berubah
Sore itu, hanya rindu.

Palagan, 24 Mei 2016

Galang Pambudi Anggara, penulis puisi tinggal di Yogyakarta. Bisa menjalin komunikasi via online di Fb (Galang Pambudi Anggara) dan Twitter (@galangpribumi).

Loading...

Terpopuler