Connect with us

Mancanegara

Beredar Isu Blackwater Bakal Gantikan Pasukan Militer AS di Suriah dan Afghanistan

Published

on

pasukan militer as, perusahaan militer swasta, blackwater, korporasi militer swasta, nusantaranews, erik prince, tentara bayaran, perang suriah, perang afghanistan

Tentara bayaran Blackwater.

NUSANTARANEWS.CO – Muncul kekhawatiran baru usai Presiden Donald Trump berencana menarik pulang seluruh pasukan militer AS dari Suriah dan Afghanistan. Rencana itu dinilai semata hanya trik Presiden Trump belaka karena sejatinya eskalasi konflik di Suriah dan Timur Tengah masih terus bergejolak.

Presiden Trump dinilai sengaja menarik pasukan militer AS dari Suriah untuk menggantikannya dengan Blackwater. Artinya, Trump akan berusaha untuk memprivatisasi keterlibatan Amerika di Suriah dan Afghanistan dengan menandatangani proposal Blackwater, sebuah korporasi militer swasta yang didirikan Erik Prince.

Baca juga: Pasukan AS Ditarik dari Suriah, America First dan Wacana Pedamaian Presiden Trump

Baca juga: Task Force Suriah dan Rusia Berhasil Menggagalkan Serangan Senjata Kimia Oleh Militer Swasta Inggris di Idlib

Dugaan Blackwater akan dikerahkan menggantikan pasukan AS ini muncul setelah Majalah Recoil ediri terbaru memuat iklan perusahaan militer swasta tersebut bertuliskan ‘We are coming‘.

Selama ini, Blackwater USA dikenal sebagai tentara bayaran paling kejam dan terlibat sejumlah skandal yang memaksa mereka merubah namanya menjadi Akademi.

Pengunduran diri James Mattis juga dikaitkan dengan dugaan pengerahan Blackwater di Suriah dan Afghanistan. Penolakan Mattis terkait keterlibatan Blackwater di Timur Tengah disebut-sebut sebagai salah satu pemicu pengunduran dirinya dari lingkungan pejabat kepercayaan Presiden Trump.

Loading...

Baca juga: Anggaran Pertahanan AS Nyaris Sentuh Angka Rp 11 Ribu Triliun

Baca juga: Benarkah Freeport Dijaga Tentara Amerika?

Kendati cukup lama vakum, Blakcwater disebut-sebut aktif berkomunikasi dengan Trump, dan berusaha melobi untuk menggantikan kehadiran militer AS di Suriah dan Afghanistan sebagai tentara bayaran.

“Dengan mundurnya Mattis, patut diduga Trump telah menimbang ulang proposal yang sempat diajukan Price,” kata analis keamanan Pentagon, Micahel Maloof kepada Russia Today.

Namun, Maloof tidak begitu yakin kontraktor militer swasta AS mampu memberikan pengaruh di lapangan. Pasalnya, kata Maloof, tiga kontraktor militer swasta yang didirikan di Suriah dan Afghanistan banyak mengalami kegagalan.

“Memang, Erik Prince sangat dekat dengan Trump. Tetapi dia harus melihat situasi traumatis dan juga akan memakan biaya tidak sedikit,” kata Maloof.

Baca juga: Bahaya Mispersepsi Antiterorisme di Indonesia

Selain itu, Maloof meyakini publik AS tidak akan mendukung Blackwater untuk turun menggantikan tentara militer AS di Suriah dan Afghanistan. Terlebih, kontraktor militer swasta itu tercatat pernah melakukan kejahatan kemanusiaan pada 2007 silam di Nisour Square, Baghdad. Sedikitnya 14 warga sipil dibunuh.

“Saya tidak berpikir publik Amerika akan mendukung mereka yang telah begitu banyak melakukan kejahatan di masa lalu,” kata aktivis politik, Medea Benjamin kepada Russia Today.

“Erik Prince dan tentara bayaran mendapatkan uang dengan melanjutkan perang, bukan malah mengakhirinya,” ujar Medea.

(eda/asq)

Editor: Almeiji Santoso

Terpopuler