Connect with us

Hankam

Benarkah Terorisme Telah Berhasil?

Published

on

brigade merah jepang, teroris jepang, teroris berhasil, terorisme berhasil, keberhasilan teroris, terorisme sukses, teroris sukses, teroris media, terorisme politik, politik teroris, politik terorisme, politisasi terorisme, aksi terorisme politik, nusantaranews

Tentara Merah Jepang (Japanese Red Army/JRA) atau Anti-Imperialist International Brigade (AIIB) yang disebut kelompok teroris Jepang. (Foto: Koji Wakamatsu)

NUSANTARANEWS.CO – Pada tahun 2006 silam seorang peneliti terorisme dan kontra terorisme Byron Jenkins menegaskan kembali bahwa dewasa ini terorisme jauh lebih mematikan terutama pasca tragedi 11/9 di New York. Teroris ingin ditonton orang banyak dan menginginkan korban semakin tinggi dalam setiap aksi terorisme yang dilancarkan. Hal ini seolah memperkuat tesis yang menyebutkan bahwa teroris cukup berhasil melancarkan aksi terorismenya dalam berbagai peristiwa.

Salah satu dari lima asumsi tentang aksi terorisme ialah terrorism is successful. Byron Jenkins menduga teroris, baik individu maupun kelompok cenderung ingin mempertontonkan aksi-aksinya sehingga kekhawatiran publik semakin tinggi.

Memasuki dekade kedua milenium ketiga, serangan teroris tampaknya semakin mematikan, dan semakin banyak menelan korban. Contoh paling spektakuler ialah peristiwa 9/11 yang meruntuhkan Menara Kembar Trade Center, di New York City. Tak tanggung-tanggung, serangan itu menewaskan lebih dari 2.900 korban tewas dan 6.000 orang mengalami luka-luka.

Setahun kemudian, tepatnya pada 12 Oktober 2002 meletus rangkaian peristiwa pengeboman di Kuta, Bali. Sedikitnya 202 korban jiwa dan 209 orang lainnya luka-luka atau cedera. Kemudian pada 13 November 2015, serangan menghantam Paris, Perancis. Sebuah rangakaian serangan di beberapa titik yang menelan korban setidaknya 153 orang tewas.

Berikutnya pada Januari 2017 seorang pria bernama Stephen Paddock melakukan tindakan pembunuhan massal di konser musik country di Las Vegas. Sedikitnya 59 orang tewas dan 515 lainnya luka-luka setelah Paddock melepaskan tembakan membabi-buta terhadap kerumunan orang yang tengah menyaksikan sebuah konser musik.

Organisasi Al Qaeda mengaku bertanggung jawab atas serangan 11/9 di New York. Sementara serangan di Paris, Perancis diklaim kelompok ISIS. Serangan bom bunuh diri di ruang konser musik di Manchester pada 22 Mei 2017 juga diklaim ISIS. Demikian pula serangan bom di Barcelona pada 2017 silam.

Di Indonesia, aksi bom bunuh diri di Kampung Melayu, Jakarta Timur juga diklaim ISIS. Melalui situs Amaq News Agency, ISIS juga mengklaim dalang di balik insiden kerusuhan narapidana terorisme (Napiter) di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. Dan ISIS kembali mengklaim bertanggung jawab insiden bom di Kota Surabaya yang menewaskan 11 orang dan melukai 41 lainnya. Serta masih banyak lagi peristiwa teror di sejumlah negara di dunia yang diklaim ISIS, termasuk teror serangan bom yang mereka rencanakan dalam pembukaan perhelatan Piala Dunia 2018 di Rusia.

Menurut Byron Jenkins maksud dari ‘terorisme sukses’ ialah kesuksesan mereka menjadi berita utama sejumlah media massa di seluruh dunia dan itu terbilang rating yang sangat tinggi dalam agenda politik. Sehingga, kata dia, tidak salah juga definisi terorisme itu memuat kata-kata, motif dan tujuan politik. Sebab, tak jarang aksi terorisme itu merupakan suatu instrumen untuk mencapai tujuan politik tertentu melalui kekerasan dan intimidasi.

Menurut Jenkins, ada banyak cara untuk mengukur keberhasilan terorisme baik langsung maupun tidak langsung. Ambil contoh misalnya, terorisme bisa disebut berhasil jika aksi mereka mampu menciptakan korban jiwa yang sangat tinggi. Atau ketika muncul anggapan bahwa mereka adalah aktor yang sangat kuat sehingga dapat menjajaki kemungkinan bernegosiasi dengan otoritas berwenang atau pemerintah.

Singkatnya, dengan besarnya liputan media dan tingkat ketakutan publik bisa menjadi dua instrumen untuk menilai bahwa terorisme berhasil mewujudkan tujuan politiknya dengan teror, kekerasan dan intimidasi.

Merujuk David Rapoport, aksi terorisme dewasa ini hampir mirip dengan peristiwa-peristiwa terorisme pada gelombang ketiga, di mana salah satu cirinya ialah kelompok teroris ingin mendapatkan perhatian dan menekan pemerintah agar melakukan sesuatu.

Hanya saja pada gelombang ketiga terorisme cenderung tidak memprioritaskan kematian sebagai agenda utama aksi terornya. Sementara terorisme abad modern ini lebih mematikan, lebih berdarah, bahkan kematian warga dalam skala besar sehingga benar-benar menghadirkan teror yang dahsyat. (red/ed/nn)

Editor: Eriec Dieda

Komentar

Advertisement

Terpopuler