Connect with us

Hukum

Bayu Kristanto Bongkar Semua Fakta Kasus BMG Australia ke Presiden Jokowi

Published

on

Presiden Jokowi (Foto: Muh Nurcholis/NUSANTARANEWS.CO)

Bayu Kristanto Bongkar Semua Fakta di Balik Kasus BMG Australia ke Presiden Jokowi. (Foto: Muh Nurcholis/NUSANTARANEWS.CO)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Mantan Manager Merger dan Investasi pada Direktorat Hulu PT Pertamina, Bayu Kristanto membongkar semua fakta di balik kasus investasi PT Pertamina di Blok Basker Manta Gummy (BMG) Australia yang telah menjeratnya kepada Presiden Jokowi. Hal itu ia sampaikan melalui surat terbuka yang diterima redaksi, Senin, 30 Juli 2019.

Dalam suratnya tersebut, Bayu meminta agar mengenai kasusnya tersebut bisa disampaikan ke Pemerintah RI, yakni Presiden Jokowi beserta pejabat pemerintah lain serta masyarakat di seluruh Indonesia. Ia menjelaskan, dirinya memiliki semua fakta beserta barang bukti lengkap terkait perhitungan kerugian negara yang dituduhkan dalam kasusnya di BMG Australia Pertamina.

Menurut Baytu, dari laporan keuangan anak Perusahaan PT. PHE (yang mengelola PI di Blok BMG setelah diakuisisi) tahun 2009 dan 2010, dimana biaya akuisi telah dibebankan semua dalam Laporan Keuangan Konsolidasi Laba Rugi PT. PHE tahun 2009.

Mereka (PT. PHE) menyebutnya dilakukan impairment atau Pencadangan Kerugian. Namun faktanya lanjut dia, investasi atau participating interest di Blok BMG tidak ada lagi dalam Laporan Keuangan PT. PHE tahun 2010, 2011 dan 2012.

Sehingga jelas bahwa investasi Pertamina di Blok BMG telah diakui rugi atau dibiayakan dalam laporan keuangan PT. PHE tahun 2009. Atau dihapus dalam Laporan Keuangan PT. PHE tahun 2010 dan seterusnya.

Loading...

Padahal menurut Bayu, Pertamina melakukan akuisisi pada tanggal 27 Mei 2009, namun dalam Laporan Keuangan PT. PHE tahun 2009 investasi di Blok BMG telah dihapus (dianggap rugi). Dan dalam laporan keuangan PT. PHE tahun 2010 sudah tidak ada investasi Pertamina di Blok BMG Australia.

Baca Juga:  Sertijab Gubernur Jatim Tak Dihadiri Gus Ipul

“Hanya dalam hitungan bulan, investasi Pertamina di Blok BMG dihapus oleh Anak Perusahaan Pertamina PT. PHE (Pertamina Hulu Energy),” ungkap Bayu dalam keterangan tertulisnya.

Baca Juga: Sebut Menyerah di Blok Corridor, CERI Desak Pejabat Pertamina Dicopot

Dirinya mengungkapkan, penghapusan investasi Pertamina di Blok BMG Australia oleh Anak Perusahaan PT. PHE awalnya dari Perintah Divestasi oleh Komisaris Pertamina (Humayun Bosha dan Umar Said) melalui Memorandum 23 Juni 2009. Tanda tangan Dokumen Jual Beli (Sale Purchase Agreement) participating interest di Blok BMG ditanda tangani pada tanggal 27 Mei 2009 dan kurang dari 1 bulan, yaitu tanggal 23 Juni 2009 sudah diperintahkan di Divestasi oleh Komisaris Pertamina.

“Yang aneh dan mengherankan, biaya yang dibebankan dalam Laporan Laba Rugi PT. PHE tahun 2009 bukan hanya biaya akuisisi sebesar 30 juta USD, tetapi termasuk biaya cash call tahun 2010, 2011 dan 2012. Total biaya yang dibebankan dalam laporan keuangan PT. PHE sebesar Rp. 568.066.000.000,” ujarnya.

Biaya tahun 2010, 2011 dan 2012 dibebankan dalam Laporan Keuangan Laba-Rugi konsolidasi PT. PHE  tahun 2009. Menurut Bayu itu sangat aneh.

“Saya Bayu Kristanto pada tahun 2009 adalah Manager Merger and Acquisition, pada waktu akuisisi PI di Blok BMG Australia bertindak sebagai koordinator Tim Kerja. Mulai penyelidikan, penyidikan, hingga sidang telah menyampaikan hal-hal di atas. Tetapi sulitnya setengah mati. Banyak orang-orang di Pertamina dan luar Pertamina berusaha menutupi hal-hal yang saya ceritakan di atas, bahkan istri saya termasuk diintimidasi,” sambungnya.

Tak hanya itu, salah satu pimpinan di Pertamina dan beberapa karyawannya juga turut mengintimidasi dirinya untuk tidak menceritakan di sidang dan lainnya mengenai Kondisi dan Nilai Blok BMG saat ini. Diketahui Nilai Blok BMG saat ini sekitar 8 kali lebih besar dibandingkan nilai blok BMG pada saat Pertamina akuisisi tahun 2009. Blok Basker, Manta dan Gummy saat ini dimiliki 100% Cooper Energy dan juga Perusahaan tersebut sebagai Operator Blok BMG saat ini.

Baca Juga:  Poster 'Raja Jokowi' dan Terbongkarnya Skenario Politik Playing Victim

Bayu menjelaskan, manajemen Pertamina memutuskan akuisisi PI 10% di Blok BMG dengan harga 30 juta USD. Tanda tangan SPA 27 Mei 2009.

Pada tahun 2007 Sojitz Perusahaan asal Jepang membeli PI 10% di Blok BMG dengan harga sekitar 100 juta USD. Selanjutnya pada tahun 2008 Itochu dari Jepang kemudian membeli PI  10% di Blok BMG dengan harga 100 juta USD.

Dalam kasus yang menjeratnya hukum 8 tahun penjara itu, JPU atau Jaksa Penuntut Umum menggunakan Kantor Akuntan Publik Drs. Soewarno Ak dari Ciputat Tangerang untuk menghitung Kerugian dari investasi Pertamina di Blok BMG.

“Mereka menghitung kerugian dari Laporan Keuangan PT. PHE tahun 2009 dan 2010, dikarenakan Management PT. PHE telah membukukan kerugian sebesar  Rp. 568.066.000.000,- maka terjadi kerugian yang dialami Pertamina sebesar 568.066.000.000,” kata Bayu.

Menurutnya, jelas yang mengakibatkan kerugian adalah penghapusan PI di Blok BMG oleh Management PT. PHE pada tahun 2009. Namun anehnya, ia yang hanya Koordinator Tim Kerja pada saat akuisisi justru dituduh bersama-sama korupsi merugikan negara.

“Saya tidak ikut dalam pengelolaan PI di Blok BMG dan tidak ikut sama sekali dalam penghapusan PI di Blok BMG dalam laporan keuangan Konsolidasi PT. PHE tahun 2009 dan 2010,” jelasnya.

Diberitakan bahwa Pertamina Korporat melakukan Divestasi pada tahun 2012 dan withdrawal pada tahun 2013. Namun bagaimana yang sebenarnya terjadi adalah Anak Perusahaan PT. PHE telah menghapus PI di Blok BMG pada akhir tahun 2009, tetapi Pertamina Korporat melakukan Divestasi tahun 2012.

“Pelepasan PI di Blok BMG secara cuma-cuma terjadi pada tahun 2013 atau pada saat harga minyak lebih dari 100 USD per barrel? Mohon disampaikan ke Pemerintah RI, DPR dan seluruh rakyat Indonesia mengenai semua yang terjadi dengan kasus BMG Australia Pertamina,” tandasnya.

Baca Juga:  Puskesmas Pragaan Canangkan Pendaftaran Online untuk Pasien

Pewarta: Romandhon

Loading...

Terpopuler