Connect with us

Ekonomi

Asia Jadi Kekuatan Sentral Perekonomian Global

Published

on

asean, ulang tahun asean, hut asen, kelahiran asean, century of asia, visi asean, negara asean, komitmen asen, stabilitas asean, konflik asean, kepentingan asean, kekompakan asean, kebangkitan asia, nusantaranews

Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN). (Foto: Istimewa)

NUSANTARANEWS.CO, JakartaAsia telah menjadi kekuatan sentral dalam perekonomian global. Sebab, akan menjadi kali pertama sejak awal abad ke-16 konsentrasi kekuasaan ekonomi global terbesar bergeser ke kawasan Asia.

Menurut Peneliti Kebijakan Lingkungan dari Institute of Strategic and International Studies Malaysia, Adnan Hezri, Century Asia ini dapat mencapai setengah dari output global, melalui perdagangan dan investasi pada tahun 2050 mendatang.

Dalam sebuah forum diskusi tentang Potensi Asia sebagai Sumber Daya Nexus Global yang berlangsung di Center for Southeast Asian Studies (CSEAS), Kyoto University, di Kyoto, Jepang, pertengahan Juni lalu, Hezri mengatakan akibat dari perkembangan ekonomi yang cepat di kawasan Asia maka hanya dalam beberapa dekade negara-negara Asia telah mengalami gejolak lingkungan yang intensif.

“Di antaranya, perubahan penggunaan lahan yang melibatkan konversi lahan berhutan dan ekosistem alami lainnya, telah menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati dan mengganggu sistem pendukung kehidupan lingkungan,” katanya.

“Perubahan dinamika kehidupan itu berdampak pada penghidupan dan kesejahteraan manusia, menghadirkan tantangan dengan memadukan dimensi ekologi, ekonomi, dan sosio-politik dengan implikasi lokal dan global,” tambah.

Loading...

Implikasi Nexus

Meski demikian, katanya, pada tahun 2050 dengan 9.2 miliar orang yang hidup di planet ini, dunia perlu meningkatkan produksi pangan sebesar 60%-70% untuk memberi makan populasi yang terus bertambah. Termasuk produksi energi global harus meningkat sebesar 40%. Tetapi tantangannya terletak pada ketersediaan sumber daya air yang dibutuhkan untuk menghasilkan makanan dan energi.

“PBB memperkirakan bahwa pada tahun 2030, dunia akan menghadapi defisit air 40%. Bagaimana kita memberi makan orang pada tahun 2050 dan mencukupkan kebutuhan mereka? Bagaimana kita menangani Nexus atau integrasi air, makanan, dan energi ini? Ini adalah tantangan terbesar di zaman kita. Sumber daya strategis ini seperti air, energi, makanan saling terkait erat.

Baca Juga:  30% dari 750 Ribu IKM Sandang Adalah Industri Fashion Muslim

Hezri menjelaskan, perkembangan global saat ini meningkatkan kebutuhan manusia akan sumber mata air, energi dan makanan (Water, Energy and Food/WEF) serta sumber daya lahan dan mineral di kawasan Asia. Sekaligus memunculkan berbagai potensi konflik yang menjadi tren global dan tantangan di kawasan Asia terkait ketersediaan WEF pada tahun-tahun mendatang.

“Setiap negara berupaya mempertahankan sumber daya alamnya, seperti ketersediaan air, energi dan makanan, yang akan mencukupi bagi masyarakatnya. Jika mungkin, negara tersebut juga akan mencoba mensuplai kebutuhan negara lain,” terang Hezri.

Kolaborasi untuk Citarum

Sementara itu, kerjasama antara Lembaga Penelitian untuk Kemanusiaan dan Alam (Research Institute for Humanity and Nature/RIHN) di Jepang dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), mencoba berkolaborasi untuk memahami skenario masa depan Bendungan Jatiluhur di Sungai Citarum.

Pasalnya, Sungai Citarum merupakan salah satu wilayah yang paling berkembang di Indonesia. Karena itu, ada perdebatan dalam upaya mengintegrasikan pembangkit listrik tenaga air (masalah energi), perikanan budidaya dan budidaya padi (masalah makanan), dan degradasi air dalam hal kualitas dan kuantitas (masalah air) di daerah aliran sungai (DAS) Citarum di Jawa Barat.

“Jika hubungan atau nexus tidak ditangani dengan baik, maka sumber energi, air, dan produksi makanan untuk penduduk di sekitar Citarum hingga Jakarta dapat berisiko,” katanya.

Sejalan dengan itu, dia menjelaskan bahwa permintaan keamanan sumber daya alam (SDA) di Asia juga akan meningkat. Termasuk keamanan jalur perhubungan regional yang melibatkan titik-titik permasalahan WEF, keterkaitan antar air, energi dan makanan (WEF), serta mengapa WEF penting bagi Asia.

“Tantangan juga nexus juga datang dari Cina, India, dan Malaysia. Karena itu, perlu dibentuk kelembagaan yang mengelola Nexus pada tingkat regional dan nasional. Artinya, integrasi ketiganya perlu dijaga dan dikembangkan optimal untuk mampu menjawab tantangan zaman,” papar Hezri.

Baca Juga:  Sajak-Sajak Yuli Latifah

Transformasi Asia

Ia mengungkapkan bahwa dalam beberapa dekade terakhir Asia telah melihat perubahan dan transformasi yang cepat pada sektor ekonomi, sosial, politik, dan budaya. Termasuk kebutuhan akan lahan alami dan pertanian yang kini bergeser ke daerah urban. “Secara historis, hal ini belum pernah terjadi sebelumnya,” jelas Hezri.

Beberapa isu megatrends yang berkembang adalah soal demografi dan sosial; pergeseran kekuatan ekonomi; kelangkaan sumber daya dan perubahan iklim; inovasi teknologi, urbanisasi, serta ketimpangan global, kata Hezri. “Isu megatrends ini sebaiknya diperhatikan secara optimal sehingga memberi dampak positif bagi upaya pemeliharaan potensi WEF di kawasan Asia. Sebab, jika tidak ditangani dengan baik, ketidaknyamanan terhadap persaingan WEF dapat menjadi hambatan bagi stabilitas sosial dan pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

Tantangan Nexus

Meskipun sumber daya Nexus menghadirkan ancaman baru, kata dia, namun nexus juga menawarkan peluang baru untuk menggunakan pendekatan yang berfokus pada interkoneksi, sinergi dan integrasi kebijakan antar sektor.

Pendekatan Nexus berupaya merekonsiliasi ketergantungan terhadap air, energi, makanan sehingga masyarakat dapat memenuhi kebutuhan mereka tanpa mengorbankan keberlanjutan lingkungan.

“Salah satu prinsip utama pembangunan berkelanjutan adalah refleksivitas tata kelola, di mana pengetahuan benar-benar diintegrasikan ke dalam pembuatan kebijakan melalui pemantauan berkelanjutan dan evaluasi interdependensi yang ada. Baik antara air, energi dan makanan sebagai hasil dari siklus alami dan penggunaan manusia,” tambah Hezri lagi.

Pemahaman nexus, tambah Hezri, masih kurang dipelajari dalam konteks Asia, terutama terkait penggunaan energi dan pembangunan cadangan sumber daya yang efisien di daerah perkotaan. Sehingga titik masuk untuk kerjasama Nexus di wilayah ini juga terbuka pada banyak sektor.

“Lebih penting lagi adalah, diskusi tentang sumber daya nexus memberikan pemahaman integrasi baru bagi para peneliti dan pengambil keputusan, serta antara ilmu alam dan sosial,” terang Hezri.

Baca Juga:  Sri Mulyani: Pemerintah Sudah Cairkan Dana Rp 985,8 Miliar untuk Bencana Lombok

Pemahaman Nexus

Konsep Nexus sebagai sumber daya holistik tidak hanya terkait dengan politik dan kelembagaan, namun juga terkait domain bisnis dan kemasyarakatan untuk membangun ketahanan di semua bidang.

“Dapat dibilang, karena kerangka kerja Nexus yang ada adalah pendekatan berbasis proses penggunaan sumber daya dan preferensi analisis sistem serta pemodelan atas strategi empiris lainnya, maka kerangka kerja ini juga melibatkan peran swasta dalam menentukan kebijakan energi dan perubahan iklim,” terangnya.

Sehinggga kesetaraan di antara individu dan masyarakat dalam agenda pembangunan lokal dan global menjadi prinsip integral pada wacana Nexus sebagai sumber daya. Tujuannya, agar pemahaman Nexus memiliki pengaruh yang lebih luas dalam kebijakan publik di seluruh Asia, ungkapnya.

Apa itu Nexus?

Menurut Alfred North Whitehead, nexus merupakan suatu istilah untuk menunjukan jaringan entitas aktual dari alam semesta. Di alam semesta jaringan entitas tersebar di mana-mana, yang pada dasarnya Nexus sendiri merupakan sebuah istilah yang diungkapkan untuk mengungkapkan bahwa semua elemen itu saling mempengaruhi satu sama lain.

Dalam hal ini yang menjadi topiknya adalah pangan, air dan energi. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan berakhirnya era produksi minyak murah, maka produksi minyak dan gas bumi akan membutuhkan air dalam jumlah yang sangat besar, baik itu merupakan produksi shale gas, coalbed methane, panas bumi atau energi atom sekalipun. Semuanya membutuhkan serta melibatkan air dalam jumlah yang fantastis. Besar sekali pengaruhnya pada sumber daya air yang ada saat ini. Energi juga berkaitan erat dengan makanan, sebab beberapa sumber energi seperti biomass merupakan sumber makanan juga. Terlihat sudah, bahwa semua elemen tersebut saling mempengaruhi satu sama lain. Sehingga para ahli untuk saat ini perlu mengelola energi, air, serta pangan secara terintegrasi.

Editor: Eriec Dieda

Loading...

Terpopuler