Connect with us

Ekonomi

Angin dan Matahari Tumpuan Ketahanan Energi Masa Depan

Published

on

Energi Baru Terbarukan Dari Angin dan Matahari

Energi Baru Terbarukan Dari Angin dan Matahari

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Masa depan ketahanan energi dunia kelak akan bertumpu pada dua hal yakni energi yang bersumber dari angin dan matahari. Munculnya beragam teknologi canggih seperti turbin angin serta panel surya merupakan bukti bahwa rezim sumber energi berasal dari fosil akan segera ditinggalkan.

Bloomberg New Energy Finance (BNEF) melalui Michael Liebreich mengatakan bahwa energi bersih (energi baru terbarukan) akan mendapatkan jatah sebanyak 86 persen dari 10,2 triliun. Kesemuanya itu akan diivestasikan dalam pembangkit listrik pada tahun 2040 mendatang.

Dalam sebuah presentasi koferensi kelompok peneliti di London pada 20 September 2017, Liebreich mengatakan teknologi angin (turbin angin) dan matahari (panel surya) merukan sumber energi bersih yang ekonomis daripada bahan bakar fosil.

Baca Juga:
Kendaraan Ramah Lingkungan Tandai Runtuhnya Rezim BBM
Membaca Tanda-tanda Zaman Ambruknya Rezim BBM Dunia

BNEF sendiri dilaporkna telah mengamati kecenderungan tersebut sejak 2004 silam. Untuk turbin angin, mereka melihat pertumbuahannya dengan model yang direncanakan oleh Siemens dan VESTAS Wind System yang telah merancang rentang sayap lebih besar pada jetbander kelas Airbus A380.

Selanjutnya, Jerman telah mengembangkan turbin angin di lepas pantainya untuk kebutuhan penyediaan listrik tanpa subsidi.

Energi listrik yang dihasilkan angin dan sinar matahari tentu saja lebih bersih dan ekonomis. Sehingga, Liebreich memprediksi beberapa tahun ke depan pembangkit listrik yang menggunakan gas alam dan batubara akan tak lagi menarik. Selain tak ramah lingkungan, tetapi juga semakin mahal. “Angin dan matahari lebih murah,” kata dia.

Sejumlah negara seperti Jepang, India, Jerman dan China diprediksi akan menjadi negara-negara yang paling terdepan memanfaatkan energi angin dan matahari beberapa tahun ke depan. Jepang berusaha menerapkannya pada 2025, Jerman dan India pada tahun 2030.

Baca Juga:  Sebatang Cinta Perindu Sukma - Puisi Dewi Sukmawati

Pewarta: Alya Karen

Loading...

Terpopuler