Marsekal Muda (purn) TNI AU, Koesnadi Kardi (Foto: Dok. UNJ/Istimewa)
Marsekal Muda (purn) TNI AU, Koesnadi Kardi (Foto: Dok. UNJ/Istimewa)

NusantaraNews, Jakarta – Pengamat Pertahanan dan Keamanan Nasional Koesnadi Kardi menyatakan aksi saling tembak sesama anggota Brimob di Blora, Jawa Tengah menunjukan rendahnya kualitas dan mentalitas anggota Brimob. Hal tersebut disebabkan karena pendidikan yang dijalankan oleh Polri tidak memenuhi standar

“Pendidikan polri yang waktunya cukup sekarang dikurangi. Supaya jumlah polri anggotanya berkurang. Akibatnya kualitas atau mentalitas kurang terlatih, sehingga gampang sekali mengeluarkan peluru,” ungkap Koesnadi saat dihubungi Nusantaranews.co, Kamis (12/10/2017).

Koesnadi menjelaskan Polisi di negara maju seperti Inggris tidak dibekali senjata akan tetapi dibekali dengan tongkat. Selain itu polisi dibelaki juga dengan kemampuan tentang psikologi untuk menangani para pelaku tindak kejahatan.

“Polisi di negara lain seperti inggris itu senjatanya tongkat. kemudan kemampuan tentang psikologi itu ada. Itu diajarkan di inggris,” jelasnya.

Menurut Koesnadi tewasnya tiga anggota Brimob di Kabupaten Blora, Jawa Tengah yang di duga saling tembak mendikasikan lemahnya pendidikan dan doktrin Polri terhadap anggota.

“Saya kira kalo pendidikan cukup, kemudian Doktrinya kuat, saya kira tidak akan berbuat begitu,” tandasnya.

Pengajar Universitas Indonesia itu menyarakan kepasa Institusi Kepolisian untuk memperbaiki standar pendidikan Polri agar kejadian serupa tidak terulang kembali.

“Pertama Pendidikan sesuai dengan standar yang bertingkat,” katanya.

“Kedua polisi itu kan bertanggung jawab kepada manusia, tidak sama dengan militier, bagaimanapun juga yang dihadapi polisi itu rakyat itu harus disadari seperti itu, oleh karena itu penegakan hukum harus diutamakan bukan penggunaan senjata,” pungkasnya.

Pewarta: Syaefuddin A
Editor: Ach. Sulaiman

Komentar