Connect with us

Mancanegara

Amerika Serikat Bodoh Bila Memaksakan Perang Dengan Iran

Published

on

Amerika Serikat Bodoh Bila Memaksakan Perang

Amerika Serikat bodoh bila memaksakan perang dengan Iran. Presiden Iran Hassan Rouhani dan Presiden Rusia Vladimir Putin dalam sebuah pertemuan/Foto: Sputniknews

NUSANTARANEWS.CO – Amerika Serikat bodoh bila memaksakan perang dengan Iran. Presiden Iran Hassan Rouhani mendesak Amerika Serikat (AS) untuk kembali ke Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) dan mulai melanjutkan negosiasi dengan Iran. Rouhani menyerukan kepada Eropa dan AS agar berpikir rasional dan kembali ke meja perundingan, saling pengertian, menghormati hukum serta mematuhi keputusan Dewan Keamanan PBB dalam kondisi ini, kata Presiden Iran itu.

Rouhani juga mengatakan bahwa Iran tetap berkomitmen pada kesepakatan nuklir dan akan 100 persen patuh padanya, begitu pula harapannya dengan penandatangan yang lain, kata Rouhani.

Seperti diketahui, pada bulan Mei 2018, AS secara sepihak mengambil kangkah menarik diri dari JCPOA (Joint Comprehensive Plan of Action), perjanjian multilateral antara Iran, AS, Inggris, Rusia, Cina, Prancis, Jerman dan UE untuk mencegah agar Iran tidak mengembangkan senjata nuklir, tapi memungkinkan Iran untuk mengembangkan energi nuklir bagi tujuan damai.

Presiden Trump mengklaim bahwa Teheran tidak mempertahankan kesepakatan nuklir itu meskipun telah berulang kali mendapat jaminan dari komunitas intelijen AS, Shin Bet Israel (dinas keamanan internal) dan IAEA bahwa Iran telah patuh sepenuhnya.

Namun Presiden Trump justru mulai memberikan sanksi keras berkali-kali kepada Iran. Bahkan berusaha keras menghentikan ekspor minyak Iran sampai ke titik nol dan menutup akses perdagangan Iran di pasar internasional.

Loading...

Bukan itu saja, AS juga mengancam negara sekutunya untuk tidak mencoba memotong sanksi dan perdagangan dengan Iran. Tapi ancaman ini malah diabaikan oleh banyak negara. Uni Eropa pun menentang dengan memberlakukan undang-undang pemblokiran pada Agustus 2018 yang secara efektif dapat membatalkan sanksi AS.

Baca Juga:  KPK Didesak Periksa Irwan Nasir

Tapi tampaknya pemerintah AS telah berjudi dan mempertaruhkan segalanya di Iran. AS terus menuduh Iran ingin mengembangkan senjata nuklir, meski semua bukti menunjukkan itu bukan senjata nuklir.

Sementara para pemimpin Iran telah berulang kali menyatakan bahwa senjata nuklir bertentangan dengan kepercayaan Iran dan ajaran agama Islam.

Menyalahkan Iran sepertinya telah menjadi bagian dari propaganda terhadap Iran. Pada Mei 2019, ketika dua kapal tanker mendapat serangan di Teluk Oman, AS dengan cepat langsung menyalahkan Iran, meskipun Iran tidak memiliki motif sama sekali, bahkan Uni Emirat Arab yang biasanya bermusuhan dengan Iran mengakui tidak ada “bukti yang jelas, ilmiah dan meyakinkan” bahwa Iranlah pelakunya.

Propaganda terus berlanjut, pada 20 Juni 2019, ketika Iran menembak jatuh pesawat mata-mata tanpa awak AS RQ-4A Global Hawk, yang beroperasi secara diam-diam dan melanggar ruang udara Iran – AS langsung mengklaim penembakan itu berada di atas perairan internasional.

Namun insiden itu dibantah oleh Nikolai Patrushev, Sekretaris Dewan Keamanan Rusia, yang menyatakan bahwa Rusia memiliki bukti bahwa pesawat drone itu memang sedang berada di atas wilayah ruang udara Iran ketika ditembak jatuh. Patrushev juga mengatakan bahwa “bukti” yang diajukan oleh AS untuk menuduh Iran berada di belakang serangan terhadap kapal-kapal tanker di Teluk Oman adalah “buruk dan tidak profesional.”

AS bodoh bila memaksakan perang dengan Iran. Berperang dengan Iran adalah salah satu pintu tercepat menuju Perang Dunia Ketiga (WW3). Selama ini, AS memang dengan mudah dapat menyerang negara-negara lain di kawasan regional Timur Tengah, seperti Irak, Libya, Suriah – tapi tidak Iran. Iran adalah negara tangguh dengan militer dan persenjataan yang sangat maju serta memiliki sekutu yang kuat seperti Rusia dan Cina. (Agus Setiawan)

Baca Juga:  Western Digital Memperluas Kemampuan ActiveScale™, Peningkat Kinerja Pengelolaan Pertumbuhan Data Berskala Exabyte
Loading...

Terpopuler