Connect with us

Budaya / Seni

Aku Mulai Membayangkan Menjadi Kamu

Published

on

Sebatang Cinta Perindu Sukma. (FOTO: NUSANTARANEWS;.CO/Lukisan by Kaola Oty "The loverss ")

Sebatang Cinta Perindu Sukma. (FOTO: NUSANTARANEWS;.CO/Lukisan by Kaola Oty “The loverss “)

Puisi Robiatul Adawiyah

Aku Mulai Membayangkan Menjadi Kamu

Kala malam mulai menjelma
Dan sunyi kian menyapa
Rindu kembali merayu bersama kenangan.
Disana masih terdapat harapan yang bergelantungan
Entah kepada siapa aku bertanya
Perihal harapan yang tak sempat dijumpai oleh pemiliknya.
Namun, aku masih saja sibuk menepis bayangmu dan dongeng yang selalu aku deskripsikan dalam lamunan terhebatku.

Aku mulai membayangkan menjadi kamu.
Aku ingin mengambil belati
Menyobek kulitmu dan kutanam jantungku di dalam detak nadimu
Biar kau tak alpa mengingatku.
Aku ingin sekali menanam rindu di pori-pori kepalamu.
Dan memetik pertemuan sebagai buah-buahan yang disajikan waktu kepada kita.

Aku mulai membayangkan menjadi kamu.
Dimana, kamu adalah aku. Dan aku adalah kamu. Kita menyatu.
Tak perlu lagi banyak bicara. Apalagi berjanji.
Karna segalanya adalah kita.

Aku mulai membayangkan menjadi kamu.
Aku dapat meraihmu setiap waktu.
Bersandar dibahumu
Bercengkerama digenggamanmu
Berbaring dipelukanmu
Dan berakhir dikecupan syahdumu.
Kita takkan terpisah
Sebab cinta kita abadi.

Aku mulai membayangkan menjadi kamu.
Hidup di pelataran nadimu
Menikmati setiap desahanan nafasmu
Mengetahui jalan pikirmu
Dan merasakan rasa-rasa yang pekat dalam hatimu.

Sejak jarak dan waktu mulai memainkan perannya
Aku tumbuh menjadi pecandu rindu
Rindu menjelma seperti pil ekstasi
Dapat membuatku mabuk dan terbang melayang.

Pada malam-malam yang khidmat
Aku mulai membius nadiku dengan rindumu.
Sesekali aku merubah posisi tidurku
Agar air mataku tak lagi jatuh dibantal bulukku.

Rinduku tak berakal
Tapi dia kekal.
Rinduku tak bernama
Tapi dia bernyawa.
Rinduku teramat lugas
Tanpa kata seperti, semacam dan lain sebagainya.

Baca Juga:  Greenomics Tuduh Zulkifli Teken Pelepasan Kawasan Hutan untuk Sawit di Masa SBY

Jakarta, 02 Agustus 2016

Bersulang Kasih

Hidup ini
Adalah keindahan
Dialah yang memberimu luka
Dialah yang memberimu kemegahan
Tersenyumlah sedikit untuk lukamu
Karena disitulah keindahan
Yang membuat kemegahan
Dihati dam jiwa
Senyumlah
Teruslah tersenyum
Sampai senyumanmu
Akan menjadi air mata kesucian
Mari
Balut luka
Dengan sedikit senyum kita
Mari tumpahkan air mata
Diatas gelas yang tersedia
Mari
Bersulang kasih diatas meja
Hidup ini,
Penuh warna cinta
Lihatlah
Cinta telah tampak dikedai rasa
Tuang dikit lagi
Inilah keindahan kita.

Jakarta, 06 Juli 2016

Robiatul Adawiyah, Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Jakarta Timur. Penyuki kopi tanpa gula, puisi dan prosa.

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]

Loading...

Terpopuler