Connect with us

Budaya / Seni

Aku Hanya Ingin Menuntaskan Kisah Kita dalam Buku Ini, Tak Ada Harap Apa-apa

Published

on

Aku Hanya Ingin Menuntaskan Kisah Kita dalam Buku Ini, Tak Ada Harap Apa-apa. (Ilustrasi: Science Film The Words)

Aku Hanya Ingin Menuntaskan Kisah Kita dalam Buku Ini, Tak Ada Harap Apa-apa. (Ilustrasi: Science Film The Words)

Puisi M. Ramli Sa’ed

AKU HANYA INGIN MENUNTASKAN KISAH KITA DALAM BUKU INI, TAK ADA HARAP APA-APA

Kau boleh menuduhku sesukamu, aku tidak peduli itu. Apapun tuduhanmu terhadapku  tidak akan pernah membuatku semakin ingin melupakanmu. Aku tidak mau terbu-buru untuk melupakanmu. Karena dalam sebuah perjalanan ini masih banyak hal yang harus aku benahi, walaupun sendiri. Aku akan menikmati sepenuhnya kesunyian ini. Akan aku undang semua sunyi dan kisah tentang kita untuk hadir disini, mendengarkan semua apa yang aku ceritakan nanti. Aku tak berharap banyak hadirnya mereka disini. Aku hanya ingin mereka mendengarkan dan mengingatkan jika ada yang salah dengan ingatanku. Aku tak ingin ada satu kisah pun diantara kita yang tak kutulis di buku ini. Sebab, aku ingin menuntaskan semua tentang kita menjadi satu dalam buku ini. Dan akan aku beri judul “Misteri cinta pertama”.

Sebelum sampai di akhir cerita buku ini, jika nanti kau membacanya. Aku punya pesan untukmu; Jaga hatimu dari sesuatu yang mungkin bisa membuatmu bersedih. Dan jika mungkin tulisan ini yang akan membuatmu bersedih karena teringat aku.  Aku minta kamu berhenti membaca buku ini. Karena aku menulis kisah ini bukan untuk membuatmu sedih, melainkan hanya ingin mengabadikan kisah kita yang merupakan sesuatu paling berharga dalam hidupku.

Aku tidak tahu kamu berhenti atau malah melanjutkan membaca buku ini. Namun jika benar kamu  melanjutkan, aku harap kamu sudah mengerti dan memahami arti dari pesan diatas. Jika tulisan ini benar-benar membuatmu sedih, itu salahmu sendiri yang memilih untuk melanjutkannya. Perlu kau tahu, saat kamu bersedih membaca kisah ini, mungkin saat itu aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, meski pada hakikatnya hati ini masih utuh milikmu. Sebab kamu sudah bersuami. Juga bukan hal yang tidak mungkin ketika nanti kamu membaca buku ini, hati ini sudah bukan lagi milikmu. Mungkin saja sudah aku berikan untuk orang lain, orang yang juga mungkin mampu membuatku sangat berarti dalam hidup. Atau mungkin aku sudah tiada, sudah pergi meninggalkan semua yang ada di muka bumi ini untuk selamanya.

Baca Juga:  Dulu Anti Islam, Kini Muallaf, Kisah Religius Politisi Belanda
Loading...

Tak banyak pintaku padamu jika Tuhan menakdirkan kamu membaca buku ini. Aku hanya ingin meminta maaf kepadamu jika dengan adanya tulisan ini membuatmu sedih. Namun aku berharap kamu tidak merasakan itu semua. Jika yang terjadi malah sebaliknya, tulisan ini membuatmu sedih karena harus mengingatku lagi, bakar saja buku ini, sebab bukan maksudku membuatmu sedih.

Tangerang, 23 Juni 2018

M Ramli Sa’ed adalah nama pena dari Moh. Romli, lahir di Bicabi Dungkek Sumenep Madura 12 Januari 1995, bergiat di Sastra Gubuk Reot Dungkek Pesisir Sumenep. Ia seorang remaja yang ingin mengelilingi dunia dengan Sastra. Dan saat ini ia sedang menebus Takdirnya di Jakarta. Kumpulan Puisi Terbarunya: MISTERI CINTA PERTAMA (2018). Karya-karyanya dimuat di sejumlah media cetak/daring diantaranya: Haluan, Medan Bisnis, Riau Realita, NusantaraNews.co, Go Cakrawala, Buana Kata, Satelit Post, Radar Banyuwangi, Linifiksi, Padang Ekspres, Malang Post dan Kabar Madura. Karyanya juga pernah dibukukan bersama di FAM INDONESIA.

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: redaksi@nusantaranews.co atau selendang14@gmail.com

Loading...

Terpopuler