Connect with us

Puisi

5 Puisi karya Supadilah Iskandar

Published

on

5 Puisi karya Supadilah Iskandar

5 Puisi karya Supadilah Iskandar

Covid-19 dan Takdirku

Sudah tersurat dalam buku catatan-Mu sejak bumi ini diciptakan,

bahkan sebelum bumi ini diciptakan.

Suatu penyakit yang kelak dinamakan Covid-19 akan menggerogoti tubuhku ini,

juga virus-virus yang kelak dinamakan Corona akan menyerang tubuhku ini.

 

Mereka menamakannya Covid-19,

meskipun sudah ada dalam sebutan-Mu ribuan dan jutaan tahun lalu,

bahkan sebelum penciptaan makhluk-makhluk-Mu

yang kecil maupun yang besar di jagat raya ini.

Juga ketika mereka memberi nama Corona

sudah ada dalam buku catatan-Mu penamaan virus itu,

jauh-jauh hari sebelum tercipta wujudnya,

bahkan bermutasi sebanyak jutaan hingga miliaran mikro-organisme itu.

 

Makhluk tak kasatmata itu terlihat melalui mikroskop berteknologi tinggi

dan dikendalikan dengan obat-obat tertentu yang merupakan ciptaan-Mu juga.

Kalau makhluk itu menyebar oleh tangan-tangan jahil

atau oleh kehendak setan dan iblis-iblis,

pada hakikatnya setan dan iblis itu pun makhluk ciptaan-Mu juga,

dan kehendak mereka berlaku atas izin dari-Mu juga.

 

Sahabatku,

Tidak ada kehendak makhluk sehebat apapun dapat berlaku tanpa izin-Nya.

Tidak ada kekuatan makhluk secanggih apapun, baik itu kekuatan jin dan manusia

yang terlepas dari kontrol dan kendali-Nya.

 

Ya Allah ya Tuhanku, aku tahu Kau telah tetapkan segalanya,

bahkan sebelum kelahiranku di muka bumi ini.

Aku tahu jika tertera dalam buku catatan-Mu

bahwa aku akan masuk surga, maka wajib bagiku untuk masuk ke dalam surga-Mu.

Tetapi sebaliknya, jika Kau telah tentukan aku masuk ke dalam neraka,

maka tidak ada kesempatan bagiku untuk menempati surga indah-Mu.

 

Tapi semua takdir itu hanya Kau Yang Mengetahui misteri dan rahasianya.

Tak ada satu pun makhluk yang diberi kewenangan mengetahui misteri-Mu,

Baca Juga:  Peluang Indonesia dalam Ketegangan Hubungan Dagang AS dan Cina

perihal nasib baik dan buruk yang menimpa makhluk-makhluk-Mu seluruhnya.

 

Ya Allah ya Tuhanku,

aku tahu Kau Maha Menciptakan kepastian

dan Maha Mengubah kepastian itu.

Ya Tuhanku, Kau telah tetapkan bagi Ayub penyakit yang menggerogoti tubuhnya,

tetapi karena ketekunan dan kesabarannya, ia kemudian terangkat

dan pulih kembali seperti sedia kala.

 

Kau telah tenggelamkan Yunus dan membiarkan ia termakan oleh ikan paus.

Lalu Kau katakan mengenai dirinya: “Kalau seandainya Yunus tak memohon ampun

atas kesalahannya, maka akan Kami biarkan ia meringkuk di dalam perut paus

hingga hari kiamat.”

 

Ya Allah ya Tuhanku,

ketika Kau sudah tetapkan takdir-Mu bahwa aku akan tenggelam hari ini,

biarkan diriku ini tenggelam, ya Allah….

Jikalau Kau sudah tetapkan diriku ini terjatuh saat ini, biarkan aku terjatuh, ya Allah….

 

Tetapi berilah kami sekoci-sekoci yang indah dan nyaman untuk kami tempati

di sekitar tenggelamnya kami,

dan berilah kami kasur-kasur empuk hingga kami merasa tenteram dan nyaman

atas kejatuhan itu.

 

Ya Allah ya Tuhanku…

Aku yakin Kau Maha sanggup mewujudkan semua itu.

Dan aku yakin Kau Maha Kuasa untuk mengubah takdir-takdir

yang Kau tetapkan dalam hidupku.

Maafkan kami, dan ampunilah kesalahan-kesalahan kami,

ya Allah, ya Tuhan kami…. (*)

 

 

 

Hati-hati yang Terjaga

Aku punya mau, kau punya mau, mereka semua punya mau.

Tanpa penjagaan kuat dari Sang Penjaga hati,

maka hati-hati itu sudah tentu akan saling bertabrakan.

 

Aku punya ambisi dan cita-cita, kau punya obsesi dan kemauan,

mereka juga punya hasrat dan keinginan.

Maka, jika tanpa penjagaan ketat oleh Yang Maha Penjaga,

Baca Juga:  MQ-9A Reaper Kini Lebih Mematikan

hasrat-hasrat itu tentu akan saling bertubrukan.

 

Aku ingin menjadi presiden, kau ingin menjadi presiden,

mereka semua ingin menjadi presiden.

Tanpa dikendalikan oleh Sang Pengendali

dan digagalkan oleh Sang Penggagal,

maka kehendak-kehendak itu akan saling berbenturan satu sama lain…. (*)

 

 

 

Biarkan Mereka Marah

Selalu akan ada daya tarik dan daya penentangnya,

sebagaimana cinta dan benci, kawan dan lawan,

bahkan terang dan gelap.

 

Ketika kebenaran disampaikan, maka muncullah kekuatan

yang menjadikan kesalahan sebagai motor penggeraknya.

Ketika keadilan diperjuangkan, maka muncullah perlawanan

yang menjadikan kesewenangan sebagai tandingannya.

Ketika kita menyuarakan kebaikan dan kesantunan,

senantiasa kebencian dan kedengkian akan menjadi perintangnya.

Ketika kita menyampaikan keadilan Tuhan,

senantiasa muncul pertentangan yang menyuarakan ketidakadilan-Nya

 

Biarlah gelap itu ada, sebagaimana kebencian dan kedengkian di sekitar kita

hadapilah mereka dengan cara-cara terbaik.

Yang menjadi tugas kita dalam hidup ini adalah kebaikan dan kebenaran

yang harus ditegakkan,

biarpun terdengar kabar bahwa esok akan datang hari kiamat. (*)

 

 

 

Hasrat tak Tertahankan

Adakah sesuatu yang lebih menyakitkan daripada seseorang

yang merasa lapar dan dahaga,

tetapi tak sedikit pun air dan makanan

yang bisa memasuki kerongkongannya?

 

Adakah sesuatu yang lebih menyengsarakan

daripada orang yang kebelet ingin buang air,

tetapi tak ada sesuatu pun yang bisa keluar

melalui kandung kemih dan anusnya?

 

Dan adakah sesuatu yang lebih menderita

ketimbang orang yang ingin bernafas,

tetapi ia mengalami sesak nafas yang tak tertahankan? (*)

 

 

 

Kiamat Akan Tiba

Sebatang pohon mangga hendak ditanam Arif,

tetapi banyak orang menentangnya,

mereka mengabarkan bahwa esok hari kiamat akan tiba.

Baca Juga:  Masih Tinggi, DPRD Jatim Desak Pemprov Fokus Atasi Gizi Buruk di Bangkalan

 

Teman yang satunya menceramahi Arif,

bahwa kiamat sudah di ambang pintu.

Tetapi Arif tetap tekun menggali lubang

untuk menanam pohon itu.

 

Seorang rivalnya lagi, memberi petuah kasar

bahwa pohon itu tak ada gunanya karena kiamat segera tiba.

Arif terus saja menanam pohon mangga itu

dan menyiraminya dengan tekun dan telaten.

Ternyata, dugaan mereka tidak meleset,

esok lusa datanglah kiamat itu.

 

Tak lama kemudian, Arif sudah berdiri tegak di atas bukit Firdaus,

dikelilingi pohon-pohon mangga yang rindang,

dengan buah-buahnya yang mengkal dan matang di sana-sini.

Sementara mereka semua berdiri terpana di kaki-kaki bukit,

dikelilingi pohon-pohon ilalang yang mengering,

tanpa sebatang pun pohon berbuah di sekitar mereka. (*)

 

Penulis: Supadilah Iskandar, pengajar sastra di pedalaman Banten Selatan, menulis cerpen dan esai sastra di berbagai media massa daring dan luring.

Loading...
Advertisement

Terbaru

Advertisement

Terpopuler