Connect with us

Budaya / Seni

41 Hari Menulis Kiamat

Published

on

41 Hari Menulis Kiamat - Cerpen: Ali Mukoddas. (FOTO: NUSANTARANEWS.CO)

Cerpen: Ali Mukoddas

 

Cerita ini berlatar kiamat. Tentang seseorang yang tak tahu kalau itu adalah kiamat. Tentu tidak menarik lagi, bukan, untuk dibaca kalau sudah tahu kisah ini akan bercerita seperti itu? Disarankan pindah ke kisah lain saja. Tapi kalau masih memaksa untuk terus membaca, silakan, penulis tak menanggung resiko semisal dari pembaca ada yang muntah darah, masuk ke rumah sakit jiwa atau kejang-kejang. Penulis juga lepas dari keterikatan fitnah dan cemoohan dari kisah ini, sebab sudah mengingatkan pembaca dari awal kisah ini akan ditulis.

Kiamat, siapa yang menyangka kalau awan yang berkubang di langit-langit bumi selama puluhan hari adalah bagian dari pembersihan umat manusia? Penulis hanya manggut-manggut di depan komputer, angannya mencipta dunia yang begitu tak terbatas untuk dituliskan. Hari pertama saat langit dipenuhi awan tebal, penulis biasa-biasa saja keluar rumah untuk melakukan kegiatan remeh temeh. Sebagian orang di sekitar penulis pun juga demikian, ada yang pergi ke kantor, pasar, dan rutinitas para anak sekolahan. Semua berjalan begitu saja. Bagi penulis, suasana seperti itu cukup membuat mood menulis meningkat, jadi mulai menulislah dia.

Baca Cerpen Ali Mukoddas lainnya:

Kisah pertama, dia mengisahkan dirinya sendiri sebagai penulis, ditulis selama lima hari, lima hari yang kesemuanya berlatar mendung yang tak henti-henti, sama dengan kehidupan nyata di luar dunia fiksinya. Penulis menghentikan kegiatannya untuk sejenak menyimak berita-berita di televisi. Tidak terbitnya matahari selama lima hari karena awan tebal tersebut dianggap fenomena alam oleh para ilmuan dunia. Dari berita yang penulis simak, semerta-merta muncul ide untuk mengarang kisah dunia kabut. Dia menuliskan kejadian riil itu menjadi fiksi. Ditulisnya selama lima belas hari, yang setiap harinya terdiri dari dua paragraf. Dua paragraf tersebut mengisahkan kejadian-kejadian sekitar, tentang orang-orang, alam, dan hewan-hewan. Kebanyakan dari paragraf yang ditulis berisi sindiran-sindiran halus pada manusia yang menertawakan sesuatu yang tak patut ditertawakan. Walau penulis itu tahu bahwa, tingkat kecerdasan seseorang bisa dilihat dari bagaimana orang tersebut memandang kehidupan sebagai kelucuan. Tapi baginya kata-kata itu tak berguna lagi kalau ditempatkan pada, saat kejadian longsor, manusia membuat karikatur longsor dengan pohon teriak-teriak, “rasain kau, manusia! Mampus, mapus kau!”. Manusia lain yang seharusnya bersedih melihat tragedi longsor yang menewaskan beberapa orang tersebut malah tertawa terpingkal-pingkal. Ada pula di paragraf lain, penulis menyinggung tentang manusia yang tidak tahu bedanya konyol dan lucu. Sampai akhirnya cerita itu selesai, awan hitam masih bergumpal di langit-langit bumi.

Fenomena alam yang menyelimuti seluruh bagian langit bumi itu terus disiarkan oleh para wartawan televisi. Ada yang terus-menerus disiarkan secara langsung selama dua puluh empat jam. Ada yang mencoba meliput langsung dari satelit NASA. Tapi semua percuma, tidak ada yang tahu kalau awan yang bertahan selama belasan hari itu adalah bagian dari tanda-tanda. Kemudian para manusia—penulis deskripsikan dalam kisahnya—mulai gelisah karena para petani garam tidak lagi bisa menghasilkan kristal asin, dan para petani sayur memilih menjual mi instan.

Dalam kisah ini, penulis sungguh konyol berusaha menulis tentang kiamat tapi tidak ada gejolak sama sekali di dalamnya. Titik dari permasalahannya pun tidak jelas. Kalau penulis hanya ingin menuliskan kisah kiamat, kenapa malah bercerita tentang usahanya mengarang di beberapa hari yang temaram tersebut? Santailah, pembaca harap tenang dulu, karena penulis masih memutar otak mencari sisi yang pas untuk menceritakan bagian pentingnya. Lagipula, kan dari awal sudah dikata agar tidak mengikuti kisah ini sampai selesai. Penulis senyum-senyum sendiri mengingat dirinya tak patut disalahkan semisal kisah yang ditulisnya nanti tidak bagus amat. “Rasakan kau pembaca!”

Loading...

Pada hari ke dua puluh lima, penulis mulai merasakan gelisah yang amat sangat. Dilihatnya beberapa buku-buku sejarah dunia, pernahkah bumi mengalami hal yang demikian? Mengalami kabut langit yang begitu lama? Karena ada berrak-rak buku di rumahnya, dia kesulitan mencari di buku yang mana? Seharian mencari, kemudian dia tahu bahwa dirinya tak punya buku yang pernah minyinggung fenomena alam. Pilihan terakhir, dia mencarinya di internet. Sayangnya, jaringan internet mulai bermasalah, tanda panah melingkar berputar-putar sampai berjam-jam, kata kunci yang dimasukkan tak memunculkan apa pun di layar, gambar pocong pun tidak, apalagi gambar pembaca. Terpaksa rasa penasaran dan gelisah tersebut dia lemparkan pada tulisan. Penulis kembali menuliskan hal-hal yang, sayangnya, itu tak diperlukan lagi. Kali itu dia menyelesaikan tulisannya dalam waktu dua jam. Lantas ke luar rumah untuk sekadar berjalan kaki tanpa tujuan.

Di luar, semua orang berjalan layaknya sapi kebingungan. Sebagian merindukan sinar mentari, berharap kulitnya sedikit eksotis dengan berjemur di bawahnya. Sebagian lagi merasa bingung atas banyak hal, karena mereka hampir tidak bisa membedakan antara siang, sore atau petang. Lampu-lampu jalanan terus menyala selama awan tebal gelap itu berkubang. Tentu, tenaga listrik mengalir terus-menerus selama awan itu tidak mau lenyap, hampir membuat kwalahan pengelola listrik. Para pengguna tenaga surya berusaha memungut sampah sebanyak mungkin untuk kemdian dijadikan tenaga surya buatan. Konyolnya, kepulan asap malah tampak membuat langit semakin marah menghitam. Seluruh transportasi hampir dihentikan, baik pekerjaan umum, sekolah-sekolah, tapi selalu ada petuah dari presiden dan para ilmuan, bahwa itu hanya fenomena alam yang akan segera berlalu, jadi kegiatan tetap harus berjalan sebagaimana mestinya. Penulis tahu itu tidak lagi biasa, bahwa petuah tersebut tak lain hanya buaian agar semua pendengar cepat tidur. Sebagai penulis yang harus banyak tahu, dan selalu diselimuti kegelisahan, prediksi-prediksinya yang bersifat fiksi hampir selalu benar. Penulis memikirkan bahwa dunia akan segera berakhir. Ditambah ingatan tentang beberapa ilmuwan yang mengemukakan akan menghentikan penuaan sel, agar manusia dapat muda abadi. Semua itu hanya omong kosong belaka bagi penulis. Baginya para ilmuwan itu akan kandas. Kemewahan, harta, kesenangan juga akan segera berakhir. Semua tidak akan dibutuhkan lagi. Pemikiran penulis benar adanya. Lihatlah orang-orang yang bertetangga, mulai memperebutkan hak milik yang entah siapa punya karena kekurangan pangan. Kejadian semacam itu tambah parah pada hari ke tiga puluh lima. Semua orang seperti tidak saling kenal.

Penulis kembali berkutat pada tulisannya. Kemudian kembali menceritakan kejadian-kejadian mencengangakan, seperti seorang majikan yang menyembelih anjingnya, ayam tak lagi bisa bertelur, serta sebutir telur yang bergelinding menjadi rebutan. Kekonyolan benar-benar terjadi. Orang-orang kaya memilih mengurung diri untuk berpura-pura bahagia dengan kekayaannya. Sama sekali tak ingin peduli pada orang miskin yang mulai merasakan hawa dingin karena matahari yang tak kunjung muncul. Sifat keegoisan semua orang mulai tampak. Penulis rasakan itu. Termasuk dirinya sendiri yang merasa egois karena hanya bisa menuliskan kisah ini berhari-hari, menyicilnya seraya menuliskan kisah lain. Bahkan kadang cemas sekaligus angkuh bahwa tulisan ini akan terlantar tanpa pembaca atau berakhir mendapat penghargaan karena telah berhasil merangkum seluruh kejadian selama fenomena awan tebal puluhan hari itu berlangsung.

Bisa jadi tulisan ini adalah hasil kegilaan karena frustasi tanpa matahari. Penulis juga mencemaskan kemungkinan itu. Kecemasan yang buncah di hari ke empat puluh satu, awan tebal tak mau mengalah. Kemudian kecemasan tersebut berubah menjadi rasa takut. Dan rasa takut itu berlari membuatnya menuliskan kisah ini tergesa-gesa, cemas ada potongan kisah yang terlewatkan. Tangan penulis gemetar menari di atas papan tik. Sungguh bingung akan memulainya dari mana.

Pada hari ke empat puluh satu lewat, sebuah sinar yang menyilaukan mata manusia, yang terlanjur menjadi kelelawar puluhan hari, membuat semua manusia menangis meraung-raung. Mereka tidak lupa waktu, jam masih bergulir menunjukkan angka ke sekian. Mereka yang fanatik pada waktu yang terdiri dari dua belas jam, masih sempat santai mengatakan itu matahari sore. Namun mereka yang terbiasa menggunakan jam digital yang mentok sampai dua puluh empat jam, berguling-guling meratap. Sebagaian mengucapkan kata pertobatan. Orang kaya menghambur-hamburkan uang dan emasnya untuk sekitar.

Tahulah, bahwa matahari di pagi ini terlihat di sebelah barat. Fenomena alam apa, coba? Para peneliti dan ilmwan menyatakan itu adalah fenomena alam, matahari tampak seperti muncul dari barat. Sayanya, penulis tak lagi mau percaya pada ilmuwan-ilmuwan. Sebagian yang fanatik pada ilmu pengetahuan santai-santai saja, tidak marasa ada sesal. Namun mereka yang terlanjur terikat dan percaya pada agama, meraung-raung. Termasuk penulis sendiri, dia tidak lagi punya harapan bahwa tulisan ini akan ada yang membaca. Kisah tentang kiamat. Yang benar saja? Selama puluhan hari merangkum kejadian-kejadian dalam bentuk cerita, lantas tidak ada yang membaca karena keburu kiamat? Sungguh kalau bisa, penulis tidak ingin mengisahkan hal mengerikan ini. Bagaimana matahari yang muncul dari barat membuat sebagian besar orang gaduh? Bahkan, mereka yang kemarin terlihat pelit, sok bahagia tiba-tiba menjadi dermawan dan bersedih? Orang-orang yang mengurung diri dalam kamar ke luar, seperti ikut merayakan kemunculan matahari dengan berpura-pura menangis. Ada yang bunuh diri karena tak sanggup, ketaksanggupannya, menurut penulis, mungkin orang itu tadak ingin melihat kiamat secara langsung. Tapi bagaimanalah, antara percaya dan tidak, penulis meyakini, bisa jadi perkataan para ilmuwan adalah bernar, bahwa matahari yang muncul itu bagian dari fenomena alam.

Sampai kisah ini hampir selesai ditulis, telah banyak korban jiwa, bahkan orang mati seperti hewan yang tak dihormati, bergelimpangan di mana-mana. Media televisi yang setia pada pekerjaannya tetap menyiarkan detik-detik hancurnya dunia, termasuk penulis yang masih dengan sekonyol hati menuliskan kisah ini sampai akhir.

Baiklah, kalian yang masih berusaha membaca tulisan ini mungkin sudah muntah-muntah karena terlalu garing. Tak masalah, karena penulis sudah menyatakannya di awal kisah bahwa cerita yang sudah diketahui alurnya tak lagi menarik untuk dibaca. Tak apa, setidaknya kisah tentang berakhirnya dunia telah tertuliskan. Sekarang, penulis mohon pamit mengikuti mereka yang meninggalkan dunia karena takut melihat bagaimana langit kita ini dikuliti, dan bumi mengeluarkan isi perutnya yang mengerikan.

Sampai kisah ini selesai dituliskan, matahari terus bergerak ke arah timur.

Jakarta, 25 Feburari 2018

 

Penulis adalah bagian dari santri Annuqayah, yang menjejakkan kaki dan tangisnya pertama kali di Sampang pada era reformasi. Kunjungi beberapa ceritanya di www.riilfiksi.ga Atau surel dengan alamat [email protected]

 

Terpopuler