Budaya / SeniCerpen

Berjalan Miring

Cerpen: Ali Mukoddas

NusantaraNews.co – Lelaki yang dipanggil dengan sebutan Ring itu memiliki kebiasaan yang membuat semua orang tercengang. Tidak semuanya, tapi paling tidak membuat semua yang melihat memikirkan sesuatu di batok kepalanya. Wartawan yang sedang berhenti memburu berita di warung-warung, lantas matanya tak sengaja menjatuhkan diri pada Ring, wartawan itu akan berlarian mencari tempat yang nyaman untuk mengambil gambar atau merekamnya dalam bentuk video.

Dalam keadaan yang sempit seperti kerumunan dan di tengah kemacetan lalu lintas, melihat Ring tentu tak menjadi masalah. Sebab kancing yang bundar bisa masuk ke lubang yang sempit tidak semerta-merta memasang badan seluruhnya. Sama halnya dengan orang yang ingin cepat melintasi keramaian dengan kepadatan ruang tempat berjalan yang sempit. Dan itu tidak aneh seumpama ada yang seperti Ring.

Perihal nama Ring, nama yang tidak dari orang tua atau menamai dirinya sendiri dengan nama itu akan panjang ceritanya kalau dikisahkan. Singkatnya, nama itu hanyalah lontaran dan hasil dari bisik-bisik orang yang selalu mendapati dirinya di jalanan. Bayangkan saja, kalau Ring berjalan ribuan meter, sedang jalan tak memiliki ujung dan di setiap pinggir jalan itu ada orang, baik yang berjualan, melintas, dan sebagainya melihatnya lalu berbisik kemudian bisikan tersebut menggema ke penjuru yang jauh dari jalan semakin dalam menuju rumah-rumah bahkan tempat tersunyi seperti kuburan dan hutan-hutan hingga kemudian berbalik arah lagi melintasi segala tempat menuju jalanan yang ada Ring sedang berjalan di sana. Keberadaan Ring begitu manis menjadi perbincangan hingga menjadikan namanya seperti itu. Itu hanya panggilan singkat sebenarnya, sebab nama panjangnya sungguh tak mengasikan. Biarlah, kata Ring di setiap mendengar sebutan atas namanya. Dia tidak mempermasalahkan apa yang dilihat orang-orang, padahal mata seringkali menipu, batin Ring. Hanya karena dia keluar rumah melintasi jalanan nama Darmo pemberian orang tuanya menjadi Ring.

“Sebaiknya kamu di rumah saja, Mas Darmo. Percuma kamu berjalan melakukan ini itu di luar sana tapi masih dengan kebiasaan itu. Aku sebagai istrimu malu, Mas. Bagaimana kalau nanti kita punya anak lantas bersekolah lalu anak kita digunjing dan diremehkan hingga menangis? Aku akan ikut sedih, Mas Darmo. Sebaiknya aku saja yang menggantikan pekerjaan, Mas. Andai kebiasaan itu tidak keras kepala dipertahankan, sungguh aku merasa bahagia sangat walau tak diberi uang belanja.”

“Kau sama saja dengan mereka yang melihatku, Bati. Seharusnya sebagai istri kau tahu bagaimana perasaan suami yang sesungguhnya. Apa mungkin hati kau belum menyatu dengan hatiku? Aku ragu, hingga mengapa kita juga pula mempunyai anak. Ditambah lagi, kalau kau memaksaku untuk tetap tinggal di rumah dan menggantikan kau bekerja, lebih baik aku tidak menjadi suami. Itu akan sangat merendahkanku. Maka tutuplah kuping kau, jangan dengarkan perkataan siapa pun.”

Orang yang mencoba menghentikan Ring dari kebiasaannya tidak lagi menghalang-halangi setelah percakapan yang terjadi di dalam rumah itu. Padahal itu malam Jumat, waktu yang tepat untuk bercakap-cakap ringan maupun berat hingga siap tengah malam nanti. Tapi karena percakapan yang tidak mengasyikan di telinga Ring, jadilah malam itu seperti malam-malam biasa yang hampa.

Di kesempatan sebelum percakapan itu pernah pula Bati menasihati agar suaminya mengubah kebiasaannya. Tapi percuma, nasihat itu ditanggapi dengan bualan. Karena menurut Ring, jauh sebelum dirinya menikahi Bati, dia sudah berjalan demikian, lantas mengapa saat menikah si Bati itu mempermasalahkan kebiasaan yang sudah menjadi karakter hidupnya? Ring kira, Bati mau menikahinya karena kebiasaannya itu.

Lupakanlah soal Bati, istrinya menegur karena dia perhatian, tak lebih. Tidak ada yang lebih dipikirkan seorang istri selain kebaikan untuk suaminya. Pekerjaan Ring, yang merupakan hanya penjaga toko di pusat keramaian, bagaimanapun untuk sampai ke sana harus dilalui dengan berjalan kaki, melewati trotoar atau ruas milik jalan. Ring tidak pernah suka mengendarai sesuatu, kecuali sesuatu itu sama dengan kebiasaannya berjalan.

“Orang kok berjalan seperti kepiting. Memang jalan raya ini pantai apa?”

“Sudah, lupakan saja. Istrimu hamil, loh. Nanti kena tula seperti dia.”

“Bukan seperti kepiting, itu pencitraan dari tragedi katanya.”

“Hal seperti itu tidak akan kena tula, justru si Ring itu yang kena tula karena telah mendurhakai kedua orang tuanya.”

“Tapi kalau orang hamil tetap berpengaruh ke anak dalam hamilannya. Lebih baik dihindarilah. Petuah dari nenek moyang zaman dulu itu selalu banyak benarnya, loh. Kalian mau seumpama istri-istri kita hamil lantas lahir sama dengan dia cara jalannya? Enak juga memang kalau seluruhnya jadi seperti dia, jadi ruas jalan di setiap rumah bisa semakin dipersempit.”

“Justru itu yang tidak menyenangkan.”

Percakapan empat orang lelaki di warung pinggir jalan nyinyir berkata-kata. Ring sedikit mendengarnya, tapi dia tak mau peduli.

Soal Ring, dirinya memang berjalan demikian karena suatu alasan. Dirinya berpikir sangat efektif melakukan kebiasaan itu untuk berjaga-jaga dari ancaman. Dia tidak mau seperti orang tuanya yang abai akan samping kanan samping kiri, hingga meninggallah mereka. Ring tak mau nasib dirinya, yang sungguh tinggal dirinya seorang dari keluarga yang berisi tiga kepala itu bernasib sama. Kanan dan kiri dari tubuh harus diubah peletakannya. Bagaimana kalau kanan dan kiri sewaktu-waktu bisa jadi depan dalam waktu bersamaan. Dengan demikian Ring merasa dirinya tak memiliki samping kanan dan kiri. Tiga arah adalah depan baginya. Dia akan selalu terjaga dari kemungkinan-kemungkinan yang mengancam.

Sebegitu takutnya Ring hingga memilih kebiasaan yang tampak konyol dan tak menyenangkan mata itu sebagai cara hidupnya. Tidak hanya untuk menghapus keberadaan samping, ada rahasia yang tidak diketahui warga perihal kematian kedua orang tuanya. Karena lalai kedua samping, mereka tertusuk besi beton dari mobil yang tak sengaja mundur hingga kemudian menusuk keduanya sampai tembus seperti sedang disate. Saat itu keduanya berjalan serempak, santai membiarkan Ring berjalan di depan keduanya menuju pasar lewat jalan yang paling pinggir dari pinggirnya jalan. Hingga sampailah kelalaian itu, samping kiri ibu Ring abai, sedang samping kanan ayah Ring juga abai. Dari kiri besi seperti tusuk bambu untuk daging meluncur, lalu mendorong dengan kerang hingga ayah Ring tersandar di pohon yang juga abai. Jelas semua rangkaian itu mempermudah penusukan dari besi tumpul itu. Ring menoleh ke belakang demi mendengar jeritan seketika yang lenyap. Lalu orang-orang menyalahkannya karena dia mendorong kedua orang tuanya untuk melepaskan besi yang tertusuk tembus itu. Jadilah dia sebagai pembunuh.

“Andai kau tak membuka besi itu, mereka pasti bisa diselamatkan, nak.”

Salah satu orang yang datang tidak mengetahui detailnya mengatakan demikian. Ring saat itu tidak menangis, dia hanya menunjukkan mata berbinar dan datar. Saat itulah dirinya ingin mewaspadai samping.
Saat itu usianya baru sepuluh tahun, cukup lama hingga dia begitu awas sampai sekarang.

Penjelasan dari mengapa dia terbiasa seperti itu juga belum kelar untuk diselesaikan begitu saja. Suatu ketika dia pernah mendengar ceramah dari pengemuka agama saat berjalan pulang dari pekerjaannya.

“Dalam berjihad di jalan Allah, perhatikan kondisi. Kita tidak bisa maju sendirian sedang yang kita hadapi puluhan orang. Ingat, mundur dosa dan maju kau akan mati konyol.”

Sambil lalu berjalan kalimat itu semakin mengecil dan tak jelas kata berikutnya. Tapi menurut Ring itu adalah kalimat yang sudah lengkap walau tanpa penjelasan. Dia memikirkan kalimat tersebut sepanjang perjalanan. Mempertanyakan bagaimana caranya agar tidak dosa dan mati konyol? Jawaban dia peroleh saat sampai di halaman rumahnya.

“Miring,” ucapnya pendek. “Untuk menghindari itu semua cukup miring, dengan begitu tidak maju juga tidak mundur,” lanjut Ring tapi hanya sekadar gumaman.

Dari setelah merenung itu pulalah keyakinan untuk memperteguh kebiasaannya bertambah. Tidak masalah orang lain mengatakan dan berbisik aneh perihal dirinya, dia memiliki alasan yang tak perlu dijelaskan. Bahkan untuk istrinya pun tidak.

Ring ingin mengalahkan kehendak. Kehendak manusia berjalan mengikuti tatapan wajahnya yang malas menoleh, hingga tak jarang tertabrak kendaraan karena kemalasannya itu, ingin Ring patahkan. Kematian selalu datang dari samping, pikir Ring. Sejauh yang dilihatnya memang demikian, dia jarang menemui seseorang yang menyambut kematian dari depan. Sebab dari depan masih bisa mengelak, pikir Ring lagi, jail. Membenarkan tindakan dari diri sendiri diperlukan untuk menggugurkan pendirian yang ditanamkan orang lain, bagi Ring itu benar. Seharusnya tidak ada orang yang melarang, apalagi berbisik-bisik membicarakan hal yang sudah biasa bertahun-tahun mereka dapati seperti tak berkesudahan. Ring muak memikirkannya, dia tidak ingin memikirkan kata-kata.

Dua tahun menikahi Bati, Ring belum juga siap memberi anak padanya. Alasan dari tindakannya itu tak disampaikan pada Bati, hingga Bati menganggap Ring adalah lelaki yang tak jantan. Kejantanan lelaki adalah bukti dapat menyihir perut sang istri seperti bola, ucap seseorang suatu ketika yang pernah didengar Bati. Entah di mana.

Tidak kunjung jua memberi Bati anak adalah suatu hal yang mati-matian Ring jaga. Setiap berhubungan badan, dia selalu menahan untuk membuahi. Ketakutan masih menyelimutinya. Andai istrinya itu mau menanyakan satu kata, kenapa, mungkin Ring akan menjelaskannya dengan singkat bahwa dia takut. Ring sungguh takut kalau nasib anaknya sama dengan dirinya, sengsara memikirkan kematian yang dituduhkan, ditambah sesuatu yang pernah dikatakan istrinya semisal nanti mereka punya anak lantas digunjing, anaknya frustrasi, menangis, sedih berkepanjangan lantas bunuh diri.

Tapi ketakutan itu sudah lewat tiga tahun, hingga akhirnya Bati hamil karena suatu malam yang tak bisa ditahan Ring. Satu tahun dari malam yang tak bisa di tahan itu telah lahir anaknya, lelaki. Ring tidak begitu senang, semua orang tahu itu, karena sekali pun dia tidak pernah menggendong anaknya itu. Bati pernah menawarkannya, tapi dia menggeleng tegas.

Namun sekarang, beberapa jam yang lalu kudapati Bati dan Ring berjalan dalam keadaan yang sama. Kuperhatikan, mereka saling membelakangi. Kaki kanan Ring terikat tali dengan kaki kiri Bati, sendang kaki Kiri Ring terikat dengan Kaki kanan Bati. Mereka berjalan kompak sekali. Orang yang sudah tak begitu mempedulikan tingkah Ring sebelumnya, kini tambah kisruh, gaduh di sepanjang jalan menuju pasar.

Tadi kutanyakan pada orang yang kurasa tahu cerita lengkap mengapa mereka demikian, aku mendapati jawaban yang tak terduga. Nasib itu abai lagi. Di suatu pagi, Bati membawa anaknya dalam gendongan menuju pasar tempat Ring berjualan. Anaknya menangis, kencang sekali. Bati berusaha mendiamkannya dengan memberi susu dengan melepas gendongan dari kain untuk mempermudah melepas kancing bajunya. Sedang dari arah yang tidak begitu jauh seseorang yang telah berhasil merampas emas dari leher gadis kaya berlari menerobos kerumunan. Dari arah samping orang yang lari itu menubruk Bati yang sedang lengah membuka bagian leher bajunya untuk menenangkan sang anak. Saat itulah anak yang berumur beberapa bulan itu terlempar, tangan kanan Bati tersenggol keras, sedang tangan kirinya berusaha membuka bagian dadanya. Anak itu berguling ke bagian jalan yang keras, membentur batu-batu yang tertanam. Dan mati. Bati merengkuhnya tak percaya anak itu. Ring yang mendapati kabar segera berlari miring, begitu cepat menyeka kerumunan dengan posisi jalannya itu. Lalu sekarang, mereka bersamaan berjalan dengan tatapan dan gerakan yang sama. Waspada.[]

Jakarta, 9 September 2017.

Ali Mukoddas adalah nama asli. Dia lahir pada putaran kalender ke 4 di bulan Mei 1997, tepatnya di desa Taman Sare, Sampang, Madura. Sekarang tercatat sebagai Mahasiswa Ilmu Hukum di UNU Indonesia, dan penggiat Komunitas Nulis Anonim (KNA). Juga seorang yang pernah menjadi santri di PP. Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep. Penulis bisa dihubungi lewat surel, [email protected], atau lewat akun Facebook dengan nama penulis.

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]

Related Posts

1 of 514