Ekonomi

400 Ribu Mobil Listrik Produk Otomotif Nasional Dipasarkan Tahun 2025

NusantaraNews.co, Jakarta – Hadapi trend masa depan, Indonesia terus berbenah diri. Salah satunya, sejumlah produsen otomotif di Indonesia telah siap memproduksi kendaraan listrik untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Pasalnya, kampanye-kampenya yang mengarah pada sebuah zaman baru yakni Globalisasi Gelombang ketika semakin jelas keberadaannya.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menegaskan, produksi kendaraan listrik merupakan salah satu road map Kemenperin dalam pengembangan industri otomotif nasional. Diantara fokus utamanya ialah mendorong produksi kendaraan beremisi karbon rendah atau low carbon emission vehicle (LCEV).

“Pengembangan teknologi hybrid atau electric vehicle pada kendaraan ini diharapkan dapat mengurangi emisi gas rumah kaca sekaligus juga mengurangi impor bahan bakar minyak (BBM),” kata Menperin dalam sebuah keterangan yang ditulis NusantaraNews.co, Selasa (14/11/2017).

Menperin menjelaskan, diversifikasi BBM ke arah bahan bakar gas, bahan bakar nabati, atau tenaga listrik sebagai jawaban atas kebutuhan energi di sektor transportasi. Produksi dan penggunaan bahan bakar alternatif ini secara langsung dapat pula menghasilkan aktivitas dan manfaat ekonomi yang inklusif, terutama di daerah yang kaya akan sumber energi tersebut.

Baca Juga:  Naikkan Cukai Rokok di Tahun 2023, Agusdono: Pemerintah Ngawur

“Tentunya produksi kendaraan dengan jenis bahan bakar atau penggerak yang lebih ramah lingkungan, menjadi tujuan ke depannya dari pemerintah dan diharapkan dapat dikembangkan industri otomotif dalam negeri,” papar Airlangga.

Menurutnya, pemerintah menargetkan pada tahun 2025 sekitar 25 persen atau 400 ribu unit kendaraan LCEV sudah masuk pasar Indonesia. “Dalam roadmap yang kami kembangkan, LCEV didorong melalui berbagai tahapan,” tuturnya.

Ditambahkan Airlangga, yang terpenting bagi produsen otomotif nasional saat ini dalam upaya mempercepat pengembangan dan komersialisasi kendaraan listrik adalah pemberian insentif fiskal. Selain diyakini mampu memacu daya saing produksi lokal di kancah internasional, insentif fiskal ini diharapkan dapat pula membuat harga jual bisa terjangkau oleh kosumen di Indonesia.

“Sekarang para manufaktur sudah punya teknologinya, tinggal diberi insentif. Kalau tanpa insentif, harga mobil listrik bisa lebih mahal 30 persen daripada mobil biasa, karena menggunakan dua engine,” jelas Menteri Airlangga.

Pewarta/Editor: Achmad Sulaiman

Related Posts

1 of 44