Connect with us

Ekonomi

10 Besar E-commerce di Indonesia Disokong Investor China, Pengunjungnya Ratusan Juta Per Bulan

Published

on

e-commerce, perusahaan e-commerce, bantuan e-commerce, santunan e-commerce, situs e-commerce, nusantaranews, nusantara, nusantara news

E-commerce. (doofinder.com)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Ada 11 temuan Primer dari laporan Map of E-commerce Indonesia Q1 2019, salah satunya 10 besar e-commerce di Indonesia sokongan investor China.

Industri e-commerce di Indonesia semakin dinamis dari waktu ke waktu. Baik itu dari segi kuantitas pemain, suguhan produk, investor yang wara-wiri memprediksi besaran potensi ekonomi digital sektor ini, hingga penggunaan platform mobile maupun desktop yang masih saling silang di hadapan penggunannya.

Demi memahami lebih jauh terkait hal-hal yang mempengaruhi dinamika industri e-commerce tanah air dari waktu ke waktu, iPrice kembali mengolah himpunan data terbaru Q1 2019 di Map of E-commerce Indonesia.

Kali ini, himpunan data iPrice juga berasal dari hasil kemitraan bersama 2 perusahaan analisis yang punya kredibilitas tinggi di bidangnya yakni App Annie Intelligence dan Similar Web. Bersama App Annie, iPrice berusaha menghadirkan olahan data yang lebih baik terkait penggunaan aplikasi e-commerce pada perangkat mobile. Dan dengan Similar Web, iPrice menghadirkan olahan data yang lebih konkret terkait kunjungan konsumen ke masing-masing website e-commerce.

Dari olahan itu, ada 11 temuan primer yang tercermin dari laporan Map of E-commerce terbaru ini.

Pertama, rataan kunjungan web lokal Tokopedia dan Bukalapak merupakan yang terbesar di Indonesia.

Tokopedia berada di peringkat pertama versi data jumlah pengunjung bulanan website terbanyak dengan rataan 137.200.900 kunjungan per bulan. Perusahaan itu konsisten menempati posisi teratas untuk jumlah rata-rata pengunjung bulanan terbanyak sejak periode Q2 2018. Pada periode itu, ada 111.484.100 kunjungan per bulannya yang berlabuh ke situs desktop Tokopedia.

Loading...
Ada 11 Temuan Primer dari Laporan Map of E-commerce Indonesia Q1 2019. (Foto: Istimewa/iPrice)

Ada 11 Temuan Primer dari Laporan Map of E-commerce Indonesia Q1 2019. (Foto: Istimewa/iPrice)

Perusahaan e-commerce lokal lain yang juga mendapat jumlah kunjungan terbesar adalah Bukalapak. Rataan jumlah kunjungan website Bukalapak pada Q1 2019 ini mencapai angka 115.256.600 per bulannya. Seperti Tokopedia, Bukalapak juga berada di posisi teratas (tepatnya posisi 2 paling atas) sejak Q2 2018.

Kedua, Tokopedia dan Bukalapak tergolong dalam 5 besar kunjungan web e-commerce terbanyak di regional Asia Tenggara.

Kedua perusahaan lokal yang sama-sama berlabel unicorn itu ternyata juga menembus 5 besar kunjungan web e-commerce terbanyak di regional Asia Tenggara. Jumlah pengunjung web Tokopedia dan Bukalapak bergandeng dengan dua pemain regional (Shopee dan Lazada) serta satu pemain lokal lain asal Vietnam (Tiki) sepanjang Q4 2018 hingga Q1 2019 ini.

Ketiga, dua e-commerce lokal Indonesia berhasil masuk dalam 3 besar perusahaan dengan pengguna aktif bulanan terbanyak di aplikasi mobile.

Tidak hanya di versi kunjungan website, Tokopedia dan Bukalapak nyatanya juga membukukan persentase yang tinggi di kalangan pengguna aktif bulanan terbanyak aplikasi mobile. Tokopedia menempati posisi pertama sebagai aplikasi dengan pengguna aktif bulanan terbanyak di platform ponsel android dan iPhone.

Sedangkan Bukalapak berada di peringkat ketiga sebagai aplikasi dengan pengguna aktif bulanan terbanyak di platform ponsel android dan iPhone. Selain Tokopedia dan Bukalapak, aplikasi e-commerce yang punya persentase pengguna aktif bulanan tertinggi yakni Shopee (di posisi 2) dan Lazada (di posisi 4).

Keempat, Shopee punya margin peningkatan kunjungan web terbesar di antara semua pemain e-commerce umum.

Jumlah kunjungan web Shopee di Indonesia meningkat hingga +117% bila dibandingkan jumlah kunjungan pada Q1 2018. Perusahaan asal Singapura ini mencatatkan rataan 74.995.300 kunjungan bulanan di web-nya sepanjang Q1 2019.

Pada Q1 2018, Shopee baru mampu mendatangkan sekitar 34.510.800 pengunjung ke situs versi Indonesia. Peningkatan rataan pengunjung web itu juga mengatrol posisi Shopee dari tahun ke tahun yakni dari posisi 8 di Q1 2017 menjadi posisi 3 di Map of E-commerce Q1 2019.

Kelima, kunjungan web bulanan Sociolla meningkat paling pesat di kalangan e-commerce khusus kecantikan.

Walau rataan kunjungan web terbesar berasal dari situs-situs e-commerce umum, tapi geliat e-commerce dengan produk spesifik juga pantas digarisbawahi.

Pada persaingan e-commerce khusus kecantikan contohnya, Sociolla mengalami peningkatan jumlah kunjungan web terbesar hingga +236% dibandingkan Q1 2018. Bila pada Q1 2018 situs e-commerce lokal ini hanya mendapat rataan 1.437.800 kunjungan per bulan, maka pada Q1 2019 akses ke webnya melonjak hingga 4.838.300 kunjungan. Hanya dalam rentang satu tahun, Sociolla berhasil menembus 10 besar Map of E-commerce Indonesia melalui suguhan produk-produk kecantikannya.

Keenam, investor asal China masih menjadi penyokong utama perusahaan e-commerce teratas Indonesia.

Ada 11 Temuan Primer dari Laporan Map of E-commerce Indonesia Q1 2019. (Foto: Istimewa/iPrice)

Ada 11 Temuan Primer dari Laporan Map of E-commerce Indonesia Q1 2019. (Foto: Istimewa/iPrice)

Dalam data persentase pengguna aktif bulanan terbanyak di aplikasi mobile, lima perusahaan e-commerce sokongan investor China ada di posisi 10 besar yakni Tokopedia (Alibaba), Shopee (Tencent), Lazada (Alibaba), JD ID (JD), AliExpress (Alibaba).

Selain investor dari China, pemilik modal asal Amerika (Amazon dan Zilingo), Jerman (Zalora), Korea (Bukalapak) dan Indonesia (Blibli).

Ketujuh, sudah ada 20 pemain yang keluar dari kompetisi e-commerce Indonesia sejak Q1 2017.

Tidak semua perusahaan mendapatkan hasil yang memuaskan dari industri e-commerce. Sejak Q1 2017 hingga Q1 2019, ada 20 pemain yang keluar dari Map of E-commerce Indonesia karena beragam alasan. Kebanyakan merupakan perusahaan e-commerce kecil seperti What We Like, Tororo, Frozen Shop, Livaza, Brandoutlet, UKM Market, Kinerja Mall, Onmol, KuKa, Shoppe33, Seroya Mart, Mall Jualan, Paradise Store, Lojai, Toko1001, Benlieschoice, Tokologi, Ngshope, Shoes Vaganza, Caristyle. Tapi belakangan ada pula pemain besar seperti Matahari Mall yang dilebur ke perusahaan induk.

Kedelapan, selalu terjadi penambahan pemain di pasar e-commerce khusus elektronik.

Pasar elektronik dianggap potensial. Bila pada Q1 2017 hanya ada 2 pemain yakni Bhinneka dan Electronic Solution, pada Q1 2018 ada Electronic City dan Pemmz yang menjadi pemain baru khusus elektronik. Pada Q1 2019 ini jumlah keseluruhan pemain di pasar e-commerce bertambah menjadi 8 pemain, yakni Bhinneka, Laku6, Jakarta Notebook, PlazaKamera, Pasarwarga, Pemmz, Electronic City dan Electronic Solution.

Dan pada Q1 2019 ini Bhinneka mencatatkan rataan kunjungan web bulanan terbanyak di e-commerce khusus elektronik yaitu 3.446.500 kunjungan per bulan.

Kesembilan, Amazon dan AliExpress punya basis pengguna aktif aplikasi yang besar di Indonesia.

Pengguna aktif bulanan aplikasi mobile e-commerce nyatanya juga memberi perhatian pada perusahaan dari luar Asia Tenggara seperti Amazon dan AliExpress. Keduanya mampu menembus persaingan 10 besar persentase pengguna aktif bulanan terbanyak di aplikasi mobile.

Kesepuluh, aplikasi mobile dari e-commerce luar lebih digemari pengguna internet mobile.

Hanya ada 3 perusahaan lokal dalam posisi 10 besar dalam data jumlah pengunjung aktif aplikasi mobile yakni Tokopedia, Bukalapak dan Blibli. Selebihnya, persentase menunjukkan bahwa pengguna internet mobile lebih memilih aplikasi dari e-commerce asing sebagai platform aktivitas jual beli di ponsel mereka. E-commerce asing itu yakni Shopee, Lazada, JD ID, Zalora, AliExpress, Zilingo Shopping dan Amazon.

Pengguna internet desktop punya preferensi yang lebih berimbang dalam mengakses halaman web e-commerce. Dari 10 posisi teratas, lima e-commerce merupakan perusahaan asing dan sisanya merupakan perusahaan lokal.

Kesebelas, perusahaan e-commerce yang menyasar pasar produk serba ada seperti Mapemall, Shopee, Tokopedia, Bukalapak, dan Lazada menyerap tenaga kerja terbanyak di Q1 2019.

Total tenaga kerja yang telah diserap lima perusahaan e-commerce serba ada itu mencapai angka 13.221 orang. Pada Q1 2018, kelima perusahaan yang sama menggunakan total 7.845 tenaga kerja untuk memutar bisnis mereka. Tapi selang setahu, perusahaan-perusahaan itu meningkatkan kuantitas total tenaga kerja mereka hingga +168%.

(ipr/nus)

Editor: Eriec Dieda

Terpopuler