Kreatifitas

Tuhan, Malam ini Aku Ingin Berdansa – Puisi HM. Nasruddin Anshoriy Ch

Penari meliuk dalam Tarian Sufi (Whirling Dervishes) dengan diiringi musik hadroh dari Ahbabul Musthofa pada acara Istighosah Akbar di Solo, Jateng, Minggu (20/7) malam. Tarian spiritual asal Turki yang digubah oleh penyair Jalaluddin Rumi ini banyak dipertunjukkan di berbagai acara religi saat bulan Ramadan. ANTARA FOTO/Hafidz Novalsyah/ss/ama/14
Penari meliuk dalam Tarian Sufi (Whirling Dervishes) dengan diiringi musik hadroh dari Ahbabul Musthofa pada acara Istighosah Akbar di Solo, Jateng, Minggu (20/7) malam. Tarian spiritual asal Turki yang digubah oleh penyair Jalaluddin Rumi ini banyak dipertunjukkan di berbagai acara religi saat bulan Ramadan. ANTARA FOTO/Hafidz Novalsyah/ss/ama/14

TUHAN, MALAM INI AKU INGIN BERDANSA

Tuhanku, malam ini aku ingin berdansa denganMu.

Berdansa hingga keringat meleleh di tiap pori-pori, bahkan saat lagu telah usai mengiringi dan lampu-lampu kristal telah padam di panggung gemerlap ini.

Betapa indahnya berdansa diiringi ayat-ayat cahaya sebagai musiknya. Berdansa agar duka dan lara tak membusuk dalam jiwa.

Tuhanku, malam ini aku hadir dalam pestaMu, dan secangkir anggur makrifat telah kureguk hingga memabukkanku.

Tuhanku, betapa licin lantai ini bagiku. Ataukah karena secangkir rindu telah meruntuhkan tarianku?

Tuhanku, malam ini aku rindu berdansa denganMu, hingga lantai, lagu dan gemerlap lampu semuanya tiada.

BAGIMU, GURU

Bagimu Guru, kutulis seribu buku, saat deru dan rindu meleleh di lubuk kalbu.

Engkaulah yang menatah kata demi kata pada lembar-lembar jiwaku.

Akulah kanfas putih tabularasa yang merindukan cahaya dan bianglala dari warna-warni nuranimu.

Tak hanya mengajarkan makna aksara untuk membaca luas samudera, tapi engkaulah yang menjadi cahaya untuk merawat kata agar bibirku tak bertabur dusta.

Huruf demi huruf yang pernah kauajarkan kini menjadi jutaan anak tangga untuk mendaki cakrawala.

Engkaulah Guru, tongkat cahaya yang mengantarkan bermilyar tapak kaki agar tak tersesat pada gelapnya dunia.

Menjadi payung di saat hujan manakala mendung dan gelap terus mengepung.

Terima kasih, Guru, sebab tanpamu aku akan menjadi yatim-piatu dalam ilmu.

 

Gus Nas

Gus Nas

*HM. Nasruddin Anshoriy Ch atau biasa dipanggil Gus Nas mulai menulis puisi sejak masih SMP pada tahun 1979. Tahun 1983, puisinya yang mengritik Orde Baru sempat membuat heboh Indonesia dan melibatkan Emha Ainun Nadjib, HB. Jassin, Mochtar Lubis, WS. Rendra dan Sapardi Djoko Damono menulis komentarnya di berbagai koran nasional. Tahun 1984 mendirikan Lingkaran Sastra Pesantren dan Teater Sakral di Pesantren Tebuireng, Jombang. Pada tahun itu pula tulisannya berupa puisi, esai dan kolom mulai menghiasi halaman berbagai koran dan majalah nasional, seperti Horison, Prisma, Kompas, Sinar Harapan dll.

Tahun 1987 menjadi Pembicara di Forum Puisi Indonesia di TIM dan Pembicara di Third’s South East Asian Writers Conference di National University of Singapore. Tahun 1991 puisinya berjudul Midnight Man terpilih sebagai puisi terbaik dalam New Voice of Asia dan dimuat di Majalah Solidarity, Philippines. Tahun 1995 meraih penghargaan sebagai penulis puisi terbaik versi pemirsa dalam rangka 50 Tahun Indonesia Merdeka yang diselenggarakan oleh ANTV dan Harian Republika.

Menulis sejumlah buku, antara lain berjudul Berjuang Dari Pinggir (LP3ES Jakarta), Kearifan Lingkungan Budaya Jawa (Obor Indonesia), Strategi Kebudayaan (Unibraw Press Malang), Bangsa Gagal (LKiS). Pernah menjadi peneliti sosial-budaya di LP3ES, P3M, dan peneliti lepas di LIPI. Menjadi konsultan manajemen. Menjadi Produser sejumlah film bersama Deddy Mizwar.

Sejak tahun 2004 memilih tinggal di puncak gunung yang dikepung oleh hutan jati di kawasan Pegunungan Sewu di Selatan makam Raja-Raja Jawa di Imogiri sebagai Pengasuh Pesan Trend Budaya Ilmu Giri. Tahun 2008 menggagas dan mendeklarasikan berdirinya Desa Kebangsaan di kawasan Pegunungan Sewu bersama sejumlah tokoh nasional. Tahun 2013 menjadi Pembicara Kunci pada World Culture Forum yang diselenggarakan Kemendikbud dan UNESCO di Bali.

Gus Nas juga merupakan Pengasuh Pesan Trend Ilmu Giri, Bantul, DIY

Komentar

To Top