Perdana Menteri Inggris, Theresa May
Perdana Menteri Inggris, Theresa May

NUSANTARANEWS.CO – Perdana Menteri Inggris, Theresa May mengatakan kepada seluruh pemimpin dunia yang menjadi anggota kelompok 20 di KTT G20 di Hangzhou, China bahwa Inggris membuka diri untuk menjalin hubungan perdagangan untuk kelangsungan dunia di masa depan. May menyebutkan, saat ini adalah era emas untuk membangun dan mengatur hubungan perdagangan dengan China, Australia, India, Singapura, Meksiko dan Korea Selatan.

Sebelumnya, Presiden China Xi Jinping dalam pidato pembukaan KTT G20 mengatakan bahwa China terbuka untuk mulai menjajaki hubungan perdagangan dengan Inggris.

“Apa yang telah saya temukan, baik dalam diskusi dengan sejumlah pemimpin dunia, termasuk diskusi saya dengan Perdana Menteri (Shinzō) Abe (Jepang), bahwa Inggris terbuka dengan negara-negara lain untuk menjajaki pembicaraan terkait dengan hubungan dan pengaturan perdagangan untuk masa depan sesuai dengan kepercayaan mereka terhadap Inggris,” kata May seperti dikutip Daily Mail, Selasa (6/9/2016).

KTT G20 di Hangzhou, China adalah pertemuan internasional pertama bagi Mei sejak dirinya mengambil alih posisi Perdana Menteri Inggris dari David Cameroon.

“Saya sangat percaya diri bahwa saya yakin hubungan kita dapat saling bersinergi antar satu sama lain,” tambah dia.

Namun, Mei menekankan arti penting perdagangan yang lebih liberal secara global, sekaligus ia meyakinkan para pemimpin di KTT G20 bahwa Brexit bukan berarti Inggris menarik diri dari dunia.

“Dari sudut pandang kami, kami memastikan bahwa kami terbuka untuk bernegosiasi terkait perdagangan bebas, Inggris sangat terbuka,” ucap dia.

Sebelumnya, sejumlah pengamat menilai bahwa Brexit berpotensi besar memicu proteksionisme bagi negara-negara yang tergabung dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN. Brexit dinilai sebagai inspirator besar bagi semangat arus balik globalisasi, yakni lokalisasi yang proteksi domestik yang semakin kuat. Brexit juga dianggap paradoks di era globalisasi saat ini sebab saat perdagangan bebas itu dicanangkan justru proteksionisme dan lokalisme atau nasionalisasi cenderung menguat.

Seejarah mencatat, bahwa Inggris adalah salah satu negara selain Swiss yang tidak begitu antusias terhadap Uni Eropa, sehingga sewaktu terjadi pelemahan di negara tertentu, Inggris merasa terbebani. Alhasil, isu Brexit ini diusulkan untuk dibahas dalam pertemuan dengan asosiasi pengusaha-pengusaha muda ASEAN di Kuala Lumpur dalam waktu dekat. (eriecdieda)

Komentar