Mentan Andi Amran Sulaiman di sela-sela acara WCPF di Kolombia. Foto: Dok. Humas Kementan
Mentan Andi Amran Sulaiman di sela-sela acara WCPF di Kolombia. Foto: Dok. Humas Kementan

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, di sela-sela kunjungannya ke Kolombia, menghadiri acara World Coffee Producers Forum (WCPF). Ia mengungkapkan keinginannya menjadikan Indonesia sebagai produsen kopi terbesar dunia.

“Kita akan terus berkomitmen untuk meningkatkan produktivitas kopi domestik menjadi 1,0 ton/ha sehingga dapat memposisikan Indonesia sebagai produsen kopi terbesar dunia setelah Brazil dan Vietnam,” demikian kata Amran, dalam keterangan tertulisnya, Kamis (13/7/2017).

Lebih lanjut, Amran menegaskan bahwa seiring dengan upaya peningkatan produksi kopi lokal, peluang bisnis untuk industri kopi di Indonesia juga semakin besar. “Peluang bisnis industri kopi di Indonesia sangat bagus dan memiliki pangsa pasar yang cukup besar,” katanya.

Menurutnya, tren permintaan kopi asal Indonesia meningkat seiring semakin dikenalnya kopi Indonesia di Eropa dan Amerika, terutama kopi khusus (specialty coffee) yang menjadi tren dunia saat ini. “Peluang ini yang akan kita ambil untuk menjadikan Indonesia sebagai produsen kopi terbesar dunia,” ucapnya.

Menurut Amran, bahwa Bill Clinton memberikan perhatian khusus pada sektor kopi di Indonesia. Selanjutnya Amran berdiskusi dengan Wakil Menteri Pertanian Vietnam membahas upaya pengembangan perkopian.

Amran menyebutkan Indonesia mempunyai kebun kopi 1,2 juta hektare dan memiliki “specialty coffee” seperti kopi gayo, kopi mandailing, kopi lampung, kopi Bajawa dan lainnya.

Saat ini sudah ada 14 jenis kopi Indonesia yang mendapat sertifikat Geographical Indications sehingga memiliki keunikan dan berdaya saing di internasional.

Berbagai program akan dilakukan untuk meningkatkan produktivitas kopi dalam negeri seperti penyediaan bibit berkualitas tinggi, pemupukan tepat waktu, “water” manajemen, dan program “replanting” untuk mengganti tanaman kopi yang sudah tua.

Selain itu juga akan dilakukan perluasan areal kopi arabika yang bernilai ekonomi tinggi sehingga populasi kopi robusta dan arabika menjadi berimbang (50:50).

“Pengembangan kopi ke depan juga akan lebih memperhatikan aspek kearifan lokal, sehingga dapat dihasilkan jenis-jenis kopi specialty yang bernilai tinggi dari berbagai daerah,” katanya.

Mentan menegaskan dalam waktu dekat, Kementerian Pertanian akan mengirimkan beberapa tenaga ahlinya mempelajari kopi ke Vietnam.

Pewarta: Ricard Andika
Editor: Achmad Sulaiman

Komentar