Mantan Waketum PBNU, Slamet Effendy Yusuf. Foto: Dok. Headlineislam.com
Mantan Waketum PBNU, Slamet Effendy Yusuf. Foto: Dok. Headlineislam.com

NUSANTARANEW.CO, Jakarta – Almarhum Slamet Efendi Yusuf merupakan tokoh pemuda dan politisi yang dikenal memiliki ide, gagasan dan pemikiran yang sangat cemerlang. Ia ikut terlibat dalam berbagai momentum penting dalam sejarah independensi Pergerakan Mahasiswa Islam Indoensia (PMII) dari Partai NU yang dikenal dengan deklarasi munarjati 1972.

Selain itu Slamet Efendy Yusuf juga merupakan tokoh penting dibalik momentum sejarah kembalinya NU ke Khittah 1926. Ia menggagas agar NU berkonsentrasi untuk memperkuat bidang pendidikan, dakwah, perekonomian dan sosial kemasyarakatan dan tidak terlibat dalam politik praktis yang meninggalkan tugas dan tanggung jawabnya sebagai organisasi keagamaan yang mempunyai jamaah terbesar di seluruh indonesia.

Wacana kembali ke khittah 1926 terus bergulir dan pada akhirnya pada mukhtamar NU ke-26 di Situbondo, 1984. Disepakati NU kembali ke khittah. Jiwa pembaharu dan revolusioner yang melekat pada dirinya merupakan keistimewaanya sebagai salah satu tokoh NU.

Pasca reformasi bergulir, salah satu agenda yang menjadi priorits adalah perubahan (amandemen) UUD 1945. Hal ini menandai perubahan sistem kenegaraan Indonesia yang fundamental setelah tumbangnya rezim otoritarianisme. Slamet kembali berperan dalam proses tersebut, terutama dalam kapasitasnya sebagai wakil ketua panitia ad Hoc, badan pekerja MPR RI tahun 1999.

Slamet adalah orang yang paling ngotot berjuang agar didalam UUD terdapat pasal yang menegaskan prioritas pembangunan dalam pendidikan, termasuk ketentuan pengalokasian dana APBN sebesar 20% untuk pendidikan. Berikutnya Ia merupakan penggagas sekaligus ketua panitia Harian Konvensi Nasional Partai Golkar untuk menentukan siapa calon presiden dan wakil presiden.

Bakat dan kepiawaiannya dalam mengeluarkan ide-ide baru sudah sudah terlatih sejak ia masih menjadi mahasiswa. Slamet dikenal sebagai seorang pemuda yang intelektual dan penulis. Dia pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Mahasiswa IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, ketua Cabang PMII DIY, dan pendiri sekaligus sebagai pimpinan umum majalah mahasiswa arena yang terkenal kritis melawan orde baru kala itu.

Slamet juga dikenal memiliki jiwa nasionalisme yang sangat kuat. Sebuah majalah luar negeri pernah menyebutnya sebagai seseorang yang mempunyai wawasan kebangsaan yang kuat, memiliki sifat toleran, terbuka, tidak eksklusif, meskipun ia dilahirnkan dari lingkungan pesantren, dan ketua GP Anshor.

Kuatnya Nasionalisme yang melekat pada sanubarinya mempengaruhi pandangan dan pemikirannya tentang, gerakan pemuda, politik kebangsaan, pemikiran keislaman, nasionalisme, demokrasi dll. Lahirnya gagasan islam nusantara juga tidak luput dari peran dia melalui beberapa tulisannya.

Sejak NU menyatakan bahwa Pancasila sebagai dasar negara dan NKRI dalah final bagi seluruh rakyat Indonesia, yang dilanjutkan dengan penerimaan NU atas pancasila sebagai asas tunggal bagi kehidupan berbangsa dan bernegara, maka tema tentang Islam Nusantara merupakan gagasan yang sangat logis. Gagasan Islam Nusantara merupakan gagasan tentang proses penerimaan masyarakat nusantara tentang islam. artinya islam telah melalui proses adaptasi budaya, nilai dan struktur sosial yang di jalani oleh masyarakat nusantara.

Penulis: Ucok Al Ayubbi
Sumber: Buku Konseptor Dipusaran Perubahan
Editor: Achmad Sulaiman

Komentar