Connect with us

Budaya / Seni

Membedah Sejarah Mataram Islam Sebagai Basis Ideologis Islam Nusantara

Published

on

Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, di Teatrikal Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. (FOTO: NUSANTARANEWS.CO/Anna)

Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, di Teatrikal Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. (FOTO: NUSANTARANEWS.CO/Anna)

NUSANTARANEWS.CO, Yogyakarta – Kesultanan Mataram Islam sebenarnya tidak lepas dari sejarah panjang proses Islamisasi di Pulau Jawa. Tentang kapan Islam masuk di Jawa masih terdapat perbedaan pendapat di antara para ahli. Hal ini disebabkan tidak adanya sumber yang pasti mengenai kedatangan Islam di Jawa.

Namun seperti yang kita ketahui bahwa menurut beberapa ahli, diperkirakan Islam datang ke Pulau Jawa sekitar abad ke-11 dengan bukti adanya makan Fatimah Binti Maimun di Desa Leran Kabupaten Gresik (475 H/1085 M).

Selain itu, proses Islamisasi di Pulau Jawa ini tentunya diinisiasi oleh para ulama yang terjaring dalam Walisongo sebagai aktor ideologis berdirinya kerajaan Islam di Pulau Jawa.

Perlulah diketahui bahwa berkembangnya wacana Islam Nusantara ini sebagai upaya untuk membentuk keberislaman lokal yang ada di Nusantara. Islam Nusantara juga harus diisi dengan bukti-bukti konkret yang membutuhkan sebuah gambaran utuh bagaimana ajaran-ajaran Islam yang dimanisfestasikan dalam berbagai bentuk entah itu wacana politik, kesenian, tata nilai yang masih bisa ditemukan di Kesultanan Mataram Islam hingga sekarang.

Hal tersebut dipapar-uraikan dalam Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, di Teatrikal Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Senin (22/4/2019).

Seminar Nasional bertajuk ‘Sejarah Mataram Islam Sebagai Basis Ideologis Islam Nusantara’ ini menghadirkan 3 pemateri yang kridibel di bidang tersebut yakni K.H. Jadul Maula (Pengasuh PP. Kaliopak & Wakil Ketua PP. LESBUMI), Dr. Maharsi, M. Hum (Dosen Fakultas Adab dan Ilmu Budaya), dan Hasan Basri, M. Hum. (Lurah PP. Kaliopak & Pengurus PP. LESBUMI) dengan moderator Muhammad Syafi’I (Mahasiswa Pascasarjana Interdiciplinari Islamic Studies, Konsentrasi Islam Nusantara UIN Sunan Kalijaga).

Acara ini dilanjutkan hari ini, Selasa (23/4) yang dibungkus dengan bentuk Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Acara ini akan diisi oleh Pengasuh PP. Maulana Rumi, Kiai Kuswaidi Syafi’I (Cak Kus) dan dimeriahkan oleh Hadroh Yadalfata.

Loading...

Untuk acara bertema Meneguhkan Isra Mi’raj Sebagai Spirit Moral Kemanusiaan yang Tinggi ini digelar di Laboratorium Agama Masjid UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Wakil Dekan III bidang Kemahasiswaan Dr. Tafrikhuddin berharap kegiatan bisa dijadikan sebagai proses pengembangan bakat mahasiswa khususnya Fakultas Adab dan Ilmu Budaya.

“Seminar ini pula diharapkan menjadi awal dari terciptanya gagasan-gagasan dan argumen kritis tentang adanya wacana Islam Nusantara itu sendiri,” kata Tafrikhuddin saat membuka acara.

“Maka dari itu, adanya penyelenggaraan acara Seminar Nasional dan Peringatan Isra Mi’raj ini bertujuan untuk memperkaya diskursus Islam Nusantara untuk memperkokoh keberislaman secara luas,” imbuhnya. (azd/nn)

Editor: Achmad S.

Terpopuler