Nasirun - 1996 - Ratu Segajat (145x90) Oil Paint on Canvas. Foto: Dokumentasi Edwin's Gallery/ archive.ivaa-online.org
Nasirun - 1996 - Ratu Segajat (145x90) Oil Paint on Canvas. Foto: Dokumentasi Edwin's Gallery/ archive.ivaa-online.org

Cerpen: Dee Hwang

 Wajah Raskun menunjukkan kemenangan waktu menerima pesan. Telepon genggamnya yang bukan itulah saja berdering hari ini, memberikannya alasannya untuk bergembira. Bagaimana tidak. Pesan itu datang dari Serunting, mantan kekasih Pasran, kawan baik Raskun sejak sekolah menengah. “Apa kubilang,” Raskun menunjukkan screenshot pesan pada Pasran melalui teks di satu media sosial, “Ia tak bisa berpaling dari keelokanku.”

Raskun membayangkan wajah Pasran yang, entah ditekuk entah masih mendaduk. Pasran bilang, Serunting adalah perempuan yang mematahkan hatinya jadi dua. Dengan bantuan Raskun, ia ingin Serunting merasai karma. Kini, perempuan itu gampang melintang ke lain hati cuma dalam jangkauan minggu. Entah, apakah di lain sisi  Pasran tak akan menyalahkan siapapun kecuali dirinya sendiri. Karena siapa yang bisa mengalahkan kemampuan Raskun dalam menangkap hati perempuan, kecuali aktor Reza Rahardian?

Balas Pasran setengah jam kemudian, “Itu mungkin saja bukan Serunting.”

“Lalu, siapa?”

“Kakak perempuannya, mungkin?”

“Bagaimana kau ini, bukannya kau bilang kakaknya sudah menikah?”

“Ya, bisa saja mereka bertemu, bertukar telepon genggam. Perempuan yang memberikan perhatian itu bisa saja bukan Serunting.”

Raskun mengernyitkan dahi. Penjelasan Pasran tak masuk akal. Pun, bukankah lelaki ini dendam betul pada Serunting? Kalau ia masih mencintai kembang desa itu, untuk apa ia membelanya?

Pasran bertemu Serunting di satu pesta di dusun Bunga Mas. Waktu itu, Kakak dari sepupu dari ipar ayah tirinya melangsungkan pernikahan anaknya. Pasran hadir sebagai keluarga, Serunting duduk sebagai besan jauh. Keduanya tak sengaja bertatap pandang waktu bagian doa dipanjatkan di atas panggung. Sebenarnya, Pasranlah yang menemukan Serunting. Perempuan murung itu duduk di sudut rumah sendirian, memperhatikan orang-orang seakan ia sedang membaca isi kepala mereka.

Menurut Raskun, Pasran memang masih mencintai Serunting. Meski usia mereka berjarak lima tahun, namun Pasran tentu tak bisa melupakan hubungan yang dibangun dari pertemuan yang puitis itu—begitulah Pasran mencerabihkannya dengan kata-kata menawan. Keluarga sudah beri restu. Kekawan sudah banyak kenal. Apalagi, menurut Pasran, Serunting sendiri sangat dewasa. Meski Pasranlah yang duduk sebagai orang tua, perempuan itu selalu bisa memberikan nasehat baik. Itu daya pikat Serunting nomor pertama, sebelum Pasran membawa kecantikan Serunting yang, disandingkannya dengan Isyana Sarasvati.

Lantas, bagaimana bisa Serunting mematahkan hati Pasran? Dikabarkan oleh Pasran beberapa minggu lalu, dengan berderai airmata sebagai bentuk kesedihan lelakinya yang puncak, Serunting meminta hubungan mereka diputuskan. Memang hubungan itu baru seumur jagung. Satu bulan pun belum masuk. Namun apa sebab? Serunting tak beritahu. Pasran menangkap Serunting telah menemukan lelaki baru. Sementara Raskun yang diberi cerita, jadi tahu—Pasran bukan lelaki yang wajahnya pantas diberi pandangan, mungkin, itu.

Pasran mungkin sudah sinting. Cinta memang bisa membuat orang sinting. Tetapi, apa yang tidak untuk orang yang disayangi? Maka, Pasran datang kepada Raskun dengan satu permintaan—bila ia mampu mematahkan hati perempuan itu, Raskun berhak menghabiskan satu minggunya dengan motor Pasran yang baru. Raskun tak sabar menunggangi motor baru Pasran yang besar itu. Aih. Bakal gagah betul! Lagi, Raskun merasa Pasran tak akan keberatan bila ia meminta waktu tambahan beberapa hari lagi. Pasran anak kaya. Kebun karet orang tuanya makin waktu makin lebar saja. Motor itu bukan hitungan besar, dibandingkan ambisinya buat menghancurkan hati perempuan.

Pasran kejam betul, namun percakapan tadi membawa Raskun pada kesimpulan baru. Pasran mungkin masih mencintai Serunting. Setebal apapun Pasran menutupi perasaannya, cinta yang sekarat itu masih mencoba menemukan udaranya. Raskun menimbang-nimbang, setelah berbagai pendekatan, patutkah hal ini diteruskan?

Ah, masa bodoh!

Raskun meletakkan telepon genggamnya setelah memberikan ajakan untuk bertemu dengan Pasran di tempat biasa nanti malam—“warung kopi” yuk Lastra di tepi Jalinsum yang ramai dan, dari sanalah Raskun memperoleh ilmu-ilmu gratis tentang perempuan. Kelak, ia hendak membicarakan masalah imbalannya. Kalau bisa, ia mau mempercepat waktu, membawa motor pinjaman itu pulang.

Namun, sambil memandangi langit-langit kamar, Raskun tersadar. Kesadaran itu membuatnya bertanya-tanya. Bagaimana bisa Serunting mengirimkannya wanti-wanti, seakan-akan ia tahu kalau Raskun akan melakukan perjalanan ke tempat yang terkutuk nanti malam, jauh, jauh, jauh sebelum hal itu direncanakan?

***

Pesan terakhir yang ia kirimkan kepada Raskun tak mendapat balasan. Tak mengapa. Yang penting, ia sudah memberi tanda sebelum Raskun mendapatkan masalah atas keputusannya sendiri. Serunting menarik napas besar, karena lelaki itu bisa jadi memikirkan dirinya sebagai orang sinting. Tetapi, ia tidak sinting, dan ia yakin ceritanya tak akan jadi seperti itu. Meski cinta memang bisa membuat orang sinting, karena, apa, sih, yang tidak untuk orang yang disayangi? Serunting berbeda dari orang jatuh cinta kebanyakan.

“Saya mau putus.”

“Saya salah apa?”

“Kamu hanyalah pintu, Pasran, pintu. Saya harus berjalan ke tujuan saya sekarang.”

Pembicaraan beberapa minggu lalu memang tidak adil bagi Pasran, namun begitulah yang terbaca oleh Serunting. Perempuan ini bisa membaca hal-hal tak masuk akal menurut kepalamu, cuma melalui mata manusia untuk segala keterkaitan terhadap dirinya sendiri, termasuk takdirnya dengan Raskun, lelaki bermata indah yang tak sengaja ia temui sebagai penjual jam tangan merek palsu di pasar Lematang.

Serunting meletakkan telepon genggamnya, lantas menatapi langit-langit kamarnya dengan gelisah. Apakah Raskun menangkap maksud pesan “malam ini, hati-hati di jalan” yang ia kirimkan siang tadi? Sayang, segala keputusan lahir atas nama masing-masing, dan Serunting tak dilahirkan untuk mengubah takdir orang lain.

Semoga Raskun tak pergi kemana-mana malam ini.

***

 

*Dee Hwang, Kelahiran 9 September 1991. Lulusan FKIP biologi universitas sriwijaya. Terakhir ini menekuni dunia musik sebagai pemain Biola di SAMS Jogjakarta.

Komentar