Wartawan Kerah Hitam

Wartawan Kerah Hitam
Wartawan Kerah Hitam
Oleh: Uki Bayu Sedjati & Hari Agustono

 

”Siapa di antara kalian yang belum nikah?” Tanya pak Muhtar kepada staf redaksi. Ia memang acapkali datang ke ruangan-ruangan menyapa, berbincang dengan siapa saja. Buatnya manusia itu setara, karena setiap manusia memiliki kelebihan sekaligus kekurangan.

”Saya, pak. Saya…,” 3 dari 6 orang mengangkat telunjuk

”Umur kau, berapa?”

”Saya, tahun ini dua puluh lima, pak…”

”Saya baru dua-dua…”

”Yang umur dua lima mesti ancang-ancang menikah…”

”Rasanya belum siap, pak. Soalnya…”

”He he he, itu tanya sama bang Junde. Dia nikah umur dua empat. Tanya dia kenapa dia berani…”

“Saya berani karena disuruh pak Muhtar,” sahut Junde. Teman-teman sejawatnya menyambut dengan tawa. ”Iya, Sungguh, sebab pak Muhtar bilang rezeki itu bakal datang sendiri. Tuhan itu Maha Tahu dan Maha Adil…,” tambahnya. Yakin.

“Ah, masa saya pernah bilang begitu?” Sanggah pak Muhtar. Tentu ia berseloroh. “Bang Junde betul. Rezeki bukan manusia yang menentukan. Nah, yang penting segalanya kita ikhtiar terus. Juga ikhtiar menemukan jodoh…”

”Ha ha ha ha…,” satu ruangan tertawa riang.

Kegembiraan dalam bekerja memang merupakan faktor penting. Suasana di kantor menambah keakraban sesama karyawan dan menumbuhkan semangat. ”Manusia setara. Setiap manusia unik.” Ucapan pak Muhtar menjadi panutan Junde. Maka ia tak merasa lebih rendah dari kawan-kawannya yang sudah naik motor saat menjalankan tugas jurnalistik.

Suatu siang Junde memarkir sepedanya di samping kios rokok yang bersebelahan dengan bengkel sepeda. Tampaknya ia sudah akrab dengan pemiliknya. Setelah memarkir sepeda ia duduk dibangku seraya menyeka peluh dengan handuk kecil yang terselempang di lehernya.

“Minum, bang Junde?” Tanya pemilik kios.

“Boleh. Sudah ada yang bantu kau, Bonar? Baguslah…”

“Iya, keponakanku dari Medan, baru lulus SMA. Hei, Moha, kenalkan teman Opung ini. Lalu, tolong kau ambilkan minum. Kalo siang seperti ini, es teh manis…”

Moha, orang muda, usianya sekitar dua puluh tahun, usai memompa ban motor pelanggan, segera mendatangi dan menyalami Junde, lantas menghilang di balik kios.

Baca Juga:  WARTAWAN KERAH HITAM

“Esnya sedikit aja, ya…,” ujar Junde kepada Moha

“Bang Junde, aku dengar ada anggota DPR yang sudah jadi tersangka, mmm…siapa namanya?” Tanya Bonar

“Oo, kasus ijin pembangunan mall. Belum, baru penyelidikan, tapi kemungkinan tiga orang yang tersangkut..

“Tiga-tiganya anggota?”

“Bukan. Yang satu Direktur kontraktornya. Yang sudah ketahuan mereka kongkalingkong menyogok pejabat supaya tanah milik negara dialihfungsikan…”

“Itu pejabat kena, kan?”

“Iyalah. Mestinya begitu…”

Moha tak menyia-nyiakan perkenalannya dengan lelaki yang dipanggil Opungnya: bang Junde. Sebab, setiap kali mampir di kios ia banyak membicarakan masalah aktual seputar politik, ekonomi dan sosial. Tak sekedar mendengarkan, ia belajar mencerap informasi bahkan mencoba menuliskannya. Sebagai pemuda seberang lulusan SMA, ia hanya dibekali orangtuanya dengan doa dan nasehat agar, ”Kau jangan memalukan marga. Juga, jangan malu bertanya. Kau pegang itu!”

Semangat Moha tumbuh karena teman Opungnya ini orangnya dengan senang hati memberi penjelasan setiap ia bertanya. Termasuk tak keberatan meminjamkan buku tentang pengantar jurnalistik, yang di dalamnya memuat dasar jurnalistik 5 W 1 H.

Opungnya selalu mengingatkan Moha supaya banyak belajar dari temannya itu. ”Aku tak kuat biayai kau sekolah. Tapi, kau bisa kursus gratis sama dia ha ha…” Maka Moha giat berlatih dan tanpa takut dikritik segera sodorkan hasil tulisannya untuk diperiksa. Ia membahasakan teman Opungnya dengan menyebut Pak Junde.

Junde senang menyaksikan “anak didik”nya cepat berkembang, maka sekitar enam bulan kemudian Moha diperkenalkan kepada pemimpin redaksinya untuk diijinkan magang sebagai koresponden.

Moha merasa semangat mudanya memperoleh peluang dan tempat yang tepat. Pemikiran serta kepemimpinan pak Muhtar yang acapkali diceritakan Junde kepadanya menambah perbendaharaan pengetahuan dan menjadi pedoman dalam melaksanakan tugas-tugas jurnalistiknya. Dan menjadi makin mantap setelah naik tingkat menjadi calon wartawan, dan tiga bulan berikutnya diangkat jadi wartawan serta diijinkan untuk ikut dalam rapat redaksi.

Sayang, baru beberapa bulan Moha menyandang status wartawan, harian Nusantara digugat oleh salah satu Direktur Jenderal Kementerian Kehutanan Luar Jawa. Pasalnya, data-data tentang terjadinya manipulasi dana dan alih fungsi hutan lindung menjadi hutan tanaman di wilayah Sumatera Selatan ternyata tidak akurat. Koresponden yang mengirimkan laporan belum melakukan konfirmasi. Lebih dari itu surat sanggahan dari pihak Kementerian Kehutanan Luar Jawa – yang katanya sudah dikirim ke harian Nusantara tidak sampai ke tangan Redaktur Pelaksana. Entah di mana nyangkutnya surat sanggahan tersebut.

Baca Juga:  Wartawan Kerah Hitam

Sampai dengan munculnya gugatan, sekretaris redaksi merasa tidak pernah menerima surat penting itu. Di sisi lain Kementerian Kehutanan Luar Jawa punya bukti penerimaan pengiriman surat sanggahan. Kecerobohan yang mengundang malapetaka. Pihak kepolisian maupun kejaksaan hanya butuh waktu sekitar dua bulan untuk mengajukan pak Muhtar Lunga, Pimpinan Redaksi harian Nusantara, ke meja hijau.

Di ruang sidang hakim mengetuk palu memutuskan: menjatuhkan hukuman dua tahun enam bulan kepada Muhtar Lunga. Keputusan ini sangat mengejutkan semua awak harian Nusantara yang menghadiri sidang. Muhtar Lunga yang awalnya tampak tegar menerima keputusan hakim, tampak terhenyak. Ia tak berucap apapun. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepala.

Matanya tajam tertuju kepada tiga hakim yang duduk di belakang meja hijau, tapi bibirnya tersenyum. Entah dialog apa yang sedang terjadi dalam dirinya. Kemudian ia berdiri, berjalan pelahan ke arah meja pengacaranya. Tampak ada sesuatu yang tak biasa, tapi tak semua orang memperhatikan.

Ketika tangan kanannya ia ajukan mengajak pengacaranya bersalaman, tangan kirinya bersitelekan di meja. Saat Muhtar Lunga dan pengacaranya bersalaman, mendadak wajah pimpinan redaksi harian Nusantara mengerinyit, tangan kirinya langsung memegang dada, tubuhnya limbung. Pengacaranya kaget. Ia coba menahan tangan kanan pak Muhtar Lunga, tapi tubuhnya sudah doyong ke kiri. Untung sejawat kerjanya sigap, menangkap tubuh dan memeluk sehingga tak terjerembab di lantai. Semua hadirin yang ada dalam ruangan persidangan kaget melihat adegan dramatik ini.

Muhtar Lunga. pingsan, tak sadarkan diri dan langsung dilarikan ke rumah sakit. Dalam perjalanan, ia menghembuskan napas terakhir. Muhtar Lunga meninggal karena serangan jantung. Suasana sedih mewarnai harian Nusantara. Awak redaksi kehilangan nahkoda yang sangat mereka hormati dan cintai.

Baca Juga:  Wartawan Kerah Hitam

Tak hanya bagian redaksi yang shock menerima kenyataan pahit itu, juga bagian usaha terkena imbasnya. Hanya dalam waktu dua minggu oplaag koran bergerak menurun. Beberapa produsen yang memasang iklan – ada yang secara sepihak, ada yang memberikan alasan secara jelas – mengundurkan diri alias menarik iklan mereka dari harian Nusantara untuk dialihkan ke media cetak lainnya.

“Ini salah satu resiko profesi kita kaum jurnalis,” gumam Surya, sejawat kerja Junde saat makan siang di kantin belakang kantor. Kantin dengan menu masakan segala ada, campuran dari masakan Tegal dan Sunda, merupakan tempat favorit di tengah rehat kerja.

“Saya seperti ditampar waktu hakim ketok palu, huh!” gerutu Kartono, fotographer merangkap wartawan.

“Aku bukan cuma ditampar, To, rasanya ulu hatiku ditonjok,” sahut Junde. “Kita mesti koreksi diri. Kita usul ke Redpel buat undang semua koresponden daerah. Mereka harus ditatar ulang…”

“Check and recheck, check and recheck, sudah ratusan kali pak Muhtar mengingatkan kita semua, huuu, masih ada juga yang teledor. Sontoloyo!” Surya berteriak melampiaskan geramnya.

“Kalo aku punya duit, aku pingin ke sana. Aku selidiki sampai detil. Aku yakin si Dirjen itu sempat memerintahkan bawahannya menyembunyikan…mmm, mungkin menghapus data-data manipulasinya. Jadinya pihak mereka bisa mengelak dari tuduhan malahan membalikkan keadaan…,” timpal Junde penasaran.

Jauh dalam lubuk hati sebenarnya ia ingin membicarakan mengapa pak Muhtar wafat secara mendadak? Pengalaman sekian tahun berkerja di bawah satu atap, tak ada satu pun yang mengetahui pimpinan mereka itu menderita sakit. Penampilannya selalu tampak segar, senyumnya lebar. Kecuali setiap menerima informasi serius, yang membutuhkan pemikiran sebelum merencanakan tindakan. Bicaranya jarang, dan cukup sering terlihat gerahamnya bergerak-gerak. Apakah itu indikasi pak Muhtar sedang menahan gejolak bathinnya yang geram oleh situasi dan kondisi negera? Sedemikian bertumpukkah luka hatinya, sehingga tanpa disadari menggerogoti kesehatannya? (bersambung)