Wartawan Kerah Hitam

Wartawan Kerah Hitam
Wartawan Kerah Hitam
Oleh: Uki Bayu Sedjati & Hari Agustono

 

“Mmm, Moha dan Nuri, maaf saya hanya menerima kamu di sini. Karena Pak Junde lagi sakit. Boleh saya tahu keperluan Moha ke sini…”

“Bapak lagi sakit, Bu? Sakit apa?”

“Sesak nafas, sedikit demam, biasa….,” ujar bu Sri coba tersenyum. Meski jika dicermati tampak ada garis kecemasan membayang di wajahnya.

“Maaf, bu Sri, saya diminta Bapak datang. Minggu lalu saya ketemu di kantor Cukai Pajak…”

“Oo, begitu…”

“Ya, bu. Mau wawancara karena saya dengar Bapak kolektor mobil built-in…”

“Dengar dari mana? Memangnya Pak Junde orang terkenal…?”

“Di kalangan wartawan sebaya saya mungkin hanya beberapa yang kenal, Bu, tapi di generasinya pak Junde…woow, beliau sering disebut-sebut…”

Tengah mereka berbincang terdengar suara uluk salam. “Selamat siang..”

Tampak seorang tua melangkah dari pintu halaman ke arah teras diikuti satpam. Dari rambut dan jenggotnya yang sebagian berwarna abu-abu putih, mungkin usianya berkisar antara enampuluh-an tahun. Ia mengenakan baju koko putih yang apik, celana dan sepatu hitam serasi – tampak elegan. Juga tongkat warna hitam di genggaman tangan kanan menambah wibawanya. Tangan kirinya mencekal gagang tas kulit coklat tua.

“O, Ki Sura, monggo, Ki, monggo, silakan..,” sambut Sri yang segera menghampiri lantas menyalami dan mencium tangan tamunya.

“Ki Sura naik apa?” Tanya Sri.

“Naik taksi… supir saya sakit”

Melihat nyonya rumah menyambut tamunya seperti itu, Moha dan Nuri langsung menangkap kesan bahwa orangtua ini tamu istimewa. Keduanya segera mengikuti sikap nyonya rumah – langsung menyalami sambil cium tangan.

Diperlakukan secara hormat seperti itu tampak Ki Sura manggut-manggut. ”Rahayu semuanya ya…” ucapnya datar. Lantas bertanya pada nyonya rumah, ”Bagaimana suamimu?”

“Biasa, Ki. Abang kecapekan. Ada di ruang kerja..,” jawab Sri seraya mengikuti langkah Ki Sura memasuki rumah.

Moha dan Nuri hanya berdiri saja di teras karena tak diminta ikut masuk rumah. Mata Moha lebih tertuju pada tongkat yang digenggam orangtua – yang dipanggil Ki Sura itu. Tampaknya terbuat dari kayu sonokeling, berbobot. Gagangnya sepanjang satu meter berukir lilitan ular bersisik dan kepalanya Naga bermahkota – mirip senjata sakti milik tokoh pewayangan Baladewa yang diberi nama Nenggala.

Di dalam ruang kerja itu si empunya rumah terbaring di velbed khusus untuk penderita sakit jantung. Ki Sura memperhatikan dengan seksama. Lantas ia mengangkat tongkatnya. Ternyata tongkat itu merupakan sarung dari sebilah keris luk 7, panjangnya sekitar 50 cm. Saat dikeluarkan dari sarungnya tercium wangi kesturi. Ki Sura menempelkan keris itu di ubun-ubun pak Junde, yang separuh wajahnya tertutup oleh masker oksigen – selangnya terhubung ke tabung ukuran sedang– seperti yang ada di rumah sakit.

Baca Juga:  Wartawan Kerah Hitam

Bibir Ki Sura terlihat komat-kamit membaca doa. Sepasang matanya tajam tertuju ke kening pak Junde. Lantas keris di tangannya ditekan-tekan pelahan pindah dari rambut ke kening, terus ke wajah, terus…sampai ke telapak kaki. Sri mengamati ritual itu dengan wajah penuh harap.

“Ndak apa-apa. Dia butuh istirahat sebentar,” bisik Ki Sura pada Sri.

“Ya, Ki. Syukurlah. Maaf, saya tadi langsung telepon, maaf ganggu kesibukan…”

Rupanya suami Sri ini sudah mulai siuman dari kondisi pingsannya. Jemarinya bergerak-gerak seolah memberi isyarat salam pada Ki Sura. Orangtua ini tersenyum lantas menepuk pelahan jemari seperti membalas isyarat. Kemudian ia berbisik di telinganya, ”Rahayu, sehat dik Junde. Rahayu…”

Lihat, jemari pak Junde bergerak-gerak di sela jemari Ki Sura. Sambung rasa dengan sentuhan jari jemari menunjukkan kedekatan relasi di antara keduanya.

Bunyi HP lagu “Il Silenzio.” Ki Sura mengeluarkan pesawat mungil dari tas kulit coklatnya. ”Ya, saya sendiri. Bagaimana? Ooo, ya. Oo ya. Baik. Ndak lama, ya ya…”

Seraya memasukkan HP ke tempatnya semula, ia berbisik pada istri Junde. ”Saya ada keperluan dulu, bu Sri. Ada direktur perusahaan negara mau konsultasi. Nanti sore atau malam saya usahakan ke sini lagi..

“O, ya ya, Ki. Ya, terima kasih…”

Setelah Ki Sura meninggalkan rumah Junde, maka Sri kembali menemui Moha dan Nuri. Wajahnya tampak lebih cerah. Rupanya kehadiran orangtua itu sangat berarti. Tentu saja menjadikan dua tamunya penasaran. Siapa Ki Sura sebenarnya, dan seberapa jauh kedekatannya dengan pak Junde?

Berbagai pertanyaan melintas tapi tak mungkin secara langsung ditanyakan. Moha merasa harus lebih dulu mengetahui situasi dan kondisi nara sumber di hadapannya. Apalagi suami bu Sri ini – seseorang yang ikut merubah jalan hidupnya. Jadi tak mungkin sembarang bertanya.

“Maaf, Bu. Itu, pak kiai tadi ampuh ya, bu?” Tanya Moha hati-hati.

“Ki Sura? Teman Bapak, ya…baru berapa tahun, tapi sudah seperti saudara. Kalo mereka ngobrol bisa sampai pagi,” ujar Sri.

“Oo, suka ngobrol yaa, bu. Kalo saya mau wawancara beliau bisa dong ya…”

“Tentang apa? Soal mobil? Ki Sura itu kolektor keris, bukan mobil…”

“Ooo, maaf, keris yaa, asyik tuh…”

“Moha sudah berapa lama di tempat kerja sekarang?” Sri mengalihkan pembicaraan.

“Mmm, hampir dua tahun, Bu…”

“Dulu waktu ikut di harian Nusantara berapa tahun?”

“Sekitar dua tahun, Bu. Kalo gak kenal pak Junde saya gak mungkin jadi wartawan. Saya kenal Bapak unik ceritanya he he he. Awalnya di bengkel sepeda…”

Baca Juga:  Wartawan Kerah Hitam

“Bengkel sepeda? Ooo, ya, dulu pak Junde memang hobinya naik sepeda…”

Nama lengkapnya Ahmad Junaedi, panggilannya Juned. Mungkin karena sejak muda pergaulannya di kalangan wartawan dan seniman, yang memang perilakunya terbuka, suka sindir-menyindir, hal apapun bisa diolah jadi bahan tertawaan.

“Jenenge Junaedi dipanggil-e Jun, Junedi, kok gak enak se..,” celetuk Rahmat, arek Malang.

“Alamak, apa beda. Di kampungku memang begitu panggilnya Junedi,” tukas Mahbub – yang orangtuanya buka warung Padang di Pasar Senen.

“Aku manggil dia Jun, Jun, gitu kok. Biasa, tho,” ujar Basuki

“Orang Sunda teh nyebutna Juned..,” sambung Kartono

“Haaa, kau betul. Juned, enak tuh…daripada Jun…”

Entah dari mana asal-usulnya panggilan Juned kemudian berubah jadi Junde. Mungkin juga karena dalam pergaulan dengan latar belakang budaya berbeda sehingga saling pengaruh-mempengaruhi menjadi hal lumrah. Termasuk dalam penggunaan bahasa sehari-hari. Ketika ngobrol bahasa yang digunakan campur aduk. Bukan hanya bahasa daerah, tapi juga bahasa singkatan, ada bahasa preman, juga plesetan gaya Yogya maupun walikan gaya arek Malang.

Karena itu Juned ataupun Junde dianggap sama saja. Istri dan anak-anaknya pun ikut-ikutan memanggil Junde.

Padahal jika disimak pembawaan pribadi sehari-hari ia bukan termasuk mereka yang suka cekakakan, tawa terbahak, getol ledek-ledekan. Ia biasanya hanya penggumbira saja.

Tak banyak tingkah. Tapi bagi teman-temannya ia sering juga diseret ke dalam obrolan yang “vivere pericoloso.” Itu istilah yang biasa digunakan oleh Presiden Soekarno dalam pidatonya di jaman orde lama. Terjemahan bebasnya “menyerempet-nyerempet bahaya.”

Dengan begitu mudah dipahami isi pembicaraan kalangan wartawan dan seniman misalnya tentang ”sekperumda” yang bukan singkatan dari sekretaris perusahaan perumahan daerah, ataupun akronim ”sekwilda” yang bukan hanya sekretaris wilayah daerah, tapi, maaf, sekitar perempuan terutama janda dan, maaf lagi, sekitar wilayah dada… Apa boleh buat, memang, kadang ia sesekali nimbrung ikut dalam pembicaraan, namun lebih sering ikut senyum senyum saja mendengar celoteh teman-temannya.

Sikapnya lumayan tenang dalam menanggapi wacana apa pun. Ia lebih banyak mendengar dan mengamati. Kadang hanya bicara secukupnya. Dan, biasanya, pada saat yang tepat telaah analisanya disampaikan dengan pengucapan yang lugas.

Kegemarannya menulis saat menjalani masa remaja memperoleh lahan yang layak ketika berkecimpung di dunia kewartawanan. Diawali dari mengirim cerita pendek maupun puisi, kemudian esai untuk kolom, sampai ia diminta untuk bergabung di harian Nusantara. Dan beroleh tugas mewawancarai narasumber membahas berbagai masalah aktual.

Yang jelas ia orang yang bersahaja.

Dan, yang unik, adalah persahabatan antara Junde dengan sepedanya, merek “Hercules” – kata orang aslinya buatan Inggris – juga disebut: sepeda lelaki karena memiliki besi palang di antara setang dengan sadel. Remnya depan belakang memakai teromol, lengkap dengan boncengan, bel dan lampu berko. Tugas-tugas jurnalistik ke berbagai wilayah Jakarta dilakukan Junde dengan mengayuh sepedanya menelusuri dan menyusuri gang, jalan kecil dan jalan besar. Menyelinap di antara rumah di pemukiman kumuh sampai menggenjot sepeda di tengah hiruk pikuk kendaraan yang lalu-lalang, semua dilakoninya dengan penuh semangat.

Baca Juga:  WARTAWAN KERAH HITAM

Suasana kerja di harian Nusantara sangat menyenangkan dan penuh dinamika. Kantornya berada di sekitar pusat pertokoan. Selain pemimpin redaksi dan redaksi pelaksana, ada 10 orang staf redaksi dan sejumlah reporter. Juga pemimpin umum, pemimpin usaha beserta manajer iklan, sirkulasi, bekerja bersama. Kantor dua tingkat, tak seberapa luas, namun lokasinya menunjang dinamisasi karena di tengah kota. Sedangkan kantor bagian artistiknya terpisah – menyewa ruang di gedung milik perusahaan percetakan, di wilayah Kemayoran.

Lingkungan yang kondusif memang dapat menumbuh-kembangkan potensi orang – terutama, yang mau menjalani proses belajar secara tekun dan gigih. Apalagi pemimpin redaksi Harian Nusantara, Muhtar Lunga, dikenal sebagai tokoh pers yang memegang teguh prinsip dasar jurnalistik: jujur, terbuka dan berimbang.

”Kita ini koran indenpenden. Yang saya maksud dengan indenpenden ialah kita berdiri sendiri, tidak ke kanan tidak ke kiri, tidak ikut-ikutan bela siapapun, apalagi partai. Kita mandiri,” terang pak Muhtar suatu kali.

Masa itu sistim kepartaian sedang menciutkan jumlah partai. Maka partai-partai yang merasa visi misinya sama bergabung jadi satu partai. Lantas lanjutnya, ”Mandiri adalah sikap dan karakter kita. Orang boleh bilang itu sikap politik, silakan. Yang jelas prinsip kita satu: menegakkan kebenaran dan memerangi kebathilan.”

Kondisi politik ekonomi sosial yang berubah bagaimana pun tak pernah menggoyahkan prinsipnya. Ia memberi teladan cara mencari, mengumpulkan, mengolah-sajikan informasi yang akurasinya ditunjang data-data yang dapat dipercaya. Jauh dari info yang sekedar isyu, juga menghindari intrik dan gosip. Apalagi sensasi.

Bagi pak Muhtar bukan “orang menggigit anjing” yang dijadikan berita melainkan tetap “anjing menggigit orang” itu pun diselidiki dan disidik hingga detil-detil sebab akibatnya. Membongkar kolusi, manipulasi dan korupsi yang dilakukan oleh pejabat pemerintah maupun pengusaha dinyatakannya sebagai amanah dari rakyat “atas nama Tuhan” yang dengan sepenuh hati dilaksanakan apapun konsekuensinya.

Berbagai ancaman lewat surat kaleng, bahkan kantor di demo oleh pengunjuk rasa bayaran tak pernah digubris. Tentu saja sikap kokoh seperti itu menjadi momok bagi siapapun yang berlaku serong, menyimpang bahkan melanggar hukum, termasuk pejabat-pejabat eksekutif, legislatif dan yudikatif. Sudah tak terhitung berbagai penyimpangan dijadikan head-line, dengan huruf-huruf kapital di halaman depan. Oplaag harian Nusantara sekitar 70 ribu eksemplar, sebagian besar pembaca adalah pelanggan setia. (bersambung)