Connect with us

Budaya / Seni

Tradisi “Uroe Peukan” Kampung Opak di Kabupaten Aceh Tamiang

Published

on

Tradisi “Uroe Peukan” Kampung Opak

Tradisi “Uroe Peukan” Kampung Opak

NUSANTARANEWS.CO, Aceh Tamiang – Tradisi “Uroe Peukan” Kampung Opak. Hari Pekan atau hari pasaran (bahasa Aceh: Uroe Peukan) dalam pandangan sebagian orang awam hanyalah sekedar pusat kegiatan ekonomi masyarakat semata. Tempat para penjual dan pembeli bertemu untuk melakukan transaksi jual-beli.

Padahal bila kita telusuri lebih jauh, sebenarnya kegiatan hari pekan adalah salah satu bentuk budaya masyarakat yang telah berlangsung secara turun-temurun sejak dahulu dan masih tetap lestari hingga saat ini. Boleh dikatakan bahwa untuk melihat kebudayaan suatu daerah maka pasarlah sebagai salah satu wujud gambaran awal tentang budaya masyarakat di daerah tersebut.

Dari sebuah pasar, dapat dilihat jenis barang-barang yang dijual, masyarakat yang datang berbelanja, dan cara mereka berkomunikasi dan bertransaksi semua menunjukkan wujud dari satu budaya.

Ada sesuatu yang unik pada hari pasaran di Desa Simpang Empat Upah, yang populer dengan sebutan Kampung Opak di Kabupaten Aceh Tamiang. Terutama jika menyimak bahasa yang digunakan ketika melakukan komunikasi dalam bertransaksi.

Sedikitnya ada empat bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi yakni: bahasa Indonesia, bahasa Melayu Tamiang, bahasa Aceh dan Bahasa Jawa. Bahasa ini sekaligus menunjukkan indikator yang mewakili suku-suku yang ada di daerah itu.

Letak geografis Simpang Empat Opak ibarat negara Turki saja, sebagian masuk Eropa dan sebagian lagi masuk Asia. Demikian pula Gampong Simpang Empat Opak yang strategis sebagai jalur utama lalu lintas penduduk yang ingin berpergian keluar desanya – para penduduk desa harus melewati Simpang Empat Opak. Sehingga pada hari-hari besar seperti Lebaran Idul Fitri, idul Adha, hari Meugang (hari motong hewan menjelang hari besar), terkadang malam minggu juga bisa macet.

Baca Juga:  Gelar Doa Bersama, Kiai Se-Surabaya Minta Eri Cahyadi Meneruskan Risma Jadi Wali Kota

Kemacetan juga sering terjadi jika para pengunjung hari pekan yang datang dari empat penjuru kampung di antaranya dari arah Sei Iyu, Seuneubok Dalam, Telaga Muku, Paya Raja, Marlempang, Lebuk Batil dan lain-lain. Lalu dari arah Seruwey, Rantau Pertamina, Padang Lenggis, Alur Manis, Cucur, Sukaramai dan lain-lain. Kemudian dari arah Tugu, Batang Tepah, Paya Awe, Paya Kulbi, Sapta Marga, Tualang Cut dan lain-lain. Serta dari arah Simpang Tiga, PKS, Seumantoh, Paya Bujok, Berongga, Alur Bemban, Medang  Ara, dan lain-lain.

Pemda Aceh Tamiang dalam rangka pembangunan daerahnya, juga memberi pelayanan dan memfasilitasi masyarakat dan pedagang di Desa Simpang Empat Opak. Di bawah kepimpinan Hj. Isnawati sebagai Lurah (datok), saat ini sedang membangun toko-toko atau kios-kios yang baru yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan pedagang.

Toko-toko atau kios-kios lama dirobohkan, sehingga lapak pedagang yang biasanya menempati pinggiran jalan, sementara waktu dipindah ke sepanjang jalan dan lahan kosong milik almarhum Tengku Chawasuddin dan istrinya almarhum OK. Syahrian yang telah menghibahkan lahan tersebut kepada tiga putrinya yaitu Tengku Aida Eliya, Tengku Maisyarah dan Tengku Ummi Ulfah.

Dalam situasi pembangunan pasar tersebut, di lokasi sementara ternyata tidak menghilangkan budaya masyarakat untuk datang ke pasar.

Sebagian besar masyarakat di sekitar daerah tersebut yang menjadi pengunjung pasar terdiri dari beragam profesi, mulai dari petani, buruh perkebunan, PNS, swasta, pedagang, termasuk pengusaha. Pasar telah menjadi tempat melepaskan penat masyarakat yang lelah seharian bekerja keras untuk mengumpulkan peng (uang). Tidak mengherankan bila pasar terus dipenuhi pengunjung ramai untuk berbelanja kebutuhan sandang pangan, sekaligus sebagai sarana refressing hingga hari Selasa.[]

Baca Juga:  Perlawanan Rakyat, Kekerasan Polisi & Reformasi Institusi Keadilan

Penulis: Thahar BYs

 

 

Loading...

Terpopuler