TMMD 113 Kodam V/Brawijaya, Mampu Tingkatkan Pembangunan dan SDM Masyarakat

TMMD 113 Kodam V/Brawijaya, mampu tingkatkan pembangunan dan SDM masyarakat.
TMMD 113 Kodam V/Brawijaya, mampu tingkatkan pembangunan dan SDM masyarakat.

NUSANTARANEWS.CO, Surabaya – Keluhan demi keluhan yang dirasakan oleh warga di beberapa daerah yang ada di Jawa Timur, mulai dijawab oleh pihak Kodam V/Brawijaya dengan adanya program TNI Manunggal Membangun Desa atau TMMD ke-113 yang dibuka pada tanggal 11 Mei 2022, lalu.

Salah satunya, pada pelaksanaan TMMD di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, tepatnya di Desa Cepoko, Kecamatan Ngrayun. Beberapa fasilitas umum, terutama menyangkut program fisik mampu diselesaikan dengan baik oleh pihak Satgas Kodim Ponorogo.

Selain berhasil membangun jembatan sepanjang 7,6 meter dengan lebar 4 meter dan tinggi 4 meter, Satgas di bawah kendali Letkol Inf Muhammad Radhi Rusin tersebut, turut membangun adanya peningkatan rabat jalan sepanjang 1.100 meter dengan lebar 2,5 meter.

Pembangunan-pembangunan fasilitas umum itu, tentunya sangat membantu masyarakat, terutama Desa Cepoko yang masuk indikator sebagai daerah atau Desa terisolir yang ada di Kabupaten Ponorogo.

Sukadi (42), salah seorang warga Desa Cepoko menjelaskan adanya pembangunan jembatan, hingga rabat jalan yang dilakukan oleh Satgas TMMD itu, tentunya sangat membantu masyarakat yang mayoritas berprofesi sebagai petani.

Jembatan yang dibangun oleh Satgas itu, kata dia, merupakan salah satu akses penghubung antar Desa yang dinilai mampu mendongkrak perekonomian masyarakat. “Ya pada intinya pak, kita tidak perlu jauh-jauh lagi kalau mau ke Desa lainnya. Sekarang tinggal lewat jembatan itu,” kata Sukadi.

Sementara itu, Dansatgas TMMD 113 Ponorogo, Letkol Inf Muhammad Radhi Rusin membeberkan, ada yang menarik pada pelaksanaan TMMD di wilayah teritorialnya tersebut.

Bukan hanya soal pembangunan yang dilakukan oleh pihak Satgas saja. Namun, mantan Danyonif 516/CY itu mengungkapkan keberadaan TMMD ternyata mampu meningkatkan semangat patriotisme dan nasionalisme masyarakat.

Hal itu, terbukti ketika Satgas bersama warga saling bahu-membahu berupaya untuk menyelesaikan berbagai pembangunan fisik yang ada di Desa Cepoko itu.

Semangat kebersamaan dan Kemanunggalan pun, kata dia, terlihat semakin kuat. Menurutnya, kebersamaan dan gotong-royong tersebut merupakan tujuan utama digelarnya TMMD di Desa Cepoko itu.

“Sebelumnya juga kita instruksikan pada personel untuk bisa meningkatkan Kemanunggalan TNI dan rakyat. Dan yang terpenting, adalah bisa menggugah kembali semangat gotong-royong. Sebab, itu warisan penting leluhur kita,” jelasnya.

Terpisah, ketika dihubungi melalui via seluler miliknya pada Jumat, 10 Juni 2022 pagi, Kepala Penerangan Kodam V/Brawijaya, Kolonel Arm Kusdi Yuli Suhandra mengungkapkan, pelaksanaan TMMD ke-113 tersebut berlangsung di beberapa daerah.

Selain di Kabupaten Ponorogo, program itu juga digelar di Kabupaten Trenggalek, Tuban, Bangkalan, dan Pasuruan.

Selain program fisik, Kapendam menyebut pelaksanaan TMMD ke-113 itu juga menggelar adanya program non fisik, yaitu berupa sosialisasi dengan melibatkan instansi maupun stakeholder terkait.

Adanya program non fisik itu, mencakup perihal sosialisasi yang dinilai perlu diketahui oleh masyarakat di daerah terisolir. Pasalnya, selain meningkatkan pembangunan berupa fasilitas umum, program TMMD tersebut juga memiliki visi dan misi yang sangat penting, yaitu meningkatkan kualitas SDM masyarakat.

“Di lokasi TMMD itu, kita adakan juga sosialisasi. Bisa mencakup sosialisasi mengenai hukum, kependudukan, kesehatan dan lain sebagainya. Dengan harapan, SDM masyarakat bisa berkembang dengan adanya sosialisasi yang dilakukan oleh pihak Satgas bersama pihak terkait lainnya,” jelas Kusdi.

Perlu diketahui, penetapan sasaran dari pelaksanaan program TMMD itu ditentukan sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi masyarakat. Dijelaskan Kusdi, hal tersebut menjadi suatu prioritas program TMMD.

“Dengan harapan, pelaksanaan TMMD bisa tercapai secara optimal dan maksimal. Itu semua, demi kesejahteraan masyarakat di daerah terisolir, itu berlaku bagi program fisik maupun non fisik,” beber Kapendam V/Brawijaya. (Kapendam V/Brawijaya)