Connect with us

Hankam

Soal UU CAATSA, Analis Alutsista Indonesia: Beradu Cerdik dan Cerdas

Published

on

Sukhoi Su-35 Rusia. (Foto: TASS)

Sukhoi Su-35 Rusia. (Foto: TASS)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Analis Pertahanan dan Alutsista TNI, Jagarin Pane mengungkapkan, lambannya proses pengadaan jet tempur Sukhoi SU35 bukan karena persoalan di internal Rusia dan Indonesia. Akan tetapi lantaran ada gertakan dari AS bahwa siapa saja yang belanja alutsista Rusia akan dikenakan sanksi embargo dari Uak Sam. Persoalannya adalah, di saat Indonesia belanja jet tempur ke Rusia, ternyata AS sedang marah besar sama Rusia yang disinyalir Papa Bear ikut campur dalam Pilpres AS yang memenangkan Donald Trump tahun 2016. Dimana, CAATSA (Countering America’s Adversaries Through Sanctions Act) lahir karena itu.

Jagarin dalam sebuah telaah yang ditulis awal bulan September lalu menyebut bahwa, lewat Undang-Undang CAATSA yang diteken 2 Agustus 2017, tapi ditentang Trump, berlaku efektif 1 Februari 2018.

“Maka siapa saja yang beli senjata Rusia akan dikenakan sanksi, begitu bunyinya. Tapi nanti dulu, ternyata ada tiga negara yang dikecualikan dengan sanksi ini, yaitu India, Vietnam dan Indonesia. Begitu istimewanyakah ketiga negara ini. Dalam pandangan geostrategis dan geopolitik AS jawabannya Ya,” kata Jagarin seperti dikutip nusantaranews.co, Jumat (14/9/2018).

Di lain sisi, kata Jagarin, musuh masa depan AS adalah Cina, bahkan sekarang lagi terlibat dalam perang dagang. Salah satu potensi konflik masa depan adalah Laut Cina Selatan (LCS). Cina sedang membangun pangkalan militer besar-besaran di LCS dan ini tentu membuat AS murka. Pertarungan memperebutkan hegemoni ekonomi dan militer sedang terjadi diantara keduanya. Dalam lima tahun kedepan diprediksi klasemen puncak kekuatan ekonomi AS akan disalip Cina.

“Nah ketika bulan Februari lalu ditandatangani kontrak pengadaan 11 jet tempur SU35 dengan Rusia, setelah kedatangan Menhas AS Jim Mattis ke Jakarta, bersamaan dengan pemberlakuan CAATSA, terjawablah sudah bahwa Indonesia boleh-boleh saja membeli Alutsista made in Rusia. Disamping itu porsi beli senjata AS juga cukup besar dari Indonesia seperti F16, Apache, Bell dan lain-lain,” jelas Jagarin.

Indonesia Meningkatkan Kekuatan Militer

Sebagaimana diketahui, Indonesia kini sedang memperkuat militernya. Pengadaan beragam jenis alutsista tentu dilakukan dari berbagai negara sesuai dengan prinsip bebas menentukan sendiri.

“Maka bisa kita lihat kombinasi alutsista yang kita miliki saat ini. Ada Apache ada Mi35, ada Bell 412 ada Mi17, ada F16 ada Sukhoi, ada BMP3F ada LVTP, ada Nassam ada Vampire, ada Leopard ada Marder, ada M113 ada Anoa. Beragam jenis alutsista gaek juga ada, berdampingan dengan “cucunya” yang sudah digital. Mirip show room alutsista,” tutur Jagarin.

“Kita masih membutuhkan banyak alutsista untuk memodernisasi TNI kita. Maka sebagai langkah cerdas dan cerdik Menhan Ryamizard berkunjung ke Pentagon selasa 28 Agustus 2018 yang lalu. Pentagon menyambut hangat dengan dentuman meriam 21 kali. Boleh jadi karena sekutu strategis dia, katanya, sedang bertamu dengan membawa daftar belanja alutsista. Siapa sih yang gak senang. Bukankah kita mau beli Hercules, mau beli Chinook, mau nambah Apache, mau nambah F16 dan lain-lain,” terang Jagarin menambahkan.

Menurut dia AS memang cerdik walaupun Indonesia juga tak kalah cerdasnya. “Silakan saja dia anggap kita sekutu strategis karena posisi kita memang strategis sejak jaman nenek moyang dulu. Kita beli berbagai jenis alutsista buatan berbagai negara untuk pertahanan teritori agar tidak terjebak dengan sanksi embargo sebagaimana pernah dialami dulu,” ujarnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, ketika Hawk Indonesia tidak boleh menggempur GAM di Aceh tahun 2003, F16 pun tak bisa terbang karena insiden Santa Cruz Timtim. Kondisi kekuatan angkatan udara Indonesia waktu itu memprihatinkan. Tetapi sekarang sudah bangun industri pertahanan. “kita sudah bisa buat panser, tank, roket, kapal perang berbagai jenis. Yang belum bisa dibuat ya kita beli dong,” kata dia.

Dikatakan Jagarin, sekarang AS sedang mempersiapkan langkah cerdiknya dengan memasukkan Indonesia, Vietnam dan India sebagai sekutu strategisnya untuk menghadapi Cina. Cerdiknya Uak Sam itu kalau mau berkonflik pasti gak mau sendirian. Selalu dia ajak negara lain untuk ikut berkelahi. India, kata dia, memang tidak begitu suka sama Cina, apalagi Vietnam. Masalahnya dua negara ini sangat dekat dengan Rusia. Berbagai jenis alutsista keduanya adalah made in Rusia. India punya ratusan pesawat Sukhoi, Vietnam punya 5 kapal selam Kilo dan puluhan Sukhoi serta senjata strategis lainnya.

“Maka, kata Uak Sam, gak papalah beli alutsista Rusia, tapi beli jugalah senjata kami. Rayuan setengah memaksa neh. Ya gak papa juga kata Indonesia, kami juga masih butuh diversifikasi alutsista. Kalau untuk berhadapan dengan LCS boleh jadi kita pakai alustsista AS tapi untuk menghadapi selatan kan harus pasang kuda-kuda juga, jadi pakai made in Rusia,” ujar Jagarin.

“Kita juga baik dengan Cina, dengan Jepang, dengan Rusia. Di LCS kita tidak berkonflik dengan Cina, netral gitu. Jadi kalau ada yang memasukkan kita sebagai sekutu strategis, justru sangat bermanfaat bagi kekuatan diplomasi kita. Minimal Cina gak bakalan ganggu Natuna. Jadi cerdik beradu dengan cerdas sambil kita perkuat terus militer kita,” tutup Jagarin.

Pewarta: Roby Nirarta
Editor: M. Yayha Suprabana

Advertisement

Terpopuler