Connect with us

Budaya / Seni

Siluet Cinta Bunda

Published

on

cerita pendek, cerpen, cerpen ola ummu athiyah, ola ummu athiyah, cerpen indonesia, siluet cinta bunda, cinta bunda, nusantara, nusantara news, nusantaranews

Seorang ibu memeluk anaknya. (Foto: Ilustrasi/mimherba.com)

Siluet Cinta Bunda

Cerpen: Ola Ummu Athiyah

“Bun, kenal kan sama Arni teman sekelasku? Kasihan deh dia, katanya ayahnya akan menikah lagi.”

Alhamdulillah. Artinya Arni akan punya ibu lagi.”

“Tapi Bun, ibu tiri kan galak.”

Loading...

“Jangan buruk sangka dulu, banyak kok ibu tiri baik.”

Ih, amit-amit! Aku tidak mau punya ibu tiri. Bunda is the best.” Nailah mengecup pipi bunda dan berlalu. Rosita tersenyum. Dalam benaknya melintas peritiwa sepuluh tahun yang lalu.

*****

Bukan hal yang mudah bagi Rosita memutuskan menerima pinangan Fauzan, duda muda beranak satu. Dalam keluarga besarnya belum ada yang menikah dengan duda, ditambah lagi Rosita juga masih muda, 20 tahun. Tapi karena keluarga mengenal Fauzan sebagai pria baik-baik dan tingkah lucu bayi Nailah yang berusia 12 bulan begitu menggemaskan sekaligus menumbuhkan iba, akhirnya ayah Rosita memberi restunya.

Tidak berselang lama setelah pernikahan, keluarga kecil ini kemudian pindah ke Makassar karena Fauzan dipindahtugaskan dari kantornya.

Hari-hari selanjutnya menjadi tantangan bagi Rosita. Menjadi ibu sepenuhnya bagi Nailah. Bersama sepanjang waktu, mencurahkan kasih sayang sepenuhnya, bergelut dengan urusan rumah tangga dan mengurus Nailah dari pagi hingga malam membuat tidak ada lagi sekat rasa antara Rosita dengan Nailah, mereka menjadi ibu dan anak seutuhnya. Orang-orang disekeliling mereka pun tidak menyadari kalau Nailah tidak lahir dari rahimnya.

Waktu pun berlalu, umur Nailah tiga tahun ketika Rosita hamil pertama kalinya. Melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama Anas. Empat tahun kemudian lahir lagi bayi perempuan bernama Hana. Kehidupan Rosita menjadi lebih berwarna. Ia pun tidak pernah membedakan perlakuan diantara anak-anaknya.

Baca Juga:  Penutupan Lokalisasi Kotawaringin Barat, Mensos: untuk Angkat Martabat Manusia

Hingga tiba hari, Nailah menyinggung tentang ibu tiri. Rosita sadar, suatu saat pasti rahasianya cepat atau lambat akan terbongkar. Dan lebih baik dia atau Fauzan yang buka tabir ini.

*****

Rosita berusaha menenangkan diri, kecemasan akan respon negatif Nailah membayanginya. Bagaimana jika Nailah menjauhinya? Setelah diskusi panjang dengan suaminya, akhirnya mereka memutuskan memberi tahu Nailah yang sebenarnya. Tapi secara halus saja. Rencana cuti akhir tahun ini mereka akan berkunjung ke desa kelahiran Winda, istri pertama Fauzan, ibu kandung Nailah. Terakhir kali Fauzan berkunjung kesana tahun lalu, sendiri. Selain itu komunikasi selama ini dengan keluarga Winda lebih banyak melalui telepon dan sosial media. Nailah belum pernah kesana selama mereka pindah ke Makassar. Rosita khawatir sambutan keluarga ibunya akan membuat Nailah bingung.

Mengetahui bahwa mereka sekeluarga akan pergi berlibur ke desa membuat anak-anak bersemangat. Nailah dan Anas menyiapkan sendiri pakaian mereka. Hana menarik pakaiannya di lemari hingga berceceran memenuhi lantai kamar. Rosita hanya pasrah.

Mobil melaju dengan kecepatan sedang melewati jalan aspal basah sisa hujan yang baru reda. Terkadang melambat ketika jalanan berkelok mengikuti kelokan sungai kecil di sisi kiri jalan. Segarnya aroma pepohonan basah sedikit melegakan himpitan beban di dada Rosita. Setelah menempuh perjalanan lebih dari dua jam, akhirnya mereka tiba di depan rumah panggung yang cukup besar dengan halaman yang luas. Fauzan menghentikan mobilnya. Sepasang orangtua berjalan pelan mendekat. Itulah kakek dan nenek Nailah. Adik Winda, Ratna dan suaminya serta dua orang anak mereka tinggal dirumah ini juga.

Keluarga Fauzan disambut ramah. Rosita membantu bereskan meja makan setelah santap siang. Sambil ngobrol serius santai dengan Emma’ Jum, panggilannya untuk ibunya Winda. Dari halaman terdengar suara Anas dan Hana riuh sembari lompat- lompat menggapai buah jambu air yang menggelantung rendah.

Baca Juga:  Antara La Nyalla, Usamah Hisyam dan Jokowi

Nailah yang dari tadi tampak malu-malu karena terus dilirik dengan senyum penuh arti oleh tuan rumah, menyusul ibunya ke kamar. Rosita tahu gadis kecil ini penasaran. Ini mungkin saat yang tepat.

“Mereka ini siapa sih, Bunda?” Nailah duduk disamping ibunya.

“Mereka baik kan?” Rosita balik bertanya. Dia melangkah ke meja kecil di sudut kamar, menarik laci dan mengambil sebuah album foto ukuran 10 R. Menarik nafas berat.

Diusapnya sampul yang agak berdebu. Bismillah, ucapnya nyaris tak terdengar. Foto terdepan menggambarkan sepasang laki-laki dan perempuan berbalut busana pengantin islami dengan senyum merekah bahagia.

“Orang ini mirip banget sama ayah. Om Ardi saja tidak semirip ini.” Nailah menyebut adik ayahnya.

“Orang di foto ini memang ayah. Ini foto pernikahan ayah dengan Winda, istri pertamanya. Putri dari kakek-nenek pemilik rumah ini.” Rosita terus membalik album hingga foto terakhir. Nailah tampak terkejut.

“Tapi sayang, Winda meninggal ketika melahirkan anak pertama mereka.” Suaranya tercekat di tenggorokan, matanya mulai panas memerah.

“Winda melahirkan bayi perempuan yang cantik.” Diusapnya foto terakhir, gambar bayi mungil terbungkus selimut merah muda.

“Bayi ini adalah kamu, Nailah.” Nailah tampak sangat terkejut antara percaya dan tidak.

“Bunda bercanda yah?” Nailah mencoba tersenyum, tapi sorot mata wanita di depannya tampak serius. Nailah berdiri. Bibirnya gemetar, lidahnya kelu.

“Jadi… Aku bukan anak bunda? Ibuku sudah meninggal?” Suara dengan intonasi tinggi tercekat di tenggorokan. Bulir-bulir bening deras membasahi pipinya yang kemerahan. Fauzan masuk, merengkuh pundak putrinya.

“Maafkan kami baru memberitahumu, bunda cemas nanti Nailah sedih dan benci sama bunda. Percayalah kami sangat menyayangimu, Nak.” Nailah bersandar di dada ayahnya dengan isak tertahan. Rosita menghapus genangan air di pipi Nailah dan memeluknya.

Baca Juga:  Bahasa Indonesia Faktor Kunci Membangun Integrasi Sosial

“Ibu yang melahirkanmu memang sudah tiada, tapi bunda akan selalu ada untukmu. Percayalah, bunda sangat menyayangimu, Nak.” Bisik Rosita pelan. Air matanya membasahi kerudung Nailah.

*****

Rahasia yang tersimpan rapat lebih dari sepuluh tahun itu sudah terbongkar. Semuanya lega. Terlebih orangtua Winda, mereka sangat bersyukur cucu mereka mendapat limpahan kasih ibu yang tulus. Beberapa kali mereka meminta supaya mereka saja yang mengasuh Nailah kecil karena ragu terhadap Rosita yang masih muda dan belum pengalaman mengurus anak, tapi Fauzan meyakinkan bahwa Rosita adalah wanita baik dan rela berkorban meninggalkan karir yang baru dirintisnya demi mengasuh anaknya.

Akhirnya Nailah menyadari memiliki ibu tiri bukanlah sesuatu yang menakutkan. Dia sangat beruntung memiliki keluarga yang utuh.
Melewati masa 10 tahun mengasuh Nailah, Rosita sadar bahwa menjadi ibu tidak mesti anak lahir dari rahimmu sendiri tapi mungkin Allah titip anak-anak kita di rahim wanita lain untuk selanjutnya pengasuhannya diserahkan kepada kita. Seperti skenario Allah untuk Rosita dan Nailah.

TAMAT

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]

Loading...

Terpopuler