Connect with us

Mancanegara

Rusia Dukung Pengayaan Uranium Iran Untuk Kebutuhan Ekspor

Published

on

Rusia dukung pengayaan uranium

Rusia dukung pengayaan uranium Iran. Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Iran Hassan Rouhani tampak bersalaman dengan hangat/Foto: Asianews

NUSANTARANEWS.CO – Rusia dukung pengayaan uranium Iran untuk kebutuhan ekspor. Kementerian luar negeri Rusia pada akhir bulan lalu mengatakan bahwa pihak-pihak yang terlibat dalam JCPOA atau kesepakatan nuklir Iran 2015, saat ini sedang mencari cara bagaimana agar Teheran dapat terus berlanjut mengekspor uranium yang diperkaya dan air berat yang belakangan menjadi objek sasaran sanksi Amerika Serikat (AS).

Rusia juga mencatat bahwa pihak-pihak yang tersisa dalam Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) -Rusia, Cina, Inggris, Prancis dan Jerman – telah menekankan pentingnya mendukung kegiatan nuklir Iran sebagai bagian dari komitmen JCPOA, khususnya di bidang produksi dan ekspor uranium yang diperkaya  dan air berat, dalam sebuah pernyataan yang disampaikan sehari setelah perundingan antara Iran dan negara Grup 4 + 1 (Rusia, Cina, Inggris, Prancis, dan Jerman) di Wina pada Jumat (28/6) untuk membahas cara-cara menyelamatkan JCPOA.

Menyikapi keputusan penandatangan JCPOA tersisa tersebut, Menteri Luar Negeri Mike Pompeo mengatakan bahwa AS akan segera menjatuhkan sanksi terhadap Iran atas ekspor uranium yang diperkaya yang tidak dilarang berdasarkan kesepakatan nuklir Iran 2015, namun ditolak oleh Presiden Donald Trump.

Berdasar kesepakatan nuklir tahun 2015, yang dirundingkan semasa pemerintahan Presiden Barack Obama dan masih didukung negara-negara kuat Eropa, Iran dibatasi untuk mempertahankan 300 kilogram uranium yang diperkaya hingga 3,67 persen – jauh di bawah level yang dibutuhkan untuk membuat senjata nuklir.

Sebagai bagian dari kesepakatan itu, Iran akan menjual uranium yang diperkaya di atas ambang batas itu di pasar internasional dengan imbalan uranium alami, terutama dengan Rusia sebagai pemain kunci.

Baca Juga:  Bicara Fakta dan Solusi, Pidato Prabowo di Singapura Pukau Peserta The World in 2019 Gala Dinner

Tetapi dengan perubahan kebijakan, Pompeo mengatakan hari Jumat (3/5),  sebagaimana dilansir VOA, AS akan mulai menjatuhkan sanksi kepada siapa saja yang terlibat perdagangan uranium yang diperkaya – serta air berat yang melebihi batas yang disimpan Iran. Pada saat sama, Amerika mengeluarkan pengecualian baru tiga bulan untuk memungkinkan kelanjutan bagian utama kesepakatan nuklir itu.

Rusia sendiri mengharapkan tingkat pengayaan uranium baru Iran tidak akan lebih tinggi dari 5%, Perwakilan Tetap Rusia untuk Organisasi Internasional di Wina Mikhail Ulyanov mengatakan pada hari Minggu (7/7), sebagaimana dikutip Tass.

“Iran telah meningkatkan tingkat pengayaan uranium. Badan Energi Atom Internasional (IAEA) akan membutuhkan waktu untuk mengkonfirmasi dan mengukur tingkat baru ini. Saya berharap ini tidak akan di atas 5%, bukannya 3,67% di bawah Joint Comprehensive Plan of Action, “tulis Ulyanov di akun Twitter-nya.

Menurut diplomat itu, tidak ada ancaman proliferasi nuklir. “Itu hanya sinyal lain bahwa Teheran mengharapkan keseimbangan JCPOA akan dipulihkan,” katanya.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran dan sekaligus kepala negosiator nuklir Abbas Araghchi mengumumkan bahwa mulai 7 Juli Teheran beralih ke tahap kedua untuk mengurangi komitmennya di bawah JCPOA dan mulai memperkaya uranium di luar level 3,67%. Sambil menambahkan bahwa Teheran juga berencana untuk meningkatkan tingkat pengayaan hingga 5%, di atas tingkat yang ditetapkan oleh JCPOA, dalam rangka membangun unit daya untuk pembangkit listrik Bushehr. Diplomat senior itu mengatakan Iran akan terus mengurangi komitmennya berdasarkan kesepakatan nuklir setiap 60 hari sampai kesepakatan dicapai.

Sebagaimana kesepakatan, Iran telah berjanji tidak akan memperkaya uranium di atas tingkat 3,67% selama 15 tahun dan mempertahankan cadangan uranium yang diperkaya pada tingkat tidak melebihi 300 kg, serta tidak membangun reaktor air berat baru, tidak menumpuk air berat dan tidak mengembangkan senjata nuklir. (Agus Setiawan)

Baca Juga:  Asmin Laura Hafid Optimis Dapat Dukungan Penuh Dari NasDem di Pilkada 2020

Terpopuler