Rusia Dorong BRICS Ciptakan Mata Uang Cadangan Internasional

Rusia dorong BRICS ciptakan mata uang cadangan internasional
Rusia dorong BRICS ciptakan mata uang cadangan internasional/Foto: Presiden Rusia Vladimir Putin/Tass

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Menyusul operasi militer Rusia di Ukraina dan penerapan sanksi negara-negara Barat terhadap Rusia – justeru menjadi fenomena menarik dalam mempercepat runtuhnya hegemoni Pax Americana yang telah berlangsung sejak berakhirnya Perang Dunia II.

Salah satu fenomena menarik tersebut seperti yang dilaporkan Bloomberg adalah terjadinya peningkatan perdagangan yuan Cina dan rubel Rusia lebih dari 1.000%. Tepatnya naik menjadi 1067 persen dalam volume perdagangan bulanan sejak akhir Februari lalu

Rusia mengharapkan perdagangan dengan Cina dapat mencapai US$200 miliar pada tahun 2024 – lebih besar dari kenaikan tahun lalu yang mencapai sekitar US$150 miliar.

Penerapan sanksi Amerika Serikat (AS) dan Barat terhadap Rusia ternyata malah berakibat terpuruknya nilai dolar dan mendorong banyak negara mulai meninggalkan dolar sebagai mata uang utama cadangan devisanya.

TIdak hanya itu, pada 22 Juni, Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan bahwa BRICS (Brasil, Rusia, India, Cina, Afrika Selatan) sedang bersiap untuk membuat mata uang cadangan internasional.

Putin mengatakan bahwa, “Sistem Pesan Keuangan Rusia terbuka untuk koneksi dengan bank-bank di negara-negara BRICS… Kami sedang menjajaki kemungkinan menciptakan mata uang cadangan internasional berdasarkan mata uang BRICS,” katanya melalui video conference dalam forum BRICS.

Putin juga menambahkan bahwa, “Barat telah mengabaikan prinsip-prinsip dasar ekonomi pasar, perdagangan bebas, serta kepemilikan pribadi yang tidak dapat diganggu gugat,” tambah Putin.

Sejauh ini, Rusia mulai mengalihkan ekspor produk hidrokarbonnya dari negara-negara Eropa ke Asia, terutama Cina dan India dan meminimalisir kerugian yang disebabkan oleh sanksi Barat. Apalagi Cina dan India telah menunjukkan minat untuk meningkatkan jumlah pembeliannya.

Sementara OPEC sendiri memperkirakan bahwa pada tahun 2030 seperempat pasar minyak dunia adalah untuk Cina dan India. Jadi secara paralel transaksi komoditas Rusia dengan Cina dan India bisa mencapai US$ 200 miliar pada akhir tahun ini.

Akankah BRICS menjadi salah satu pelopor dedolarisasi? Paling tidak, dengan kekuatan yang dimiliki saat ini, BRICS dapat menjadi kanal alternatif bagi kepentingan mereka sendiri dalam situasi perdagangan global yang masih dikendalikan Pax Americana. (Agus Setiawan)